BATARA Padukan Pop Batak dan Hipdut di Single Debut (Foto: instagram)
BATARA Padukan Pop Batak dan Hipdut di Single Debut (Foto: instagram)

BATARA Padukan Pop Batak dan Hipdut di Single Debut

Elang Riki Yanuar • 18 September 2026 20:34
Ringkasnya gini..
  • BATARA debut lewat Horas Ma Ito yang memadukan musik Batak, taganing, dan hipdut untuk menjangkau pendengar muda.
  • Horas Ma Ito mengangkat realitas sinamot sebagai perjuangan pemuda Batak menuju pernikahan dengan kemasan musik yang ceria.
  • BATARA ingin membawa musik Batak ke skala nasional melalui lagu yang memadukan bahasa Indonesia, Batak, Inggris, dan warna hipdut.
Jakarta: Grup musik BATARA resmi mengawali langkah mereka lewat single debut bertajuk "Horas Ma Ito". Membawa warna musik Batak ke dalam kemasan yang lebih modern, BATARA memadukan unsur tradisional dengan sentuhan hipdut atau Hip Hop Dangdut.

"Horas Ma Ito" menjadi langkah awal BATARA untuk memperkenalkan musik yang berakar dari budaya Batak kepada pendengar yang lebih luas. Lagu tersebut tidak hanya mengandalkan karakter vokal para personelnya, tetapi juga menghadirkan instrumen tradisional dan perpaduan bahasa dalam lirik.

Salah satu unsur yang membuat single debut BATARA berbeda adalah penggunaan taganing. Instrumen tradisional Batak tersebut dipadukan dengan irama kopdut yang menjadi bagian dari pendekatan hipdut mereka.

Perpaduan tersebut membuat “Horas Ma Ito” memiliki warna yang dekat dengan musik populer masa kini, tetapi tetap mempertahankan identitas Batak. BATARA juga menggunakan tiga bahasa dalam liriknya, yakni Indonesia, Batak, dan Inggris.

"Horas Ma Ito” mengangkat persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Batak, terutama terkait sinamot atau mahar pernikahan. Tema tersebut dipilih karena menjadi salah satu persoalan yang kerap dihadapi pemuda Batak ketika ingin menikah.
 
Zul, salah satu vokalis BATARA, mengatakan bahwa tema tersebut sengaja diangkat berdasarkan realitas yang mereka lihat di tengah masyarakat. Menurut dia, persoalan sinamot bahkan kerap dikaitkan dengan alasan sebagian pemuda Batak membutuhkan waktu lebih panjang untuk menikah.

“Memang kita angkat lagu ini sesuai realita yang ada. Sering viral soal kenapa orang Batak itu terkenal lama menikah. Karena memang sinamot ini menjadi beban dan perjuangan besar buat doli-doli Batak,” tutur Zul di Jakarta Selatan. 

Mereka coba mengemas pesan tentang perjuangan mengumpulkan sinamot melalui musik yang enerjik agar pendengar dapat menikmati lagunya tanpa merasa digurui.

Beatrix Tampubolon menjelaskan, pemilihan warna hipdut juga berkaitan dengan upaya BATARA menjangkau pendengar muda. Menurut dia, karakter musik yang mudah didengar diharapkan dapat membuat lagu tersebut lebih dekat dengan Gen Z dan Gen Alpha.

“Kita menyemangatinya lewat lagu yang happy, supaya enggak jadi beban saat mengumpulkan mahar. Aransemennya kita buat easy listening dengan irama kopdut karena tren musik sekarang arahnya ke sana, biar bisa masuk ke Gen Z dan Gen Alpha,” jelas Beatrix.

Penggarapan “Horas Ma Ito” dilakukan secara kolektif oleh para personel bersama tim manajemen dan pembina. Proses tersebut diarahkan untuk menghasilkan lagu yang tetap membawa unsur budaya Batak, tetapi memiliki pendekatan yang relevan dengan perkembangan musik populer.

Kehadiran BATARA sendiri bermula dari sebuah proyek yang tidak direncanakan sebagai grup musik permanen. Robinson Tampubolon dan Lonata Simanjuntak menjadi dua sosok yang berperan sebagai eksekutif produser sekaligus pembina dalam perjalanan awal grup tersebut.

Robinson mengungkapkan, ide membentuk grup bermula ketika dirinya diminta membuat sebuah band untuk mengisi acara gereja pada akhir 2025. Dari kebutuhan tersebut, dia kemudian mengumpulkan sejumlah personel yang dianggap sesuai.
 


“Awalnya saya comot-comot personel dan kalau ditanya band apa, saya jawab ‘Rojali’ alias rombongan jadi sekali,” seloroh Robinson. 

Setelah tampil di sejumlah panggung, potensi para personel mulai terlihat. BATARA kemudian mendapat kesempatan tampil di berbagai acara, termasuk Pekan Raya Sumatera Utara dan perayaan HUT Kabupaten Toba.

Pengalaman tampil bersama membuat Robinson melihat adanya kecocokan di antara para personel. Dari situlah grup tersebut kemudian berkembang dan resmi menggunakan nama BATARA, yang terinspirasi dari nama putra Robinson, Fahmi Batara Sakti.

“Kami ingin menciptakan band Batak yang lagunya bisa dinikmati semua kalangan umur. Bukan sekadar lagu daerah, tapi lagu yang dinyanyikan orang Batak yang bisa menembus skala nasional,” ungkap Lonata.








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA