Ganggu Final Piala Dunia, Siapakah Pussy Riot?
Salah satu anggota Pussy Riots yang masuk ke lapangan saat final Piala Dunia mengajak Kylian Mbappe untuk tos. (Foto: Twitter)
Moskow: Empat orang berseragam polisi berlari masuk ke lapangan ketika laga final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia memasuki menit ke-52. Aksi empat orang ini, yang diklaim oleh grup punk rock Pussy Riot sebagai anggota mereka, membuat pertandingan sempat terhenti sesaat.

Lewat media sosial, Pussy Riot menyebut bahwa aksi tersebut, yang terinspirasi dari puisi karya Dmitri Prigov, adalah bentuk protes politik terhadap pemerintahan dan sistem hukum Rusia. Mereka meminta penghentian kriminalisasi dan perwujudan kompetisi politik.

Namun, siapakah Pussy Riot?


Pussy Riot mendeskripsikan diri sebagai kolektif seni yang menyerukan protes lewat aksi dan video. Mereka mengawali grup ini pada akhir September 2011 setelah Vladimir Putin mengumumkan bahwa dirinya berencana kembali menjadi Presiden Rusia hingga 12 tahun mendatang. Mereka berdiri sebagai penentang Putin.

"(Rusia) butuh sebuah grup musik jalanan punk-feminis militan yang akan mengoyak jalanan serta alun-alun Moskow, menggerakkan energi publik melawan kelompok Putin, dan memperkaya budaya Rusia serta oposisi politik dengan tema penting seperti hak gender dan LGBT, maskulinitas, absennya pesan politik yang berani dalam seni dan musik, serta dominasi lelaki dalam obrolan publik," kata salah satu anggota bernama Serafima kepada media Vice, Februari 2012.

Nama Pussy Riot diambil dari organ seksual perempuan. Mereka menyebut organ ini biasa dipandang sebagai organ yang "menerima dan tak berbentuk". Mereka membandingkan Pussy Riot seperti organ itu, yang tampak lemah tetapi tiba-tiba memberontak melawan tatanan budaya dan berjuang mendapatkan tempat yang lebih tepat. Mereka ingin melawan gagasan umum mengenai bagaimana wanita seharusnya bertindak.


Pussy Riot saat tampil di Chicago, Amerika Serikat, pada Maret 2018 (Foto: Scott Olson/AFP)

Salah satu aksi awal mereka yang mencuri perhatian terjadi pada 21 Februari 2012. Saat itu, mereka mengadakan pertunjukan di Gereja Katedral Christ the Saviour Moskow. Selang beberapa hari berikutnya, sebelum Putin terpilih kembali sebagai Presiden, para anggota Pussy Riot ditangkap.

Sebagian dilepaskan, tetapi tiga orang diadili dengan tuduhan perbuatan mengacau karena kebencian terhadap agama. Pussy Riot menyebut aksi itu sebagai pernyataan politik. Kasus ini menarik perhatian dunia, terutama dari barat, termasuk Amnesti Internasional.

Pada 17 Agustus 2012, hakim menjatuhkan hukuman pidana dua tahun di penjara terpencil jauh dari pemukiman (penal colony). Dua bulan kemudian, Yekaterina Samutsevich bebas tetapi tetap dalam pengawasan. Maria Alyokhina dan Nadezhda Tolokonnikova dibui dua tahun, tetapi dibebaskan pada Desember 2013.

Belum ada informasi pasti berapa jumlah anggota mereka sekarang, tetapi tampaknya tidak sedikit yang bergabung dalam perjalanan. Saat tampil sebagai Pussy Riot, kebanyakan dari mereka mengenakan penutup kepala yang dilubangi di bagian mata dan mulut.

Sebagai grup musik, mereka telah merilis sedikitnya 10 singel bermuatan protes, termasuk Make America Great Again yang membayangkan dunia distopia AS era Presiden Donald Trump. Mereka juga merilis sejumlah video musik, yang sebagian besar memakai tubuh dan seksualitas sebagai tema eksplisit untuk mewakili protes.

Grup ini telah menjadi subyek dalam dua film dokumenter, yaitu Pussy Riot: A Punk Prayer (2013) garapan Mike Lerner dan Maxim Pozdorovkin, serta Pussy versus Putin (2013) dari kelompok kolektif Gogol's Wives.
 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id