Hal tersebut disampaikan oleh para personel The Panturas, yakni Gogon (bass), Ijal (gitar), Acin (vokal, gitar), dan Kuya (drum), dalam wawancara eksklusif bersama Medcom.id dalam rangka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
Bagi The Panturas, perbedaan bahasa bukan menjadi persoalan utama ketika tampil di luar negeri. Gogon menilai musik memiliki kemampuan untuk menjadi bahasa universal, termasuk ketika mereka membawakan lagu-lagu berbahasa Indonesia maupun Sunda.
Seperti diketahui, The Panturas memiliki sejumlah karya yang menggunakan bahasa Sunda, salah satunya melalui EP bertajuk Galura Tropikalia (2024) yang seluruh treknya dibawakan dalam bahasa Sunda.
Pandangan tersebut juga berkaca dari pengalaman The Panturas saat menjalani rangkaian Asia Tour pada Juli 2025. Dalam tur tersebut, mereka menyambangi sejumlah negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Taiwan, sebelum menutup perjalanan dengan tampil di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik paling berpengaruh di Asia yang digelar di Jepang.
Baca Juga :
Eksklusif: The Panturas Cerita Pengalaman Tampil di Fuji Rock hingga Rencana Album Ketiga
Menurut Gogon, tantangan terbesar ketika tampil di negara lain justru lebih berkaitan dengan kesiapan mental untuk menghadapi panggung dan penonton yang berbeda.
"Tantangannya ya kita kayak melawan diri sendiri aja, gimana caranya untuk nggak tegang. Karena kalau orang-orang bilang (tantangannya) itu bahasa, kalau buat gua pribadi sih musik udah jadi bahasa universal ya," ungkap Gogon.
Ia kemudian menceritakan pengalaman The Panturas saat tampil di Taiwan dan Jepang. Meski mayoritas penonton tidak memahami bahasa Indonesia maupun Melayu, respons mereka terhadap musik The Panturas tetap sangat positif.
"Alhamdulillah waktu kita main di Taiwan dan di Jepang yang penontonnya 100% tidak bisa bahasa Indonesia/Melayu yang mirip seperti di Malaysia dan Singapura gitu ya, tapi mereka tetep joget kok. Bahkan Bahasa Inggris mereka juga susah gitu. Kita mengandalkan resonansi aja karena musik adalah bahasa yang universal. Jadi menurut gua sih nggak ada tantangan (untuk di musik)," tuturnya.
Visa dan Paspor Sulit Terbit Jadi Kendala Utama
Namun, Gogon menilai ada persoalan lain yang justru menjadi tantangan besar bagi musisi Indonesia untuk bisa tampil di panggung internasional. Ia menyoroti persoalan visa dan kekuatan paspor Indonesia yang dinilainya masih menjadi hambatan bagi sejumlah musisi."Tantangannya cuma satu: karena tidak didukung oleh pemerintah! Visa sulit, paspornya lemah! Tantangan terbesar band Indonesia manggung di luar negeri adalah paspornya lemah. Bukan satu-dua-tiga band doang yang gagal ke luar negeri udah dapet undangan gara-gara visanya nggak keluar, gara-gara paspornya lemah. Sudah banyaklah," tegas Gogon.
Menurutnya, persoalan tersebut cukup disayangkan mengingat industri musik Asia saat ini tengah mendapatkan perhatian besar di kancah global. Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar agar musisi Indonesia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperkenalkan karya mereka di luar negeri.
"Jadi kalau ada nih orang-orang sono noh (pemerintah) yang nonton video ini, tolonglah support. Karena dari sisi musik tuh Asia itu lagi jadi fokusnya dunia dan Indonesia jadi salah satu bagian di dalamnya gitu," sentilnya.
Gogon juga menilai dukungan pemerintah tidak hanya dibutuhkan dalam urusan administrasi perjalanan, tetapi juga dari sisi pendanaan. Menurutnya, masih banyak band Indonesia yang memiliki potensi untuk menembus pasar internasional, tetapi kesempatan tersebut terhambat persoalan biaya dan vis
"Jadi kalau ada support-support yang bisa ngebantu sih would be bagus banget. Dan banyak banget band-band potensial di Indonesia gitu yang punya kesempatan tapi terbentur sama dua hal: yaitu keluarnya Visa sama nggak ada uangnya gitu," tutup Gogon.