'Jogja Istimewa' adalah bukti nyata sebuah karya lagu mampu menjadi genderang pengiring perjuangan rakyat dalam meraih identitas di sebuah wilayah yang memiliki nilai tradisi yang amat kaya. Sengaja atau tidak, JHF telah menciptakan lagu rakyat yang berjasa membakar semangat kala Yogyakarta bergulat dalam meraih status 'istimewa'.
"Lagu 'Jogja Istimewa' pengerjaannya cuma sehari sudah beres semuanya sampai rekaman. Tapi bukan mastering. Cuma rekaman dan composing," tutur penggagas JHF, Kill The DJ, kepada Metrotvnews.com.
Efek lagu 'Jogja Istimewa' tidak hanya bertahan semusim saat ramai soal kisruh RUU Keistimewaan Yogyakarta saja, tetapi berlanjut hingga kini. Bahkan, ini menjadi lagu pengiring senam saban Jumat di seluruh penjuru Yogyakarta.
"Yang susah itu orang tidak bisa menulis ketika tidak membaca, intinya membaca. Kalau dalam hal ini (lagu 'Jogja Istimewa') aku membaca sejarah-sejarah Yogyakarta, dan relasinya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata musisi pemilik nama Marzuki Mohammad ini.
Rasanya terlalu klise jika membahas budaya di dalam ruang diskusi yang hanya berujung pada gagasan-gagasan di kepala. Lima personel JHF mampu melepaskan gagasan di kepala ke dalam wujud karya nyata yang berakar pada nilai luhur budaya.
Serat, mantra, dan berbagai literatur Jawa yang sudah hampir atau bahkan telah punah, kembali digali. Kemudian diolah dengan balutan kontemporer, hingga akhirnya disajikan secara apik menjadi musik kekinian agar tetap lestari.
Pada 2012, JHF mendapat kehormatan berkolaborasi dengan rapper Inggris, Akala, dalam sebuah program budaya yang digagas British Council. Hal ini memberikan gambaran secara global bahwa semangat yang dikibarkan JHF dalam mempertahankan literatur asli bangsa Indonesia bukan satu-satunya di dunia, tetapi jamak.
Akala adalah seorang penggiat hip-hop yang menghidupkan kembali literatur sastra seperti karya-karya Shakespeare dalam lirik rap-nya. Dalam proyek kolaborasi dengan JHF, Akala turut mengisi bagian dalam lagu 'Song of Sabdatama' versi kolaborasi.
Tahun 2012 menyisakan cerita manis bagi JHF. Mereka mendapat kehormatan untuk melakoni misi budaya di Amerika Serikat. Pengalaman berharga itu kian sempurna ketika 15 Desember pada tahun yang sama, mereka dianugerahi penghargaan 'Duta Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat' oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News