mpq (Foto:Medcom/Basuki)
mpq (Foto:Medcom/Basuki)

mpq Rangkai Cerita Kekalahan dan Harapan di Album Dignified Losers

Basuki Rachmat • 23 Oktober 2026 12:43
Ringkasnya gini..
  • Band alternatif mpq resmi merilis album penuh kedua bertajuk Dignified Losers pada 23 Oktober 2026 yang berisi sembilan lagu.
  • Berbeda dari album debutnya, seluruh trek dalam Dignified Losers menggunakan bahasa Inggris yang terkurasi secara organik sesuai tema dan benang merah musik.
  • Mengusung konsep visual yang sinematik, mpq kembali menggandeng Fahreza Aditya dengan menggunakan subjek kurir bunga sebagai simbol pembawa pesan perasaan.
Jakarta: Band alternatif asal Jakarta, mpq, yang sebelumnya dikenal dengan nama Mafia Pemantik Qalbu, kembali meramaikan skena musik Tanah Air melalui album penuh kedua bertajuk Dignified Losers. Berisi sembilan trek, album ini merangkum berbagai upaya manusia dalam mencari secercah kemenangan di tengah situasi yang lebih sering diwarnai kekalahan.

Melalui Dignified Losers, mpq mengangkat beragam tema, mulai dari cinta, ketidakpastian, hingga duka. Seluruh lagu dalam album ini memiliki benang merah tentang bagaimana harapan, sekecil apa pun, dapat menjadi alasan untuk terus melangkah di tengah berbagai kemungkinan buruk yang menghadang.

Album yang digarap oleh Abram Dionisius (gitar), Alit Djarot (vokal), Daniel Hasudungan (gitar), Rakaputra (bass), dan Rakha Suryandaru (drum) ini dijadwalkan rilis di berbagai platform musik digital pada 23 Oktober 2026.

Sebelum dirilis secara penuh, Medcom.id berkesempatan mendengarkan materi Dignified Losers dalam sesi hearing session yang digelar mpq di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Usai sesi tersebut, drummer Rakha Suryandaru mengungkapkan bahwa konsep Dignified Losers tidak dirancang sejak awal proses kreatif. Menurutnya, gagasan utama album justru terbentuk secara organik setelah mereka mengumpulkan dan mengkurasi sejumlah lagu yang telah dikerjakan selama beberapa tahun.

"Tema Dignified Losers ini enggak pernah kami maksudkan dari awal. Jadi kalau tadi dibilang kita mulai proses lagu ini di 2025, seingat saya sih demo pertamanya itu di 2023-2024. Dan kita memang ada sembilan lagu yang sudah kita kurasi dari belasan lagu," ungkap Rakha.

Ia menjelaskan bahwa proses penciptaan lagu mpq biasanya dimulai dari gagasan musikal, sebelum kemudian berkembang menjadi lirik dan tema yang lebih utuh. Hal serupa terjadi ketika mereka menyusun sembilan lagu untuk album terbaru ini.

"Cuman memang kalau sepengalaman saya di mpq, penentuan tema lagu, khususnya lirik, itu terjadinya organik banget, ngikutin sama apa yang jadi ide musiknya dulu. Jadi pada saat kita udah mulai jadiin sembilan lagu yang terkurasi, tanpa sadar kita ngerasa, 'Oh ini sebenarnya kalau ditarik temanya, kurang lebih A nih.' Jadi ada benang merah tertentu di mana kita bisa menyisipkan pesan itu. Akhirnya mulailah tercetus kata ini," tuturnya.
 

Alasan mpq Merilis Album Dignified Losers dalam Bahasa Inggris


Sejak merilis album debut Di Dalam Rebahan pada 2019, mpq dikenal mengeksplorasi bahasa Indonesia dan Inggris dalam karya-karyanya. Namun, kesembilan lagu dalam Dignified Losers kali ini seluruhnya menggunakan bahasa Inggris.

Bassis Rakaputra menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan berasal dari keinginan untuk secara khusus membuat album berbahasa Inggris. Menurutnya, pemilihan bahasa terjadi berdasarkan proses kurasi dan keterkaitan antarlagu yang akhirnya membentuk satu kesatuan album.

"Terkait bahasa, kenapa bahasa Inggris semua di album ini? Kebetulan pada prosesnya kita ada yang bahasa Indonesia, ada yang bahasa Inggris juga. Tapi yang nyambung untuk dirangkai ke satu album ini, kebetulan yang bahasa Inggris yang terkurasi," ujar Rakaputra.

Ia menegaskan bahwa lagu-lagu berbahasa Indonesia yang tidak masuk dalam album ini tetap disimpan dan berpeluang dirilis pada kesempatan berikutnya, ketika tema serta suasananya dirasa sesuai.

"Jadi yang bahasa Indonesia itu bukan dibuang, tapi kita arsipkan, siapa tahu nanti bisa dirilis di kemudian hari ketika temanya udah kumpul dan nyambung dengan zamannya. Tapi kalau untuk di album yang ini, kenapa bahasa Inggris, ya karena terkumpulnya dan benang merahnya nyambung di situ," lanjutnya.

Sementara itu, vokalis Alit Djarot menilai penggunaan bahasa Indonesia maupun Inggris memiliki tantangan tersendiri. Baginya, pemilihan bahasa perlu mempertimbangkan karakter musik dan tema yang ingin disampaikan melalui lagu.

"Kalau bahasa Indonesia atau Inggris, karena estetikanya emang berbeda, jadi emang gue dan Daniel cara berpikirnya emang udah di-shift juga. Kalau masalah kesulitan, dua-duanya punya kesulitan, ada mudahnya juga. Jadi cuma pinter-pinteran kami gimana bisa masuk dengan si musiknya, terus fit dengan temanya," tutur Alit.
   

Artwork Dignified Losers Angkat Bunga sebagai Simbol Perasaan

 
1000169819


Selain pendekatan musikal dan lirik, mpq juga mempertahankan karakter visual yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas mereka. Band ini dikenal konsisten menggunakan medium fotografi untuk artwork rilisan mereka, alih-alih mengandalkan ilustrasi visual.

Pendekatan tersebut telah diterapkan sejak album debut Di Dalam Rebahan pada 2019, yang masuk nominasi kategori Artwork Album Terbaik Indonesia di ajang AMI Awards 2019.

Rakha menjelaskan, konsistensi visual tersebut tidak lepas dari kontribusi kolaborator lama mereka, Fahreza Aditya. Fareza, yang pernah satu kampus dengan para personel mpq di jurusan Arsitektur, telah terlibat dalam pengembangan visual band sejak awal perjalanan mereka.

"Sebenarnya untuk artwork, credits to kolaborator lama kami, Fahreza Aditya. Dia satu kampus sama kami jurusan Arsitektur. Emang dari awal, semenjak kita masih bertiga, selalu dia tuh yang gemas masalah visual kayak, 'Gimana gue bisa bantu?' dan lain-lain," ungkap Rakha.

Menurut Rakha, fotografi menjadi medium yang tepat untuk menerjemahkan karakter musik mpq yang cenderung sinematik. Pendekatan tersebut memungkinkan mereka menghadirkan visual yang memiliki keterkaitan dengan suasana dan emosi dalam lagu.

"Untuk perkara kenapa kita konsisten di medium fotografi, karena dari kami sih mungkin ngerasanya, dan dari input pendengar-pendengar juga, lagu kita tuh lumayan sinematik. Jadi kayaknya do the justice kalau misalkan kita pakai medium fotografi," lanjutnya.

Khusus untuk Dignified Losers, proses pencarian konsep artwork berlangsung cukup panjang. Dengan judul album yang sudah ditetapkan, mpq bersama Fahreza kemudian berupaya menemukan subjek visual yang mampu merepresentasikan gagasan tentang kekalahan yang tetap dijalani dengan martabat.

Dari proses diskusi tersebut, muncul ide untuk menghadirkan sosok kurir bunga sebagai representasi messenger of feelings atau pembawa pesan perasaan. Bunga dipilih karena sebelumnya telah digunakan sebagai simbol emosi dalam rangkaian artwork single yang dirilis menjelang album ini.

"Nah, khusus untuk si Dignified Losers ini, proses diskusinya cukup panjang sih. Kita coba cari karena judulnya udah Dignified Losers ya, jadi kita udah mempersempit areanya. 'Oke, ke subjek deh'. Kita mesti cari subjek yang kurang lebih bisa mewakilkan si Dignified Loser ini. Dan setelah diolah, setelah kami coba diskusikan dengan Fareza Aditya, dia sebenarnya yang beride kayak, 'Kayaknya kalau misalkan subjeknya dijadiin kurir bunga lucu kali ya. Dia sebagai messenger of feelings'," paparnya.

Rakha menyambut gagasan tersebut karena bunga telah menjadi elemen visual yang menghubungkan beberapa rilisan mereka sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa setiap artwork memiliki cara berbeda dalam menggambarkan perasaan, mulai dari kerentanan hingga harapan yang perlahan memudar.

Pada artwork single "Not for Anyone Else", misalnya, bunga yang ditopang dudukan besi menggambarkan kerapuhan yang bergantung pada dukungan eksternal. Sementara itu, artwork "Someplace Sometime Somehow" menghadirkan bunga dengan pendekatan visual yang lebih putus asa.

Adapun artwork "Goodbye Everest" menggambarkan bunga sebagai simbol harapan yang menghilang. Ketiga pendekatan tersebut kemudian menjadi landasan untuk menyatukan kembali simbol bunga dalam artwork album Dignified Losers.

"Waktu itu saya sambut dengan baik juga, 'Oh kayaknya lucu juga kalau misalkan dari single pertamanya udah konsisten juga pakai bunga sebagai simbol feelings-nya'. Di artwork 'Not for Anyone Else', itu kan kayak bunga ditopang sama stand besi gitu ya. Itu nunjukin fragility yang ditopang sama faktor dari luar, faktor artifisial. Terus yang kedua, 'Someplace Sometime Somehow' itu cara mendokumentasikan bunga in a way yang desperate gitu. Terus di artwork ketiga, 'Goodbye Everest', bunganya digambarkan sebagai harapan yang hilang. Nah, jadi sebenarnya dari situ kayak, cocok nih untuk artwork-nya, bunga-bunga itu kita satukan lagi di dalam satu subjek," tutup Rakha.

Melalui Dignified Losers, mpq tidak hanya merangkai sembilan lagu dalam satu kesatuan musikal, tetapi juga membangun konsep yang saling terhubung melalui lirik, musik, dan visual. Album ini menjadi kelanjutan eksplorasi mereka dalam menerjemahkan berbagai bentuk kekalahan, sekaligus upaya menemukan makna dan harapan di baliknya.


 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA