The Jansen (Foto: Medcom/Basuki)
The Jansen (Foto: Medcom/Basuki)

The Jansen dan Bilal Indrajaya Kolaborasi di EP Lafa Pratomo, The Beatles Jadi Benang Merah

Basuki Rachmat • 30 Juli 2026 22:25
Ringkasnya gini..
  • The Jansen dan Bilal Indrajaya berkolaborasi dalam EP Garis Tegak, menyatukan musik punk dan pop lewat arahan Lafa Pratomo.
  • The Jansen mengaku antusias karena untuk pertama kalinya diproduseri pihak luar dalam proyek kolaborasi bersama Bilal Indrajaya.
  • The Beatles menjadi benang merah yang menyatukan The Jansen dan Bilal Indrajaya dalam proses kreatif EP Garis Tegak.
Jakarta: Setelah merilis album Romantisasi Impulsif, band punk asal Bogor, The Jansen, bersiap menjajal kolaborasi lintas genre bersama solois pop Bilal Indrajaya. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proyek EP garapan produser musisi Lafa Pratomo bertajuk Garis Tegak, yang diproyeksikan rilis penuh pada tahun ini.
 
Garis Tegak menjadi penanda perjalanan kreatif Lafa Pratomo selama 12 tahun berkarya di industri musik Tanah Air. EP ini juga menjadi refleksi personal yang dimaknai Lafa sebagai simbol resiliensi di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
 
Melalui EP ini, Lafa menyatukan 12 musisi ke dalam enam trek berformat crossover genre. Selain Bilal Indrajaya & The Jansen, proyek musik ini turut mempertemukan Feby Putri & Matter Mos, Nadhif Basalamah & Hursa, Ari Lesmana & White Chorus, Isyana Sarasvati & Jason Ranti, serta Hindia & Banda Neira.

Menariknya, seluruh proses kreatif dipimpin langsung oleh Lafa tanpa menempatkan musisi sekadar sebagai penyanyi tamu (featuring). Setiap karya diracik lewat proses workshop yang mendudukkan seluruh kreator pada posisi setara, berangkat dari nol tanpa materi lagu atau konsep kaku yang mengikat.  

Pengalaman Perdana The Jansen Diproduseri Pihak Luar

Duo The Jansen, yang kini digawangi oleh Cintarama Bani Satria alias Tata (vokal/gitar) dan Adji Pamungkas (bas), membagikan antusiasme mereka terkait tawaran kolaborasi yang organik ini kepada Medcom.id.
 
"Awalnya dari Lafa ya yang mengajak kami. Kebetulan melalui Kithlabo, memberikan kesempatan untuk The Jansen berkolaborasi di EP 'Garis Tegak' ini. Dari kami berdua sendiri sangat antusias karena ini pertama kalinya The Jansen, selain berkolaborasi, juga pertama kali kami punya kesempatan diproduseri. Biasanya kami self-produce, sekarang ada kesempatan diproduseri oleh seorang produser. Ini jadi kesempatan langka dan kita sangat antusias," tutur Adji di art space Dia.lo.gue Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis, 30 Juli 2026.
 
Menurutnya, proses kreatif yang dijalani juga jauh dari kata formal. Lafa justru membiarkan semuanya berkembang secara alami.
 
"Ketika proses kreatifnya juga Mas Lafa nggak ada briefing sama sekali, suruh datang ke studionya, kami main ke studionya yang bener-bener dari nol, nggak tau harus ngapain, nggak tau kita bikin apa nantinya, dan setelah ketemu sama Bilal juga ya ngobrol-ngobrol terus nongkrong aja gitar-gitaran akhirnya nemu notasi-notasi yang enak. Wah, ini jadi mengalir aja seperti air," lanjutnya.
 
Tata menyebut bahwa ajakan kolaborasi ini datang sekitar bulan Juni atau Juli 2026, yang awalnya sempat membuat mereka merasa dikejar waktu. Namun, ketegangan itu cair seketika saat proses workshop dimulai.
 
"Ajakannya tuh Juni atau Juli. Makanya sempat kaget juga 'wah ini kayak dikejar waktu juga', cuman ya pada akhirnya ketika ketemu ternyata santai sih nggak terlalu yang gimana-gimana banget," tutur Tata.
 
Ia juga mengungkapkan bahwa Lafa memberi kebebasan penuh kepada seluruh kolaborator untuk mengeksplorasi ide dalam proyek musik ini.
 
Mengingat The Jansen berangkat dari akar punk dan Bilal Indrajaya tumbuh dari akar pop, banyak pihak penasaran dengan hasil akhir audio mereka. 
 
"Mas Lafa tuh ngasih kebebasan buat kita bertiga, Bilal, saya, sama Adji buat buat ngelempar ide-ide, terus Mas Lafa juga ikut bantu mengolahnya, dan peran Mas Lafa di lagu ini pada akhirnya akan menyulap akan seperti apa gitu dari dua genre yang berbeda itu," lanjutnya.
 
Tata juga membocorkan bahwa saat ini lagu tersebut masih dalam tahap draf, namun nuansanya dipastikan bakal kaya warna tanpa menghilangkan identitas musik mereka.
 
"Kebetulan kami baru sampai tahap draf. Sayang sekali kita belum bisa ngasih jenis atau genre musiknya seperti apa," tutur Tata.
 
"Bahkan kita juga penasaran gitu hasil finalnya seperti apa gitu," saut Adji.
 
"Cuman yang pasti sih cukup gado-gado ya, campur-campur gitu," ujar Tata.

The Beatles Jadi Benang Merah dari The Jansen dan Bilal Indrajaya

Di balik perbedaan karakter musik The Jansen dan Bilal Indrajaya, Tata pun menerangkan bahwa ternyata ada satu benang merah yang ditemukan oleh Lafa Pratomo, yakni pengaruh musik dari The Beatles.
 
"Sebenarnya kan ini Mas Lafa duluan sih sebenarnya yang ngeh atau peka. Ramones itu kan ngefans sama The Beatles, mereka pengen bikin power pop seperti The Beatles tapi karena kapasitasnya akhirnya jadi Ramones kan. Nah itulah yang diutarain sama Mas Lafa," ungkap Tata antusias.
 
Kecintaan Ramones pada The Beatles itu kemudian dikawinkan dengan referensi musik Bilal Indrajaya yang sudah sangat khatam dengan karya-karya dari John Lennon cs.
"Kita semua tahu lah ya Mas Bilal khatamnya seperti apa sama The Beatles. Ya udah itu benang merahnya di awal tuh ya itu, mungkin yang akan menyatukan kita nantinya adalah si The Beatles-nya itu gitu," tuturnya.
 
Tata pun menilai bahwa kesamaan referensi musik tersebutlah yang menjadi titik temu antara The Jansen dan Bilal Indrajaya dalam memperlancar proses kolaborasi di EP perdana milik Lafa Pratomo ini.
 
"Pada akhirnya apa yang kami usung apa yang Mas Bilal usung ternyata ada benang merahnya, tapi balik lagi sih yang menurut saya tepat tuh ya Mas Lafa tadi, kita ternyata punya benang merahnya itu ya musiknya sebenarnya. Kita datang ke sini sama-sama untuk musik," tutup Tata.
 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA