Queens of The Stone Age (Foto: dok. QOTSA)
Queens of The Stone Age (Foto: dok. QOTSA)

EKSKLUSIF: Apa Jadinya Jika Queens of the Stone Age ke Indonesia untuk Mencari Inspirasi?

Agustinus Shindu Alpito • 20 Oktober 2026 11:53
Ringkasnya gini..
  • Dean Fertita ingin mengunjungi Indonesia sebagai pelancong untuk mengenal budaya lokal dan menemukan pengalaman di luar rutinitas tur musik.
  • Gitaris QOTSA itu menyebut pengalaman menjelajahi kota dan negara baru selalu berpotensi memberi inspirasi bagi musik mereka.
  • Dean Fertita mengakui pengetahuannya tentang Indonesia masih terbatas dan tertarik mendapat panduan lokal untuk mengenal budaya serta musiknya.
Jakarta: Bagaimana jika suatu hari Queens of the Stone Age (QOTSA) datang ke Indonesia bukan untuk memainkan lagu-lagu mereka, melainkan untuk mendengarkan musik yang tumbuh di sini?

Bagi Dean Fertita, gitaris sekaligus kibordis band rock asal Amerika Serikat tersebut, gagasan menjelajahi sebuah tempat tanpa dibatasi jadwal pertunjukan memiliki daya tarik tersendiri. Ia membayangkan perjalanan yang memungkinkan dirinya mengenal kehidupan lokal, melihat kebudayaan secara langsung, dan menemukan pengalaman yang tidak tersedia di balik panggung.

Dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id, Dean mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Indonesia sebagai seorang pelancong, bukan semata-mata anggota band yang sedang menjalani tur.

“Sebagai seorang pelancong, saya ingin sekali punya pengalaman pergi ke suatu tempat tanpa sedang menjalani tur. Saya ingin pergi sendiri dan meminta orang-orang lokal mengajak saya berkeliling, menunjukkan semua hal yang perlu saya lihat. Sebab, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya membutuhkan bantuan. Saya perlu seseorang yang bisa mengajak saya dan menunjukkan apa yang sebaiknya saya lihat," ujar Dean antusias.
 
Bagi seorang musisi yang telah menghabiskan puluhan tahun dalam industri musik internasional, perjalanan semacam itu dapat membuka kemungkinan pertemuan dengan bunyi, tradisi, dan cara pandang yang berbeda dari lingkungan asalnya.

“Bagi saya, mendapatkan inspirasi dalam hidup adalah hal yang sangat penting. Itulah yang saya jalani. Jadi, saya ingin sekali punya waktu untuk melakukan hal itu. Saya ingin menemukan orang-orang yang bisa menunjukkan hal-hal kebudayaan yang perlu saya alami, lalu membawa pengalaman itu pulang bersama saya," lanjut Dean.

Dean tidak secara eksplisit mengatakan bahwa QOTSA akan datang ke Indonesia untuk menulis lagu. Namun, ia mengakui bahwa pengalaman menjelajahi wilayah baru dapat menjadi sumber inspirasi musikal bagi band tersebut. Di situlah kemungkinan yang menarik muncul: bukan janji akan lahirnya lagu tentang Indonesia, melainkan kesempatan bagi seorang musisi untuk membawa pulang sesuatu yang sebelumnya belum ia kenal.
 

Ketika Perjalanan Menjadi Bagian dari Proses Kreatif

QOTSA dikenal melalui musik yang sulit dipisahkan dari karakter bunyinya sendiri. Riff gitar yang repetitif, permainan ritme yang berat, dan struktur lagu yang kadang terasa ganjil menjadi bagian dari identitas mereka. Namun, karakter tersebut tidak berarti para personelnya harus terus berada dalam lingkungan musikal yang sama.

Dean mengatakan bahwa pengalaman memasuki wilayah baru selalu berpotensi memengaruhi musik mereka.
 
“Kami sudah melakukan ini dalam waktu yang lama. Hanya ada sedikit tempat yang belum pernah kami kunjungi. Jadi, kesempatan datang ke kota dan negara baru sangat menggembirakan. Pengalamanlah yang membimbing kita menjalani hidup. Kami sangat menantikan kesempatan membangun hubungan baru dan, mudah-mudahan, mengembangkannya menjadi sesuatu yang membuat kami bisa kembali lagi, berkali-kali. Pengalaman memasuki wilayah baru juga selalu menjadi sesuatu yang menginspirasi kami secara musikal.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perjalanan bagi Dean bukan sekadar perpindahan geografis. Pengalaman, koneksi baru, dan kesempatan kembali ke tempat yang sama dapat menjadi bagian dari perkembangan kreatif sebuah band.

Indonesia, dalam konteks ini, menawarkan pertemuan dengan tradisi musik yang berbeda dari akar rock Amerika. Gamelan, dangdut, dan keroncong bukan sekadar nama genre yang bisa dimasukkan ke dalam daftar referensi musik dunia. Masing-masing tumbuh dari sejarah, sistem musikal, dan konteks sosial yang berbeda.

Gamelan, misalnya, mengandalkan interaksi antarinstrumen dalam sebuah ansambel. Pola ritme, lapisan melodi, serta hubungan antarbunyi membentuk pengalaman musikal yang tidak harus mengikuti logika riff dan progresi akor seperti yang lazim dijumpai dalam rock Barat.

Dangdut memiliki sejarah percampuran pengaruh yang panjang, sementara keroncong berkembang melalui pertemuan berbagai tradisi musik dan mengalami perubahan bentuk selama berabad-abad. Indonesia sendiri memiliki keragaman tradisi musik yang jauh melampaui ketiga contoh tersebut.

Ketika ditanya tradisi musik apa yang paling ingin ia temui, Dean tidak berpura-pura sudah mengenal Indonesia secara mendalam. Ia justru mengakui bahwa pengetahuannya masih terbatas.

“Saya tahu tentang Indonesia dari cerita-cerita yang pernah saya dengar. Namun, sejujurnya, saya tidak mengenal banyak orang yang pernah bepergian ke sana.”

Dalam percakapan yang sama, Dean bertanya apa yang harus dia dengarkan ketika di Indonesia, Medcom.id merekomendasikan musik gamelan dan direspons hangat oleh Dean.

QOTSA belum memiliki rencana konser di Indonesia, menurut pernyataan Dean dalam wawancara yang sama. Ia mengatakan band tersebut ingin datang, tetapi realisasi pertunjukan masih bergantung pada pengaturan rute tur dan pihak-pihak yang terlibat.

Simak wawancara eksklusif Dean Fertita dengan Medcom.id di bawah ini:



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA