Lagu tersebut memotret momen ketika logika perlahan kehilangan kendali dan rasa diam-diam mengambil alih. Berawal dari percakapan biasa, lalu berubah menjadi rasa ingin bertemu lebih sering, semakin perhatian, hingga akhirnya sadar bahwa benih-benih cinta sudah tumbuh tanpa permisi.
Menurut Sheryl, lagu ini mewakili mereka yang awalnya tak pernah berniat jatuh cinta, tetapi malah kebablasan. Semua bermula dari hal-hal kecil yang tampak santai, hingga tanpa sadar hubungan itu melampaui batas pertemanan. Rasanya canggung, jujur, namun sekaligus membebaskan dan mengundang tawa.
Secara emosional, lagu ini hadir sebagai teman di berbagai suasana hati. Saat sedih, ia bisa menjadi pelipur lara; saat bahagia, ia menambah manisnya momen; bahkan ketika sedang melamun, lagu ini mampu menghadirkan senyum tipis tanpa alasan. Sheryl menyebutnya sebagai lagu yang ringan dan “lucu”, namun tetap dekat dengan pengalaman banyak orang.
Single ini ditulis sendiri oleh Sheryl dan digarap bersama produser Will Mara. Di balik kemasannya yang ceria, terselip pesan tentang keberanian mengekspresikan kasih sayang tanpa takut dianggap berlebihan atau memalukan.
Sejak dirilis pada 13 Februari, “Siapa Suruh Jatuh Cinta” sudah bisa dinikmati sebagai teman bagi siapa pun yang pernah tak sengaja terpikat pada orang terdekatnya—sekaligus menjadi soundtrack manis untuk merayakan Hari Kasih Sayang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News