Melalui Dream Fatigue, Rex menghadirkan pendekatan kreatif yang berbeda dengan melibatkan sejumlah musisi dan produser dari berbagai latar belakang. Meski demikian, kolaborasi tersebut tetap berpijak pada karakter penulisan lagu yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Dalam proses pengerjaannya, Rex menggandeng Mustafa dan Dylan Wiggins. Nama terakhir dikenal pernah bekerja sama dengan sejumlah musisi besar, termasuk Justin Bieber dan penyanyi asal Spanyol, Rosalía.
Tak hanya itu, album ini turut melibatkan Brendan Yates, vokalis band hardcore Turnstile, Dev Hynes, Dexter in the Newsagent, serta Taylor Skye dari duo Jockstrap.
Rex mengaku keterbukaan terhadap kolaborasi menjadi salah satu hal yang turut membentuk perkembangan musikalnya. Namun, proses tersebut juga menuntutnya untuk memberikan ruang bagi orang lain dalam menentukan arah kreatif.
“Membiarkan orang masuk adalah membiarkan mereka mengambil sesuatu darimu,” ujar Rex tentang bagaimana kolaborasi semakin memperkuat sound-nya, dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.
Berbeda dari album-album sebelumnya yang banyak bertumpu pada pengalaman pribadi, Dream Fatigue justru dibangun melalui kisah seorang tokoh yang mencoba berbagai persona demi mendapatkan hati perempuan yang dicintainya. Gagasan tersebut tercermin dalam sejumlah judul lagu, seperti “Hannah Montana”, “Iron Man”, dan “Elvis”, yang sekaligus menjadi inspirasi penamaan album.
“Tokoh ini sudah lelah bermimpi dan terus-menerus menjadi orang lain demi mengejar mimpinya,” jelas Rex.
Eksplorasi Musik dan Kolaborasi Jadi Warna Baru
Terdiri dari 12 lagu, Dream Fatigue mengandalkan aransemen melodi yang sederhana dengan permainan harmoni yang kaya. Lewat album ini, Rex juga menyoroti kondisi industri musik saat ini, ketika estetika visual, aktivitas di media sosial, dan kemasan seorang musisi kerap mendapat perhatian lebih besar dibandingkan karya musiknya.
Rex memilih kembali menempatkan penulisan lagu sebagai fondasi utama. Sebagian besar materi album berawal dari eksplorasi sederhana bersama gitar, kemudian berkembang menjadi lagu-lagu dengan melodi intim, nuansa melankolis, serta cerita yang dekat dengan kehidupan pendengar.
Proses kreatif album ini berlangsung di tengah perjalanan spontan Rex ke berbagai tempat. Ia kerap hanya mengandalkan laptop dan sepasang speaker portabel untuk mengembangkan ide. Jika sebelumnya banyak mengerjakan materi di studio, kali ini sejumlah lagu justru lahir dari permainan gitar.
Pendekatan tersebut menghasilkan perpaduan antara penulisan lagu bernuansa klasik, melodi lembut, hook yang mudah melekat, serta eksplorasi produksi yang memberikan karakter berbeda pada setiap lagu.
Kehadiran para kolaborator juga mendorong Rex keluar dari zona kreatif yang selama ini dikenalnya. Bekerja bersama Dev Hynes, Daniel Caesar, dan Mustafa memberinya kesempatan untuk melihat kemungkinan musikal dari sudut pandang yang lebih luas.
“Tiba-tiba pandanganmu terbuka terhadap banyak hal, dan kamu jadi menginginkan lebih. Kamu ingin meningkatkan standar,” ungkap Rex.
Ia kemudian menjelaskan bagaimana karakter musikal dan pengalaman para kolaborator turut memengaruhi proses pengerjaan album tersebut.
“Ketika bermain bersama seseorang seperti Dev [Hynes], yang sudah menjadi sosok berpengaruh selama 20 tahun dengan selera musik luar biasa, atau Daniel Caesar yang selalu punya melodi indah, serta Mustafa yang merupakan pencerita hebat melalui liriknya, kamu bisa merasakan pengaruh tersebut. Kurasa kami semua saling mendorong untuk berkembang, begitu juga dengan lingkaran pertemanan kami," tuturnya.
Salah satu kolaborasi yang menonjol hadir dalam lagu “Elvis” bersama Brendan Yates. Vokalis Turnstile tersebut turut mengisi bagian drum dan vokal, sekaligus dipercaya menyutradarai video musik lagu tersebut yang dijadwalkan rilis pada Senin mendatang.
Rex dan Brendan sebelumnya telah membawakan “Elvis” dalam sebuah pertunjukan intim di Village Underground, London, pada Agustus lalu. Lagu ini menawarkan interpretasi berbeda dari sebuah kisah cinta melalui petikan gitar, aransemen string bernuansa sinematik, serta perpaduan vokal keduanya. Hasilnya, “Elvis” menjadi ungkapan tentang kesetiaan yang disampaikan secara tulus.
Selain “Elvis”, album ini juga menghadirkan sejumlah kolaborasi dan eksplorasi aransemen menarik. Lagu “Indecision” yang menampilkan Daniel Caesar dibalut harmoni berlapis dengan melodi bernuansa soul.
Sementara itu, “Boyfriend” memadukan aransemen string dan instrumen tiup kayu yang lembut dengan lirik tentang keinginan memperbaiki kesalahan. Nuansa musik kemudian bergerak ke arah indie pop yang dreamy melalui “Penelope”, dengan kontribusi vokal latar dari musisi pendatang baru asal Inggris, Dexter in the Newsagent.
Album ini ditutup dengan lagu utama “Dream Fatigue”, sebuah balada bernuansa folk yang melengkapi perjalanan cerita di dalamnya.
Deretan Single Pengantar Dream Fatigue
Sebelum album resmi dirilis, Rex telah lebih dulu memperkenalkan beberapa materi melalui single “Hannah Montana”, “Grandma Song”, “Indecision” yang menampilkan Daniel Caesar, serta “Iron Man”.
“Iron Man” menjadi rilisan terakhir sebelum peluncuran album. Lagu tersebut diperkenalkan melalui sesi penampilan Rex di platform COLORS, sehari sebelum Dream Fatigue resmi dirilis.
Penggemar juga dapat menantikan video musik “Elvis” yang disutradarai langsung oleh Brendan Yates dan dijadwalkan hadir pada Senin mendatang.
Melalui Dream Fatigue, Rex Orange County membuka babak baru dalam perjalanan bermusiknya. Album ini menjadi ruang bagi eksplorasi, kolaborasi, dan pendewasaan musikal tanpa meninggalkan kekuatan utama yang telah melekat pada dirinya, yakni penulisan lagu yang jujur, personal, dan mampu membangun kedekatan dengan pendengar.
Baca Juga :