The Panturas (Foto: Medcom/Rafi)
The Panturas (Foto: Medcom/Rafi)

Eksklusif: The Panturas Ungkap Tantangan Band Indonesia Tampil di Luar Negeri: Visa Sulit, Paspor Lemah!

Basuki Rachmat • 17 Agustus 2026 18:01
Ringkasnya gini..
  • The Panturas menilai kendala utama musisi Indonesia tampil di luar negeri bukan bahasa, melainkan visa, paspor, dan minimnya dukungan.
  • The Panturas menganggap musik sebagai bahasa universal setelah penonton Taiwan dan Jepang tetap antusias meski tak memahami bahasa Indonesia.
  • Gogon The Panturas meminta pemerintah memperkuat dukungan administrasi dan pendanaan agar musisi Indonesia lebih mudah menembus pasar internasional.
Jakarta: The Panturas mengungkap tantangan yang masih dihadapi oleh band dan musisi Indonesia ketika hendak tampil di luar negeri, mulai dari gigs, festival, hingga rangkaian tur internasional.

Hal tersebut disampaikan oleh para personel The Panturas, yakni Gogon (bass), Ijal (gitar), Acin (vokal, gitar), dan Kuya (drum), dalam wawancara eksklusif bersama Medcom.id dalam rangka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.

Bagi The Panturas, perbedaan bahasa bukan menjadi persoalan utama ketika tampil di luar negeri. Gogon menilai musik memiliki kemampuan untuk menjadi bahasa universal, termasuk ketika mereka membawakan lagu-lagu berbahasa Indonesia maupun Sunda.

Seperti diketahui, The Panturas memiliki sejumlah karya yang menggunakan bahasa Sunda, salah satunya melalui EP bertajuk Galura Tropikalia (2024) yang seluruh treknya dibawakan dalam bahasa Sunda.

Pandangan tersebut juga berkaca dari pengalaman The Panturas saat menjalani rangkaian Asia Tour pada Juli 2025. Dalam tur tersebut, mereka menyambangi sejumlah negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Taiwan, sebelum menutup perjalanan dengan tampil di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik paling berpengaruh di Asia yang digelar di Jepang.

Menurut Gogon, tantangan terbesar ketika tampil di negara lain justru lebih berkaitan dengan kesiapan mental untuk menghadapi panggung dan penonton yang berbeda.

"Tantangannya ya kita kayak melawan diri sendiri aja, gimana caranya untuk nggak tegang. Karena kalau orang-orang bilang (tantangannya) itu bahasa, kalau buat gua pribadi sih musik udah jadi bahasa universal ya," ungkap Gogon.

Ia kemudian menceritakan pengalaman The Panturas saat tampil di Taiwan dan Jepang. Meski mayoritas penonton tidak memahami bahasa Indonesia maupun Melayu, respons mereka terhadap musik The Panturas tetap sangat positif.

"Alhamdulillah waktu kita main di Taiwan dan di Jepang yang penontonnya 100% tidak bisa bahasa Indonesia/Melayu yang mirip seperti di Malaysia dan Singapura gitu ya, tapi mereka tetep joget kok. Bahkan Bahasa Inggris mereka juga susah gitu. Kita mengandalkan resonansi aja karena musik adalah bahasa yang universal. Jadi menurut gua sih nggak ada tantangan (untuk di musik)," tuturnya.

Visa dan Paspor Sulit Terbit Jadi Kendala Utama

Namun, Gogon menilai ada persoalan lain yang justru menjadi tantangan besar bagi musisi Indonesia untuk bisa tampil di panggung internasional. Ia menyoroti persoalan visa dan kekuatan paspor Indonesia yang dinilainya masih menjadi hambatan bagi sejumlah musisi.

"Tantangannya cuma satu: karena tidak didukung oleh pemerintah! Visa sulit, paspornya lemah! Tantangan terbesar band Indonesia manggung di luar negeri adalah paspornya lemah. Bukan satu-dua-tiga band doang yang gagal ke luar negeri udah dapet undangan gara-gara visanya nggak keluar, gara-gara paspornya lemah. Sudah banyaklah," tegas Gogon.
Menurutnya, persoalan tersebut cukup disayangkan mengingat industri musik Asia saat ini tengah mendapatkan perhatian besar di kancah global. Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar agar musisi Indonesia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperkenalkan karya mereka di luar negeri.

"Jadi kalau ada nih orang-orang sono noh (pemerintah) yang nonton video ini, tolonglah support. Karena dari sisi musik tuh Asia itu lagi jadi fokusnya dunia dan Indonesia jadi salah satu bagian di dalamnya gitu," sentilnya.

Gogon juga menilai dukungan pemerintah tidak hanya dibutuhkan dalam urusan administrasi perjalanan, tetapi juga dari sisi pendanaan. Menurutnya, masih banyak band Indonesia yang memiliki potensi untuk menembus pasar internasional, tetapi kesempatan tersebut terhambat persoalan biaya dan vis

"Jadi kalau ada support-support yang bisa ngebantu sih would be bagus banget. Dan banyak banget band-band potensial di Indonesia gitu yang punya kesempatan tapi terbentur sama dua hal: yaitu keluarnya Visa sama nggak ada uangnya gitu," tutup Gogon.

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA