Menjelang perilisannya yang dijadwalkan meluncur pada 9 Oktober 2026 mendatang, Medcom.id berkesempatan hadir mendengarkan lebih awal deretan materi album debut tersebut dalam gelaran Private Album Listening Session yang dihelat di Zodiac, Jakarta Selatan, pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Gitaris Avhath, Reynir Fauzan, membeberkan alasan di balik penantian panjang lebih dari satu dekade hingga akhirnya mereka mantap melahirkan sebuah album penuh.
"Mungkin banyak yang nanya juga kenapa baru sekarang setelah 14 tahun? Jadi memang mungkin mood sama calling-nya baru ada sekarang ya kita untuk finally bikin album," tutur Reynir.
"Sebelumnya kita merasa, ya udahlah paling kita bikin EP, kita bikin single, kita split, itu udah lumayan cukup. Cuma kayaknya as the band grow, kita juga grow as people, kayaknya harus ada satu gebrakan yang bisa memperkenalkan Avhath ke pendengar yang lebih luas lagi," lanjutnya.
Bagi Reynir, album ini dirancang sebagai gerbang utama bagi para pendengar baru sekaligus rangkuman perjalanan kreatif Avhath selama belasan tahun berdiri.
"Jadi mungkin ada beberapa pendengar Avhath yang baru untuk mendengarkan album ini, tapi sebenarnya album ini sudah capturing the whole 14 years kita berkreasi lah. Dari situ lu bisa capturing 'Oh, Avhath tuh kayak gini' dan dari sini baru bisa dig deeper (menggali lebih dalam) ke materi-materi yang lebih lama," ungkap Rey.
Dalam pengerjaan album ini, Reynir juga mengambil peran baru sebagai produser utama. Pengalaman bekerja sama dengan berbagai produser dan engineer ternama di rilisan-rilisan terdahulu seperti bersama produser musik Lafa Pratomo memberi sudut pandang teknis yang matang bagi seluruh personel.
"Dulu kita mungkin nggak terlalu care tentang sound atau tentang produksi in general. Cuma karena kemarin kita banyak bekerja sama dengan produser-produser dan engineer-engineer yang cakep, jadi banyak learning yang kita dapatkan juga sebagai band. Bukan cuma gua di sini as an acting producer, tapi pastinya buat semua member Avhath," tuturnya.
Filosofi Tajuk Self-Titled: Puncak Kulminasi 14 Tahun Avhath
Pemilihan nama Avhath sebagai tajuk album debut bukan tanpa alasan. Bagi Ekrig, album ini merupakan rangkuman sekaligus kulminasi dari perjalanan musikal Avhath sejak awal terbentuk.
Alih-alih menghadirkan identitas baru yang sepenuhnya berbeda, album ini justru merangkum berbagai karakter, intensitas, dan atmosfer yang selama ini melekat pada musik Avhath, sekaligus membuka ruang eksplorasi baru.
Ekrig menilai tidak ada nama yang lebih tepat untuk menggambarkan keseluruhan perjalanan tersebut selain nama band itu sendiri.
"Kalau gua personal sih sebenernya karena ini kulminasi dari perjalanannya Avhath 14 tahun ini. Dan album debut ini tuh adalah fragments dari apa yang kita udah lakuin selama 14 tahun," ucap Ekrig.
"Jadi tidak ada kata yang lebih baik, pas, untuk merepresentasikannya selain ya nama Avhath itu sendiri," tegasnya.
Gandeng Enam Mastering Engineer
Proses penggarapan album Avhath sudah dirintis sejak Januari 2026. Sesi perekaman berlangsung di studio Rekamkamar di bawah pengawasan recording engineer Rama Harto. Sementara itu, untuk departemen mixing, dieksekusi secara kolaboratif oleh Rama Harto, Reynir, dan Ekrig.
Guna mendapatkan tata suara terbaik, Avhath bahkan menjajal enam mastering engineer, baik dari dalam maupun luar negeri, sebelum akhirnya memutuskan membagi proses mastering ke dalam dua format rilisan yang berbeda: digital dan fisik.
"Untuk recording dan mixing engineer, kami percayakan kepada Rama Harto yang sebelumnya menggarap proyek split kami bersama Kuntari. Hasilnya sangat cocok dan beliau punya studio yang mumpuni," kata Reynir.

Avhath saat sesi listening session di Zodiac, Jakarta Selatan (Foto: Medcom/Basuki)
"Secara keseluruhan kami melibatkan sekitar enam engineer. Dari hasil uji coba tersebut, kami menyimpulkan butuh mastering engineer khusus untuk rilisan fisik dan satu engineer khusus untuk rilisan digital," lanjutnya.
Reynir menjelaskan bahwa format digital dirancang dengan karakter suara yang lebih punchy dan bertenaga agar mampu beradaptasi dengan karakter platform streaming.
"Untuk rilisan digital, kami tidak masalah mengorbankan sedikit dinamika demi mendapatkan tingkat kekerasan (loudness) yang terasa pas di telinga pendengar digital. Jadi begitu diputar, karakternya langsung terasa menampar (in your face)," bebernya.
Sebaliknya, untuk format fisik seperti CD, kaset, dan piringan hitam (vinyl), Avhath mempertahankan dinamika audio yang lebih detail. Mastering rilisan fisik ditangani oleh produser kenamaan Colin Marston dari Menegroth, The Thousand Caves, di Pennsylvania, Amerika Serikat. Sementara untuk format digital dipercayakan kepada Will Killingsworth dari Dead Air.
"Format fisik akan terasa jauh lebih dinamis dan detail. Musik yang tadi diputar di sesi listening party sebenarnya adalah hasil master dari rilisan fisik. Jika didengar menggunakan speaker berkualitas, dinamika lagunya akan sangat terasa," jelas Reynir antusias.
"Akhirnya kami mantap bekerja sama dengan Colin Marston dari studio Menegroth. Dia juga gitaris Krallice, salah satu band favorit yang menjadi pengaruh (influence) awal Avhath. Momen ini terasa seperti Lingkaran yang akhirnya lengkap (full-circle event)," tambahnya.
Sentuhan Visual Foto Pengganti Ilustrasi di Artwork Album
Di sisi visual, Ekrig membeberkan konsep di balik artwork album yang mengusung pendekatan fotografi ketimbang ilustrasi. Pilihan visual jatuh pada dua karya foto milik fotografer Yogi Kusuma yang bertajuk "Let There Be Red" (2021) dan "Almost Column" (2012).
"Saya pribadi lebih menyukai artwork berbasis foto dibanding ilustrasi. Kebetulan selera grafis Yogi sangat sejalan dengan arah visual Avhath. Saya mendatangi dia dan meminta beberapa stok foto yang belum pernah dipakai," kenang Ekrig.
Proses penentuan visual tersebut bahkan diwarnai dengan kebetulan yang menarik saat foto yang disodorkan secara alami memiliki nada warna yang persis dengan konsep awal Avhath.
"Saat kami berikan demo album, dia menyodorkan beberapa foto. Tanpa diskusi atau arahan (brief) warna sebelumnya, dua dari foto yang disodorkan ternyata memiliki warna merah yang sama persis dengan konsep yang sudah saya tentukan di awal. Fokus kami langsung tertuju ke sana," ceritanya.
Bagi Ekrig, objek foto tersebut berhasil mengekspresikan kedalaman cerita lirik Avhath secara fleksibel tanpa harus terikat pada satu pemaknaan yang kaku.
"Foto tersebut sangat merepresentasikan isi album. Gagasan lirik dan cerita di dalam lagu-lagu Avhath bisa ditarik ke berbagai topik. Ketika melihat objek foto itu, kami merasa visual tersebut bisa menceritakan banyak hal, jadi langsung kami pilih," pungkas Ekrig menutup perbincangan.