Salah satu momen yang paling sering dibicarakan penggemar adalah ketika 510 membawakan lagu "Esa" milik mereka dan lagu "Perih" milik Vierratale dalam format mash-up akustik. Meski kedua lagu tersebut dirilis dalam rentang waktu yang cukup jauh, hasil perpaduannya justru terdengar sangat menyatu dan nyaman di telinga.
Seiring waktu, mash-up tersebut semakin sering dibawakan di atas panggung. Hingga pada suatu kesempatan, 510 dan Vierratale tampil dalam festival musik yang sama. Momen itu menjadi titik awal kolaborasi yang lebih serius.
Dalam kesempatan tersebut, Ical sebagai vokalis 510 dan Widi akhirnya membawakan mash-up tersebut secara langsung di atas panggung. Kehadiran Widi yang menyanyikan bagian aslinya dari lagu "Perih" langsung mendapat sambutan antusias dari penonton.
Respons positif tersebut membuat keduanya mulai membicarakan kemungkinan menggarap mash-up itu menjadi proyek resmi. Setelah turun panggung, obrolan ringan berkembang menjadi diskusi serius untuk mewujudkan kolaborasi tersebut dalam bentuk rilisan musik.

Dari gimmick panggung, lahirlah proyek kolaborasi nyata antara 510 dan Vierratale. Setelah melalui berbagai proses diskusi dan pematangan konsep, keduanya sepakat merilis lagu dengan judul "Esa x Perih".
Judul tersebut dipilih untuk tetap mempertahankan identitas dari dua lagu yang sudah lebih dulu dikenal oleh pendengar masing-masing. Dengan begitu, unsur nostalgia dan kedekatan emosional dari lagu asli tetap terasa kuat.
Meski jarak menjadi tantangan dalam proses produksi, hal itu tidak menghambat keduanya untuk menyelesaikan proyek ini. Selama kurang lebih tiga bulan, mereka menjalani proses kreatif mulai dari brainstorming, pembagian part musik, hingga penyusunan aransemen akhir.
Hasilnya, Esa x Perih resmi dirilis pada 23 April 2026 dan langsung mendapat sambutan besar dari pendengar. Bahkan, belum genap 24 jam setelah dirilis, lagu ini telah diputar sebanyak 114.000 kali di platform YouTube Music.
"Kolaborasi ini juga memiliki tujuan sederhana namun kuat, yaitu membangkitkan inner child para pendengar yang lebih dulu mengenal lagu Perih sejak dirilis pada 2009, sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru yang lebih akrab dengan karya-karya 510," kata Ical.
Perpaduan dua lagu dengan karakter berbeda ini justru menghasilkan akulturasi musik yang menarik. Lagu "Perih" yang sebelumnya dikenal manis dan mendayu kini terasa lebih kuat, sementara lagu "Esa" yang dikenal tegas dan maskulin berubah menjadi lebih hangat tanpa kehilangan karakternya.
"Kami ingin membuktikan bahwa musik tidak pernah dibatasi oleh generasi, ruang, maupun waktu. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa karya lama dan baru bisa bertemu dalam harmoni yang kuat dan relevan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News