Lagu yang ditulis, direkam, diaransemen, dinyanyikan, diproduseri, hingga melalui proses mixing dan mastering sepenuhnya oleh Reza Ryan ini menjadi perkenalan pertama terhadap dunia musikal Kantusfirmus. Sebuah proyek yang lahir bukan sebagai pelarian dari perjalanan musik sebelumnya, melainkan sebagai ruang baru untuk mengeksplorasi kemungkinan lain dalam musik pop.
"Bintang Magnolia" menjadi titik temu antara sensibilitas pop dengan pendekatan komposisi yang selama ini membentuk perjalanan musikal Reza. Hasilnya adalah sebuah lagu yang memadukan melodi yang kuat dengan lanskap bunyi yang gelap, padat, dan penuh ketegangan.
"Saya selalu punya ketertarikan akan penggabungan formula-formula musik tertentu menjadi suatu formulasi baru sebagai satu tawaran estetika."
Ketertarikan itu sebenarnya bukan hal baru dalam perjalanan kreatif Reza. Saat mendirikan I Know You Well Miss Clara pada 2010 bersama rekan-rekannya di ISI Yogyakarta, ia mencoba mempertemukan disiplin musik klasik yang dipelajarinya di bangku kuliah dengan pengaruh jazz, progressive rock, dan musik eksperimental. Kini, pendekatan serupa diterapkan pada medium yang berbeda.
"Saat ini Kantusfirmus adalah kanal pikiran saya akan musik pop. Saya tidak memandang musik pop sebagai suatu formulasi musikal tertentu yang beku apalagi yang membatasi ruang gerak kreativitas. Dia sangat fluid dan elastis."
Menurut Reza, pop selalu memiliki kemampuan untuk bertransformasi mengikuti berbagai pendekatan musikal. Salah satu contohnya adalah avant-pop, sebuah praktik yang telah lama berkembang dalam musik Barat, meski belum banyak dikenal di Indonesia.
Identitas Baru yang Memotret Realitas Sosial
Nama Kantusfirmus sendiri diambil dari istilah Latin cantus firmus, yaitu sebuah melodi pokok yang pada era Medieval, Renaissance, hingga Baroque menjadi fondasi dalam penyusunan komposisi polifonik.Reza kemudian mengganti huruf "C" menjadi "K" sebagai identitas baru.
"Nama ini saya pilih sebagai suatu basis pikiran bahwa sekompleks apa pun bangunan musik dan instrumentasi, sepanjang ia mempunyai melodi, maka melodi adalah yang utama dan terutama."
Filosofi tersebut menjadi fondasi seluruh karya Kantusfirmus. Seberapapun rumit struktur musik yang dibangun, melodi tetap menjadi pusat gravitasi yang menyatukan semuanya.
Jika secara musikal Kantusfirmus berbicara tentang eksplorasi, maka secara tematik "Bintang Magnolia" justru berpijak pada realitas sosial yang dekat.
Lagu ini lahir dari kegelisahan Reza terhadap berbagai konflik yang melibatkan masyarakat sipil, komunitas adat, hingga kelompok buruh yang berhadapan dengan kekuasaan.
"Banyak peristiwa genting yang dialami sekelompok orang atau suatu entitas adat dalam posisinya sebagai warga negara melawan otoritas, sebagai buruh melawan pihak perusahaan yang dibekingi negara, atau sebagai sipil melawan ormas yang di belakangnya kita tahu ada aktor-aktor yang dekat dengan aparatus negara."
Kegelisahan tersebut berkembang menjadi refleksi yang lebih luas mengenai kondisi Indonesia hari ini.
"Saat ini keadaan negara kita sedang sangat tidak baik-baik saja. Perampasan lahan dan ruang hidup terjadi di mana-mana atas nama pembangunan, proyek strategis nasional, hingga alih fungsi lahan berkedok ketahanan pangan."
Bagi Reza, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan politik atau pembangunan, tetapi menyentuh prinsip yang lebih mendasar.
"Kemanusiaan itu di atas segalanya. Dalam konteks negara, hak asasi, keselamatan, dan martabat manusia harus menjadi prioritas utama."
Meski baru memperkenalkan single perdananya, Reza mengungkapkan bahwa Kantusfirmus tidak akan berhenti di "Bintang Magnolia". Ia telah merencanakan sebuah album penuh, meski belum menentukan kapan karya tersebut akan dirilis.
“Bintang Magnolia” bisa didengarkan di berbagai digital streaming platform.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda