Berbeda dari tren lagu bertema percintaan ringan yang tengah ramai di industri musik, Sembilan Tera memilih menghadirkan cerita tentang rasa kehilangan, kehampaan, hingga tekanan batin yang kerap disembunyikan di balik senyum. Mereka mencoba menyampaikan pesan bahwa tidak semua orang benar-benar baik-baik saja meski tampak tenang dari luar.
Sembilan Tera terdiri dari enam personel, yaitu Arie Axara sebagai drummer sekaligus penulis lagu, Aditya pada gitar, Ricky sebagai bassist, Eza di posisi vokalis, Angga memainkan trombone, dan Taufik pada keyboard. Sebelum membentuk band ini, para personel diketahui aktif tampil di berbagai panggung kafe di Bandung.
Melalui mini album Sementara Itu, mereka mulai membangun identitas musik yang lebih personal. Album tersebut berisi lima lagu berjudul "Luruh", "Pergi", "Akhir Cerita", "Jujur Pada Luka", dan "Sementara Itu". Seluruh lagu ditulis langsung oleh Arie Axara dengan benang merah tentang fase hidup yang penuh ketidakpastian.
Baca Juga :
The Jansen Akhirnya Bikin Lagu Cinta
Arie mengungkapkan bahwa proses penulisan lagu banyak terinspirasi dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, banyak orang terlihat bahagia di luar, tetapi sebenarnya menyimpan rasa lelah yang sulit diungkapkan kepada siapa pun.
“Kami tidak ingin membuat lagu yang sekadar enak didengar. Kami ingin membuat lagu yang bisa menemani orang-orang ketika sedang merasa paling sendiri,” ujar Arie Axara.

Nuansa emosional sengaja dijadikan identitas utama dalam mini album ini. Sembilan Tera memilih menghadirkan lirik yang jujur dengan aransemen musik yang sederhana namun terasa dekat dengan suasana hati pendengar. Mereka tidak berusaha tampil sempurna dan justru ingin menunjukkan sisi rapuh yang sering dihindari banyak orang.
“Kadang orang terlalu sibuk terlihat kuat sampai lupa jujur dengan dirinya sendiri. Lewat Sementara Itu, kami cuma ingin bilang bahwa merasa hancur itu manusiawi,” lanjut Arie Axara.
Melalui mini album Sementara Itu, Sembilan Tera juga ingin menghadirkan ruang aman bagi siapa saja yang sedang berjuang menghadapi luka batin dan tekanan hidup. Mereka percaya musik mampu menjadi tempat untuk mengakui rasa sakit tanpa harus berpura-pura kuat di depan orang lain.
“Kalau nantinya ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah mendengar lagu-lagu kami, itu sudah lebih dari cukup,” tutup Arie Axara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News