Lafa Pratomo (Foto: Medcom/Basuki)
Lafa Pratomo (Foto: Medcom/Basuki)

12 Tahun Jadi Produser, Lafa Pratomo Satukan 12 Musisi Lintas Genre di EP Perdana

Basuki Rachmat • 30 Juli 2026 20:23
Ringkasnya gini..
  • Lafa Pratomo resmi debut lewat EP Garis Tegak, menghadirkan kolaborasi lintas genre bersama 12 musisi Indonesia.
  • Setelah 12 tahun jadi produser di balik layar, Lafa Pratomo merilis EP Garis Tegak sebagai simbol resiliensi dan perjalanan kreatif.
  • Lafa Pratomo mengaku sengaja membiarkan ketidaksempurnaan dalam EP Garis Tegak karena dinilai lebih manusiawi di era AI.
Jakarta: Selama 12 tahun mengabdi di industri musik, nama Lafa Pratomo dikenal luas sebagai sosok produser musik bertangan dingin di balik kesuksesan sederet musisi papan atas Indonesia. Deretan lagu hits yang lalu lalang di platform musik digital hari ini lahir dari sentuhan estetisnya, menempatkan Lafa sebagai salah satu arsitek musik pop paling berpengaruh di skena musik Tanah Air hari ini.
 
Kini, setelah lebih dari satu dekade bergerak di balik layar, Lafa untuk pertama kalinya resmi menyematkan namanya di sampul sebuah proyek musik. Bertajuk Garis Tegak, Mini Album (Extended Play/EP) ini lahir sebagai penanda penting perjalanan kreatifnya sekaligus miniatur refleksi atas kegelisahan hidup di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Sebuah monumen yang ia maknai sebagai simbol resiliensi.
 
Momentum bersejarah ini diwujudkan Lafa melalui EP berisi enam trek yang mempertemukan 12 musisi dalam format crossover genre. Deretan nama yang terlibat antara lain Feby Putri & Matter Mos, Nadhif Basalamah & Hursa, Bilal Indrajaya & The Jansen, Ari Lesmana & White Chorus, Isyana Sarasvati & Jason Ranti, serta Hindia & Banda Neira.

Seluruh proses kreatif dipimpin langsung oleh Lafa yang bertindak sebagai produser sekaligus kolaborator penulisan lagu. Alih-alih menempatkan para musisi sebagai penyanyi tamu (featuring), setiap karya dibidani olehnya lewat proses workshop yang mendudukkan seluruh kreator dalam posisi setara, tanpa materi lagu jadi maupun konsep kaku yang telah ditentukan sebelumnya.
Semua musisi ditempatkan dalam ruang kreatif yang setara untuk saling bertukar ide. Workshop, penulisan lagu, hingga proses rekaman dilakukan di Syaip Studio, ruang kreatif milik Lafa yang menjadi pusat lahirnya EP tersebut. 
 
Usai merayakan sesi jumpa pers perilisan EP Garis Tegak di art space Dia.lo.gue Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis, 30 Juli 2026. Medcom.id pun berkesempatan mengobrol intim bersama Lafa Pratomo mengenai alasan di balik proyek debutnya, proses kurasi musisi kolaborator, hingga harapan yang ingin ia sampaikan melalui EP Garis Tegak tersebut.
 
Apa yang memutuskan Lafa Pratomo untuk debut menggarap EP perdana secara full tahun ini?
"Kenapa akhirnya gua mau bikin album? Kenapa enggak? Karena ya mungkin gue pengen punya arsip di dalam hidup gue gitu, kalau gue pernah bekerja sama dengan musisi-musisi hebat ini gitu, mungkin lebih ke situ kali ya."
 
"Jadi keinginan bikin album udah lama, tapi pada akhirnya bikin album gua berpikir kayaknya gua enggak mungkin sendirian gitu. Gua harus dibantu dan ditemani oleh teman-teman yang lain supaya seru sih kalau ramai-ramai. Kalau sendirian, iiih enggak beres-beres biasanya kalau sendirian tuh, hahahaha."
 
12 Tahun Jadi Produser, Lafa Pratomo Satukan 12 Musisi Lintas Genre di EP Perdana
(Foto: Medcom/Basuki)
 
Kapan pertama kali terinisiasi bikin album ini? Dan kenapa akhirnya memilih Garis Tegak sebagai tajuk EP?
"Nah ini menarik nih. Kalau kepikirannya sebenarnya mungkin dari dua tahun yang lalu gua udah bilang sama manajer gua tuh, si Anya. 'Nya, gua tuh pengen bikin album deh, tapi gua masih mikir album yang seperti apa ya?'. 'Ya udah kamu pikir-pikirin dulu aja'. Dia akhirnya sampai ngejadwalin di tiap minggu tuh buat gua ngerjain gitu, dia ngasih gua ruang buat bereksperimen bikin apa pun bikin drafting-drafting dan sebagainya."
 
"Akhirnya dua tahun kemudian, persis di awal tahun 2026, ide gua untuk bikin album ini disambut juga oleh Kithlabo. Dan Kithlabo yang menyediakan playground-nya lah gitu. Ya udah kenapa enggak kita bikin bareng-bareng aja akhirnya ya udah jadi jadilah EP yang kolaboratif."
 
"Nah kenapa judulnya 'Garis Tegak', mungkin 'Garis Tegak' itu gue merasa itu adalah simbol dari resiliensi. Gimana kita bertahan untuk terus berdiri, bisa tetap berdiri, dan tetap waras gitu. Itu mungkin simbol daripada resiliensi itu sendiri, jadinya gua namai ini 'Garis Tegak' gitu. Dan ini enggak mungkin bisa menjadi tegak kalau gua sendirian, pada akhirnya jadi saling terkoneksi. Jadi karena gua ditemenin sama teman-teman yang hebat-hebat, ya jadilah ini garis yang tegak."
 
Kenapa akhirnya di setiap trek EP Garis Tegak, Lafa memutuskan untuk crossover genre dari dua musisi kolaborator? Pusing nggak untuk menyatukan warna dari dua musisi tersebut?
"Pusing, iya pasti. Tapi prinsip gua adalah kalau ada yang lebih pusing kenapa harus yang mudah? Kayak gitu. Pokoknya hidup kayak apa kita nyusah-nyusahin diri sendiri aja lah hahaha. Intinya sih sebenarnya gini, kalau gua melihat kayak 'kenapa harus pairing, kenapa harus crossover?' Gue selalu meyakini bahwa musik itu harus menyenangkan gitu. Dan itu keyakinan gua dari dulu buat bikin musik tuh harus menyenangkan."
 
"Nah dengan pairing-pairing yang cross-genre yang crossover ini, itu hal yang menyenangkan sih. Kayak mungkin challenging, mungkin pusing, tapi buat gua wah ini super sih menyenangkannya rada lumayan kelewat batas gitu, kelewat batas yang gua pikirin gitu oh ternyata semenyenangkan itu gitu bisa crossover-crossover kayak gitu."
 
Se-perfect apa Lafa Pratomo membuat EP ini menjadi baik dan menjadi 'Oh, hati gua senang nih akhirnya gua mengeluarkan EP ini?'
"Se-perfect apa gua mewujudkan EP ini? Gua mewujudkan EP ini se-perfecte gua membiarkan banyak ketidaksempurnaan di dalam karyanya. Ya se-perfect itu. Jadi buat gua ketidaksempurnaan itu adalah bentuk kesempurnaan, karena itu bagian dari manusia gitu, semakin ada flaws (kekurangan) gitu gua akan membiarkan itu gitu."
 
"Justru hari ini lucunya flaws-flaws yang seperti itu, jadi bentuk kesempurnaan gitu, lucunya semenjak munculnya Artificial Intelligence (AI). Dengarin musik AI super smooth, super licin, 'Gua enggak lagi kalau ada gitar fals dikit ya enggak apa-apa gitu'. Jadi mungkin sesempurna itu kali ya, gua akan membiarkan ketidaksempurnaan itu menjadi bentuk kesempurnaan."
 
Apakah Lafa menganggap EP Garis Tegak ini dibuat sebagai playground untuk senang-senang bagi diri sendiri dan para musisi?
"Persis sih. Main sih, gua pengen pengen merasa bikin ini tuh kayak main aja gitu. Gua enggak mau bikin ini kayak gua sedang bekerja pada seseorang atau pada apa lah gitu. Ya kayak main. Jadi gua berangkat dari rumah, 'Oh hari ini mau ngapain? Gua mau main' gitu. Perasaan itu sih yang pengen gua dapet."
 

12 Tahun Jadi Produser, Lafa Pratomo Satukan 12 Musisi Lintas Genre di EP Perdana
(Foto: Medcom/Basuki)
 
"Enggak ada se-idealis itu untuk 'Ah gua harus kayak gini, yang ini harus kayak gini', justru gue membebaskan mereka untuk terserah lu mau gimana sama gue, kayak 'Eh kita mau bikin apa?' 'Ah, gimana entar aja deh'. Di studio yang jadi itu mari kita jadiin aja, intinya harus menyenangkan lah."
 
Apa yang memutuskan Lafa Pratomo memilih list kolaborator ini? Dan kenapa tidak mengajak Danilla yang merupakan sahabat dekat di proyek EP ini?
"Nah ini pertanyaan menarik, manajer gua juga sempet nanyain 'Kenapa kamu enggak masukin Danilla dan sebagainya?'. Oke sebelum ke situ, kenapa mereka dulu? Karena ya beberapa gua udah pernah kerja sama bareng mereka. Cuman utamanya adalah mungkin di sini kan pairing-nya tuh ada ada satu musisi yang establish dan ada satu yang emerging."
 
"Ya mungkin kolaborasinya harus yang lebih ada ada mutual-nya gitu. Misalkan kayak Nadhif Basalamah dengan Hursa. Hursa kan punya musik yang keren banget dan Nadhif Basalamah juga dia punya establishment yang kayak udah di titik tertentu gitu, kenapa enggak mereka dikolaborasikan menjadi satu musik yang menarik lalu di saat yang bersamaan ya gua bisa memperkenalkan Hursa ke khalayak yang lebih luas lagi, mungkin salah satunya sih kayak gitu ya."
 
"Terus pertimbangan lainnya mungkin ada beberapa musisi yang gua sudah nyaman kerja dengan mereka, tapi ya gua hadirkan lagi ketidaknyamanannya. Misalkan Hindia, gua udah pernah kerja bareng sama Hindia tapi gua belum pernah kerja bareng sama Banda Neira. Gue merasa 'wah kenapa enggak ini di-pairing? kan menarik ya'. Itu bentuk kayak biar 'oh gua pengen nyaman tapi gua juga pengen keluar dari zona nyaman juga'. Salah satu pertimbangannya sih itu. Nah kenapa enggak ada Danilla gitu di EP hang pertama ini? Jujur aja gua pengen ada Danilla tapi mungkin bukan di volume satu kali ya. Harapan gua bisa di volume dua sih kayaknya hahaha."
 
Harapan Lafa Pratomo untuk debut EP Garis Tegak?
"Harapannya bisa ramai lah ya, bisa banyak orang yang mendengarkan. Tapi lebih utamanya lagi ya message-nya bisa nyampai sih, dan bisa jadi satu rilisan penyegar mungkin yang kayak 'Oh ada yang menarik nih'. 
 
"Intinya bisa buat menyenangkan banyak orang, Karena musik harus menyenangkan kalau menurut gue. Bikinnya harus menyenangkan dan dengerinnya pun bisa bikin orang senang."
 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA