The Experience Brothers (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu. A)
The Experience Brothers (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu. A)

The Experience Brothers, Rocker Garis Keras Penyayang Orangtua

Agustinus Shindu Alpito • 04 Juni 2014 11:51
medcom.id, Jakarta: Tidak ada yang spesial pada Selasa (4/6/2014) malam di sekitaran Menteng, Jakarta Pusat, kecuali sebuah pentas yang digelar di Goethe Haus.
 
Pada malam itu, duo rock & roll berjubah The Experience Brothers menggelar hajat besar menandai perjalanan panjang mereka selama 13 tahun bermusik, sekaligus merayakan album ketiga mereka 'Our Deepest Growl' yang dirilis Oktober tahun lalu.
 
Ibrahim Saladdin yang akrab disapa Bram (gitar, vokal) bersama sang kakak, Daud Sarassin (drum), berhasil menggelar pertunjukan intim selama dua jam, lengkap dengan aksi kolaborasi dengan beberapa musisi seperti Ade Paloh (Sore), Buluk (Superglad), Gugun (Gugun Blues Shelter), Iga Massardi, dan John Navid (White Shoes and The Couples Company).

Dalam pentasnya The Experience Brothers tidak hanya menyuguhkan musik, tetapi juga mempertontonkan video dokumenter perjalanan panjang mereka. Lengkap dengan kisah bongkar pasang personel yang akhirnya hanya menyisakan dua saudara sekandung, Bram dan Daud.
 
Konser yang sangat rapi ini juga menampilkan sisi lain dari The Experience Brothers yang mungkin tidak diketahui banyak orang, seperti proses pembuatan CD yang dikerjakan secara manual, hingga peran sang ayah yang ternyata sangat besar dalam bertahannya band ini.
 
"Dulu band ini sempat hampir bubar, cuma bokap melarang. Dia bilang, kalau bubar semua alat-alat gue mau dijualin," ujar Bram menceritakan bagaimana frustasinya The Experience Brothers yang bertahan sangat lama dengan dua personel yang jarang akur.
 
The Experience Brothers adalah sebuah anomali. Jika anak band lain berusaha mencitrakan diri se-badboy mungkin, Bram dan Daud justru terkesan anak rumahan yang gemar bermusik didampingi orangtua. Bram bahkan mengatakan bahwa setiap membuat lagu, dia selalu meminta masukan dari ayahnya.
 
Idealisme yang tinggi bercampur dengan luapan ego dua karakter yang keras, justru menjadi daya tarik dari The Experience Brothers. Musik yang kental nuansa rock dan blues dalam balutan psikedelia menjadi ciri The Experience Brothers.
 
Ingin tahu lebih dalam mengenai The Experience Brothers? Ikuti wawancara Metrotvnews.com dengan mereka berikut ini.
 
Bagaimana perasaan The Experience Brothers setelah menggelar konser Our Deepest Growl?
Satu kata, terpuaskan. Rasa penasaran gue untuk kolaborasi sama mereka (para kolaborator) dan string orkestra terpenuhi.
 
Di video dokumenter perjalanan kalian, tampak tidak pernah cocok dengan basis. Apa alasannya?
Gue tidak menyalahkan basis, tapi mungkin (para basis yang pernah bergabung dengan The Experience Brothers) memang susah menerima kita berdua. Karena kita (Bram dan Daud) terlalu keras saat berdebat. Kalau lagi berantem yang jadi kambing hitam kadang basis. Dan kadang basis enggak tau harus bersikap bagaimana kalau lihat kita berantem.
 
Apa influence terbesar The Experience Brothers?
Sebenarnya, jujur waktu bikin konsep band berdua, gue enggak tahu ada band namanya The White Stripes karena gue waktu itu dengerin musik-musik yang kekinian. Senangnya dengerin konsep full band kayak Jimi Hendrix, The Doors. Pas gue sudah mulai ngeband berdua, ada teman kos nyetel The White Stripes. Gue pikir selama ini gue doang yang bikin begituan (band dengan konsep duo). Ternyata ada banyak banget (band konsep duo), dan di dalam negeri pernah ada juga konsep band berdua kayak Duo Kribo.
 
Bagaimana The Experience Brothers mengulik sound hingga terdengar meriah?
Waktu awal-awal gue sudah kepikiran formula sound sekali genjreng ada sound bass dan gitar. Akhirnya gue dapat rekomendasi alat yang bisa keluarin sound seperti itu. Intinya, butuh alat yang punya tiga source: low, mid, dan high. Ternyata ini juga dipakai Jack White.
 
Mengapa memproduksi CD secara homemade?
Atas dasar idealis, karena gue juga kerja (selain di musik). Dan gue merasa enggak butuh cari uang dari sini (dari musik). Makanya gue bikin satu CD yang benar-benar homemade, yang dikerjain langsung sama bokap gue sendiri.
 
Bisa ceritakan tentang proses kreatif album 'Our Deepest Growl'?
Awalnya, gue (Bram) bikin materi dan setiap gue bawa ke studio selalu enggak cocok sama Daud. Akhirnya, gue merasa butuh penengah. Kita butuh music director, tapi yang mengerti tabiat kita, yang mengerti kelakuan kita dari kecil. Akhirnya, kita ajak Iga Massardi karena dia teman dari kecil juga.
 
Apakah ada rencana menggelar tur?
Ada rencana, tapi mungkin akhir tahun karena setelah konser ini enggak lama kan puasa. Jadi, akhir tahun saja.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)




TERKAIT

BERITA LAINNYA