Jakarta: Kebingungan mencari jati diri, menghadapi ketergantungan emosional, hingga keberanian untuk berdiri sendiri menjadi keresahan yang diangkat Mahardhika Jodie atau MJ melalui single perdananya, "Be Myself". Dia mengajak generasi Z untuk lebih berani mengenali diri sendiri tanpa harus terus bergantung pada orang lain.
Mengusung genre pop dan R&B, "Be Myself" menjadi langkah awal MJ untuk memperkenalkan karakter musikal sekaligus menyampaikan kegelisahan yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Lagu ini berbicara tentang proses memahami keinginan pribadi, melepaskan ketergantungan, dan belajar menjalani hidup dengan kemampuan sendiri.
Bagi MJ, pencarian jati diri bukan sekadar tema yang menarik untuk diangkat menjadi lagu. Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya yang kerap menuangkan isi hati melalui tulisan. Kebiasaan mencurahkan perasaan di buku, ponsel, hingga catatan digital akhirnya menjadi awal lahirnya "Be Myself".
"Aku dari dulu suka banget curhat, tapi enggak ke orang, lebih ke nulis di buku, di HP, atau di notes. Akhirnya aku memutuskan, kayaknya tulisanku juga oke deh kalau dibikin lagu," ujarnya di Jakarta.
Kebiasaan menulis tersebut kemudian berkembang menjadi cara MJ mengolah pengalaman dan perasaannya menjadi karya musik.
Menurut MJ, Be Myself menggambarkan perjalanan seseorang yang awalnya merasa kesulitan menjalani kehidupan tanpa kehadiran orang lain. Seiring waktu, muncul kesadaran bahwa setiap individu perlu menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri untuk melanjutkan hidup.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan MJ memilih tema kemandirian dan penerimaan diri sebagai inti single perdananya. Dia berharap pendengar, khususnya generasi Z yang sedang berada dalam fase pencarian identitas, dapat menemukan kedekatan dengan cerita yang disampaikan melalui lagu ini.
"Itu pribadi aku, dan mungkin kebanyakan orang juga bakal merasakan hal yang sama," kata dia.
Bagi generasi muda, tekanan untuk memenuhi ekspektasi lingkungan dan keinginan untuk diterima orang lain terkadang membuat proses mengenali diri sendiri menjadi tidak mudah. Melalui "Be Myself", MJ ingin mengingatkan bahwa seseorang tidak harus selalu mengikuti standar orang lain untuk menemukan kebahagiaannya.
Keseriusan MJ dalam menggarap single pertamanya juga terlihat dari proses penulisan lirik yang memakan waktu cukup panjang. Dia membutuhkan sekitar tiga hingga empat bulan untuk menyusun lirik yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
"Aku memikirkan lirik yang benar-benar kuat, dalam, dan relate. Karya lagu enggak bisa asal nulis, jadi proses lama itu sangat worth it," tuturnya.
Dari sisi musikalitas, Be Myself memadukan pop dan R&B dengan sentuhan nuansa musik era 1990-an. Pendekatan storytelling yang intim dan emosional menjadi bagian penting dalam menyampaikan perjalanan perasaan yang ingin dihadirkan MJ kepada pendengarnya.
Pilihan lirik dalam bahasa Indonesia dan Inggris juga menjadi bagian dari upaya MJ menjangkau generasi muda. Awalnya, ia berencana menyanyikan lagu tersebut sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Namun, setelah berdiskusi dengan produser, ia memutuskan memadukan kedua bahasa agar pesan lagu lebih mudah diterima pendengar Indonesia tanpa kehilangan kesan modern.
Di balik penggarapan "Be Myself", MJ juga menjalani proses pengembangan kemampuan vokal bersama pelatih vokal Bertha selama sekitar tiga bulan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari persiapannya memasuki industri musik profesional.
MJ sempat merasa cemas sebelum menjalani latihan karena mendengar anggapan bahwa Bertha merupakan pelatih yang galak. Namun, kesan itu berubah setelah ia mengenal Bertha secara langsung.
Setelah merilis single perdana, MJ berencana melanjutkan perjalanan musiknya dengan meluncurkan tiga hingga empat single sebelum menggarap mini album.
"Yang pasti tetap jadi diri aku sendiri. Aku bernyanyi karena suka dan ini passion-ku, dan aku ingin menghibur banyak orang," pungkas MJ.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan