Lagu yang ditulis bersama oleh Wijaya 80—yang digawangi Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe—bersama Sal Priadi, langsung mencuri perhatian lewat lirik pembuka yang kuat:
"Kalung salib kecil itu / tak perlu kau tutupi / ketika kau bertemu keluargaku."
Premis lagu ini diambil dari kisah nyata yang tengah dialami salah satu personel Wijaya 80, sehingga terasa personal dan emosional.
Lagu yang Paling “Kena” bagi Sal Priadi
Menurut Erikson Jayanto, lagu ini menjadi salah satu karya yang paling membekas, terutama bagi Sal Priadi."Sal sangat tersentuh sama lagu ini. Dia sangat ngejar lagu ini untuk dijadikan proyek kolaborasi kita," ujar Erikson.
"Entah kenapa, untuk lagu satu ini, Sal tidak mau melewatkannya dan kami sepakat."
Kedekatan emosional tersebut membuat kolaborasi ini terasa organik, menyatukan warna musik pop klasik khas Wijaya 80 dengan lirik puitik kontemporer milik Sal.
Mengangkat Realitas Cinta Beda Keyakinan
Bagi Ardhito Pramono, tema dalam lagu ini bukan hal baru, melainkan persoalan yang terus berulang dari masa ke masa."Dari masa ke masa, kayaknya kita dari dulu selalu bertemu dengan persoalan ini,” ungkap Ardhito.
“Lucunya, kita semua nggak bisa ngapa-ngapain selain menerima."
Lagu ini tidak hanya menampilkan sisi tragis, tetapi juga mencoba membuka ruang refleksi tentang cinta yang sering terbentur oleh perbedaan.
Hal serupa juga disampaikan Hezky Joe, yang mengalami langsung kisah di balik lagu tersebut. Ia mempertanyakan batas-batas yang selama ini dianggap mutlak.
"Pertanyaannya jadi, kenapa ya manusia harus terbentur aturan-aturan seperti ini? Padahal kalau dilihat ke belakang, perkara cinta beda agama ini nggak melulu jadi persoalan," tutur Hezky.
Pesan tersebut juga tergambar dalam lirik yang menyentuh, "Tuhan / apakah mungkin masih Engkau terima? / dua insan yang keyakinannya beda / juga mungkin pintu masuknya tak sama."
Dirilis Jelang Lebaran, Sarat Makna
Perilisan lagu ini menjelang Lebaran bukan kebetulan. Menurut Hezky, momen ini justru memperkuat relevansi pesan yang ingin disampaikan."Kayaknya akan banyak yang relate, di kala ada orang yang saling mencinta, tapi harus merayakan kasih Tuhan di dua hari raya yang berbeda," jelasnya.
Sementara itu, Sal Priadi mengungkapkan bahwa lagu ini awalnya disiapkan untuk momen berbeda, namun dirasa lebih tepat dirilis sekarang.
“Rasanya momen lebaran ini kelak harus bisa dirayakan bersama.”
“Kita tahu bahwa hari raya selalu jadi momen pertemuan sepasang kekasih dengan keluarga besar. Maka lagu ini diciptakan juga untuk jadi pengantar, jadi teman, bagi pasangan berbeda latar dalam merayakan hari penuh kasih Tuhan ini,” lanjut Sal.
Ia berharap lagu ini dapat diterima luas, sekaligus membuka perspektif baru tentang cinta lintas keyakinan.
“Bulan Bintang, Garis Menyilang” menjadi penanda awal kolaborasi antara Wijaya 80 dan Sal Priadi yang kemungkinan akan berlanjut ke proyek-proyek berikutnya.
"Harapannya pasti banyak panggung ke depannya, dan banyak proyek-proyek lain yang akan kita kerjakan bareng Sal," tutup Erikson.
Kini, lagu tersebut sudah dapat dinikmati di berbagai platform musik digital dan menjadi salah satu rilisan yang mencuri perhatian menjelang Lebaran 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News