Cholil Mahmud ERK. (Foto: YouTube)
Cholil Mahmud ERK. (Foto: YouTube)

Secuplik Cerita Perjalanan Spiritual Musik Cholil Mahmud

Hiburan efek rumah kaca band
Cecylia Rura • 08 Mei 2020 19:08
Jakarta: Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud menjadi tamu dalam Sambut Iftar Ala Medcom (SIAM) bersama Shindu Alpito, Jumat, 8 Mei 2020. Dalam kesempatan itu, Cholil Mahmud sedikit bercerita perjalanan spiritual awal bermusik.
 
Cholil Mahmud tumbuh di lingkungan keluarga Muslim yang religius, masuk di sekolah madrasah hingga menempuh studi di Universitas Islam Negeri Ciputat. Meski begitu, Cholil juga mendengarkan beberapa tren musik zaman itu yang dinilai bermuatan nilai religius saat itu.
 
"Kalau musik-musik yang berbau religius sering dengar paling enggak paduan suara kayak Nasida Ria. Kalau yang pop Bimbo, sih," kata Cholil Mahmud.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setelah lagu-lagu kritik sosial, dia mulai religius seperti lagu Tuhan. Setelah laku banget baru ramai-ramai. Ada anak bertanya pada bapaknya, dari kecil sudah dengerin itu," jelasnya.
 
Setelah mengalami paparan nilai-nilai religius dalam rentang waktu lama, Cholil secara bertahap menyadari ada refleksi dalam keputusannya serius di musik. Namun, sejak awal ERK tidak pernah ingin melabeli diri sebagai pemusik religi.
 
"Normal saja bikin lagu-lagu standar, lama-lama berubah pemahaman dan merasa perlu mengutarakan sesuatu melalui lagu berdasarkan waktu berubah. Akhirnya merasa hal-hal penting perlu diangkat dalam kehidupan gua dibagikan ke orang. Akhirnya begitu," kata Cholil.
 
Sejak kecil Cholil tumbuh di lingkungan homogen dengan satu keyakinan. Namun, hal itu tak membuatnya sebagai pribadi intoleran atau menganggap buruk agama lain. Ketika ERK terbentuk mereka sepakat membagikan sudut pandang baik menurut mereka.
 
"ERK terlepas ngomong lagu bulan puasa, gua merasa ERK bergulir terus menjadi semakin religius. Bukan dalam artian religius bersifat ketuhanan, tapi juga bersifat kemanusiaan dan kepedulian terhadap alam," terang Cholil.
 
"Sifat-sifat religius kecintaan kepada Tuhan, manusia, alam, di berbagai lagu dalam topik-topik yang berbeda. Gua merasa kita terus challenge diri kita apakah ini baik atau buruk ke kita. Berdialektika untuk bisa mengatakan bahwa ini baik atau buruk tanpa menganggap kita yang paling suci, kita berusaha untuk menjadi lebih religius," kata Cholil.
 

 
(ELG)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif