Musisi indie asal Malaysia, Mohd Jayzuan atau akrab dikenal sebagai Joni Mustaf (Foto: Instagram @mohdjayzuan)
Musisi indie asal Malaysia, Mohd Jayzuan atau akrab dikenal sebagai Joni Mustaf (Foto: Instagram @mohdjayzuan)

Musisi Ini Patahkan Pendapat Band Indonesia Lebih Bagus dari Malaysia

Basuki Rachmat • 03 Juli 2026 10:46
Ringkasnya gini..
  • Perdebatan musik Indonesia vs Malaysia ramai di Threads. Warganet Malaysia menilai pendengar negaranya masih terpaku pada lagu-lagu era 90-an.
  • Warganet Malaysia menilai Indonesian Idol sukses melahirkan banyak bintang, sementara regenerasi musisi lokal dinilai belum sekuat Indonesia.
  • Musisi Malaysia Jay menegaskan negaranya punya banyak band independen berkualitas. Menurutnya, masalahnya bukan talenta, melainkan minim eksplorasi.
Jakarta: Perdebatan mengenai kualitas musik Indonesia dan Malaysia kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Diskusi tersebut membanjiri lini masa platform media sosial Threads, dengan melibatkan warganet dari kedua negara yang saling membagikan pandangan mengenai perkembangan industri musik masing-masing.
 
Menariknya, tak sedikit warganet Malaysia yang menilai industri musik di negaranya masih berada di bawah bayang-bayang kejayaan musik Melayu rock era 1990-an. Nama-nama seperti Exists lewat lagu "Mencari Alasan" dan Search melalui "Isabella" dinilai masih menjadi tolok ukur utama, sehingga musisi yang mencoba mengeksplorasi genre lain kerap kesulitan memperoleh perhatian yang sama.
 
Salah satu warganet Threads asal Malaysia mengaku menikmati musik dari negaranya maupun Indonesia. Namun, menurutnya, penikmat musik di Malaysia cenderung masih terpaku pada karya-karya era 90-an, sementara pendengar di Indonesia dinilai lebih terbuka terhadap beragam eksplorasi genre.

"Audience malaysia terlalu taksub dengan 90s punya lagu, tak boleh menerima perubahan. dengan alasan lagu² baru ni 'entah apa-apa' sedangkan yang berkualiti sangat banyak. kalau dibanding dengan indo, mereka lebih terbuka dalam muzik, sebabtu muzik-muzik seperti jazz boleh laku di negara mereka," tulis akun Threads @qymbro.
 
Musisi Ini Patahkan Pendapat Band Indonesia Lebih Bagus dari Malaysia
 
Sementara itu, warganet Malaysia lain juga mempertanyakan mengapa ajang pencarian bakat seperti Malaysian Idol dinilai belum mampu melahirkan penyanyi dengan popularitas sebesar jebolan Indonesian Idol, seperti Salma Salsabil, Mahalini, Lyodra, hingga Tiara Andini yang musik-musiknya bahkan kini digandrungi oleh pendengar musik Malaysia.
 
"Kenapa Malaysian Idol tak boleh jadi macam Indonesian Idol? dah berbelas tahun dah Indonesian Idol and lahirkan banyak penyanyi hebat," tulis akun @bradzick.
 
Musisi Ini Patahkan Pendapat Band Indonesia Lebih Bagus dari Malaysia

Warganet Indonesia Ikut Menyoroti

Diskusi tersebut tidak hanya diwarnai perbandingan mengenai musik Indonesia dan Malaysia. Sejumlah warganet Indonesia justru menilai Malaysia memiliki banyak musisi berbakat yang kualitasnya tidak kalah menarik dibandingkan musisi Tanah Air.
 
Salah satu akun di Threads berpendapat bahwa ada faktor lain yang membuat karya musisi Malaysia belum berkembang sepesat Indonesia, yang saat ini dinilai berhasil melahirkan musisi dan band dengan genre yang lebih beragam.
 
"Seniman Malaysia itu bagus-bagus dan berbakat, hanya saja pemerintah suka atur, kaum agamawan (fanatik agama) suka ngatur2 bahkan siap membully, sehingga jiwa seni orang Malaysia terkekang, tidak merdeka. Di lain tempat, ada musik kekininian dari Indonesia, para penikmat musik asal Malaysia yang berjiwa bebas akhirnya ke sana, menikmati," tulis akun @abahcafiq38.  

Musisi Malaysia: Banyak Band Lokal Berkualitas, tetapi Kurang Dieksplorasi

Perdebatan tersebut juga mendapat tanggapan dari musisi sekaligus seniman independen asal Ipoh, Perak, Malaysia, Mohd Jayzuan atau yang akrab disapa Jay maupun Joni Mustaf.
 
Saat menjadi narasumber di kanal YouTube sekaligus studio Rakita my 107.9 FM, Jay mengakui bahwa dominasi musik Indonesia, khususnya di ranah pop, memang cukup sulit dibendung di Malaysia. Namun, ia menegaskan bahwa musisi lokal Malaysia juga memiliki banyak karya yang unik dan berkualitas.
 
Menurutnya, banyak penikmat musik di Malaysia belum benar-benar mengeksplorasi karya musisi lokal sehingga muncul anggapan bahwa musik Indonesia selalu lebih baik.
 
​"Betul, memang sulit bagi kita untuk bersaing kalau (di ranah) musik pop dengan jazz. Tapi kita punya band-band yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Coba cari band seperti 'Takahara Suiko', 'Akta Angkasa', 'Zulhezan', atau 'Monoloque'. Indonesia tidak punya band seperti itu, atau (seperti) 'Kamal Sabran', tidak ada band Indonesia yang seperti itu," ungkap Jay.
 
Ia menambahkan bahwa banyak karya berkualitas dari Malaysia justru berkembang di jalur di skena musik independen atau underground, sehingga belum banyak dikenal publik luas Malaysia.
 
​"Tapi kenapa masih ada orang yang bilang 'kenapa band kita tidak sebagus band Indonesia?'. Mungkin Anda saja yang belum mencari, mungkin belum ketemu, atau mungkin ada rasa skeptis terhadap bakat lokal. Padahal banyak juga yang bagus itu justru bergerilya di ranah underground (bawah tanah), kan," lanjutnya.
 
Menurut Jay, industri musik arus utama di Malaysia juga cenderung membuat musisi terjebak dalam pola penulisan lagu yang seragam. Padahal, ia meyakini eksplorasi di luar pakem justru dapat menghasilkan karya yang lebih segar.
 
​"Sebab mungkin kalau di arus utama (mainstream), ketika Anda sudah masuk industri, Anda akan terikat dengan satu pola penulisan lagu yang itu-itu saja. Padahal, akan lebih seru kalau kita mencoba condong ke hal-hal yang di luar kebiasaan kita," tutupnya.
 
Pada akhirnya, perdebatan mengenai musik Indonesia dan Malaysia bukan semata soal siapa yang lebih unggul. Diskusi ini justru menunjukkan bahwa kedua negara memiliki kekuatan dan karakter musik yang berbeda.
 
Indonesia saat ini mungkin unggul dari sisi keberagaman genre, regenerasi musisi, dan besarnya pasar pendengar. Sementara itu, Malaysia menyimpan banyak talenta dengan karya-karya yang tak kalah menarik, terutama di ranah independen dan underground yang masih menunggu untuk ditemukan oleh lebih banyak penikmat musik.
 
Sebaliknya, ini menjadi momentum kita sebagai pendengar atau penikmat musik untuk semakin terbuka mengeksplorasi karya-karya dari kedua negara. Sebab, pada akhirnya, musik yang baik atau enak di kuping akan selalu menemukan jalannya untuk didengar, melampaui batas bahasa, negara, maupun genre.
 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA