The Jansen (Foto: dok. The Jansen)
The Jansen (Foto: dok. The Jansen)

The Jansen Akhirnya Bikin Lagu Cinta

Basuki Rachmat • 30 April 2026 18:13
Ringkasnya gini..
  • The Jansen rilis single baru bertema cinta untuk pertama kalinya, jadi pembuka album Romantisasi Impulsif yang menutup trilogi mereka.
  • Lewat lagu wo ai ni, The Jansen angkat kisah cinta di tengah keterbatasan dengan gaya khas yang gelap, jujur, dan ironis.
  • Eksplorasi baru The Jansen tuai perhatian, dari musik hingga visual video lirik bernuansa Hong Kong 90-an jelang album terbaru.
Jakarta: Unit punk-rock asal Bogor, The Jansen, kembali menyapa penikmat musik Tanah Air lewat single terbaru bertajuk "bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)". Lagu ini dirilis bersamaan dengan video lirik sebagai gerbang menuju album keempat mereka, Romantisasi Impulsif, yang sekaligus menjadi penutup trilogi setelah Banal Semakin Binal (2022) dan Durja Bersahaja (2024).
 
Karya ini menandai kelanjutan perjalanan musikal The Jansen yang sebelumnya telah melahirkan sejumlah rilisan seperti EP From Bogor to Japan (2016), album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), hingga Banal Semakin Binal (2022) yang memperluas jangkauan pendengar mereka.
 
Pada 2024, duo yang kini digawangi Cinta Rama Bani Satria (Bani) dan Adji Pamungkas itu sempat menghadirkan pendekatan berbeda melalui Durja Bersahaja dengan nuansa lo-fi, vokal yang sengaja “ditenggelamkan”, serta balutan reverb yang cukup mengejutkan.

Lewat single terbaru ini, The Jansen membuka babak baru dalam eksplorasi musikal mereka. Untuk pertama kalinya, mereka secara sadar menulis lagu cinta.
 
"Ini pertama kali The Jansen dengan sengaja membikin lagu cinta," ujar Adji dalam siaran pers yang diterima Medcom.id pada Rabu, 29 April 2026.
Selama ini, The Jansen lebih dikenal dengan pesta anak muda, sindiran sosial, kegelisahan eksistensial, atau romantisme yang dibungkus kepahitan. Tapi kali ini, mereka terang-terangan menulis tentang jatuh cinta, kerentanan, dan kontradiksi perasaan, lengkap dengan embel-embel wo ai ni (aku cinta padamu dalam bahasa Mandarin) yang terasa manis sekaligus ironis.
 
Menurut Adji, cinta sering kali mendorong seseorang melakukan hal-hal di luar nalar. Ia mencontohkan bagaimana seseorang rela meminjam motor demi mengajak pasangannya berkencan, sebuah potret sederhana tentang bagaimana cinta bekerja di tengah keterbatasan.
 
The Jansen menangkap fenomena ini dengan cerdik dan menuangkannya dalam bentuk lagu.
 
“Meski ini pengalaman pertama bikin lagu cinta, tapi kami mau ngasih perspektif yang berbeda. Bagaimana cara cinta bekerja di tengah kemiskinan yang mengintai?” ungkap Adji.
 
Lebih dari sekadar lagu cinta, "bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)" tetap mempertahankan identitas khas The Jansen: gelap, ironis, namun jujur dan rapuh. Pengulangan frasa “wo ai ni” terdengar seperti mantra, bukan hanya untuk meyakinkan pasangan, tetapi juga diri sendiri.
 
"Kami senang memulai dari sesuatu yang belum kami tahu akan ke mana," beber Bani.
 
Tak hanya soal audio, The Jansen juga memanjakan mata pendengarnya lewat video lirik dengan visual ala film Hong Kong dekade 90-an. Video ini ditampilkan dalam tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Inggris, dan Mandarin, menambah kesan estetik yang kuat.
Album Romantisasi Impulsif dijadwalkan rilis di seluruh platform musik digital pada 22 Juli 2026 mendatang. Untuk format rilisan fisik, The Jansen bekerja sama dengan P-Vine Records asal Jepang yang akan merilis CD dan vinyl, serta Miles Records dari Malaysia untuk edisi kaset.
 
Dengan single pembuka yang berani dan konsep album yang menutup trilogi, The Jansen kembali menegaskan bahwa mereka tak pernah berhenti bereksperimen. Kini, publik pun menanti: apakah Romantisasi Impulsif akan menjadi penutup yang manis, atau justru awal dari fase baru dalam perjalanan mereka?
 

 

 

 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA