R.A.S.Y.A band bawa kasus dugaan pelecehan di acara gigs karhutla ke jalur hukum (Foto: Instagram @tsyaxlee_)
R.A.S.Y.A band bawa kasus dugaan pelecehan di acara gigs karhutla ke jalur hukum (Foto: Instagram @tsyaxlee_)

Acara Amal Kebakaran Hutan Diwarnai Pelecehan, Celana Dalam Dipajang di Atas Panggung

Basuki Rachmat • 23 September 2026 11:35
Ringkasnya gini..
  • Natasya, vokalis band R.A.S.Y.A, mengalami dugaan pelecehan seksual nonverbal saat tampil di Palangka Raya.
  • Terlapor Ain Koto (gitaris Headquarter) telah menyampaikan permintaan maaf dan mengklaim aksinya sebatas spontanitas.
  • Pihak korban menolak alasan gimmick dan resmi melaporkan insiden tersebut ke Polda Kalteng menggunakan UU TPKS.
Jakarta: Dugaan pelecehan seksual dialami Natasya, vokalis perempuan band pop R.A.S.Y.A, saat tampil dalam acara penggalangan dana untuk korban dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Noisfest Gigs Vol. 1 "Chaoshutla" di kawasan Jalan G. Obos, Kota Palangka Raya, pada Minggu malam, 20 September 2026.

Natasya diduga mengalami pelecehan nonverbal yang dilakukan Ain Nasriko alias Ain Koto, gitaris band punk Headquarter. Peristiwa tersebut terjadi ketika Natasya tengah tampil bersama R.A.S.Y.A.

Dalam sejumlah video yang beredar, Ain Koto terlihat memberikan pakaian dalam perempuan kepada Natasya. Benda tersebut bahkan sempat diletakkan di atas stand lirik yang berada di hadapan sang vokalis.

Merasa tindakan tersebut telah merendahkan dirinya di hadapan publik, Natasya kemudian angkat bicara melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, @tsya_caa04, pada Senin, 21 September 2026. Ia membagikan video yang memperlihatkan momen ketika dirinya menerima benda tersebut.

Natasya mengaku terkejut dan emosional saat kejadian berlangsung. Ia bahkan sempat terpikir untuk melempar stand lirik ke arah Ain Koto, tetapi memilih menahan diri karena mempertimbangkan situasi di lokasi acara.

"Saat saya baru mulai menyanyi, tiba-tiba orang itu memberikan CD wanita di hadapan saya, di sini sebenarnya pikiran dan perasaan saya sdh ga terkontrol mau lempar stand book itu ke dia. Untungnya OTAK saya masih bisa berfungsi untuk berpikir dengan kondisi yang ada," ungkap Natasya dalam keterangan unggahannya.

Ia menilai tindakan tersebut tidak dapat dianggap sebagai candaan karena dilakukan tanpa adanya komunikasi atau persetujuan sebelumnya.
 


"Kami sangat kesal dengan perlakuan orang tersebut terhadap saya seperti merendahkan perempuan, dan melecehkan saya dihadapan banyak orang," lanjutnya.

Natasya juga menyinggung alasan gimmick yang kemudian muncul dalam polemik tersebut. Menurutnya, tidak ada komunikasi sebelumnya antara dirinya dengan Ain Koto terkait aksi tersebut.

"Sorry to say, kalo mau gimmick paham situasi dan kondisi karna di sini saya tidak kenal sama sekali dengan orang tersebut untuk briefing kalau ada gimmick pun nggak ada," ungkap Natasya.

"Jika bagi anda perempuan itu sangat sehina itu lalu darimana anda lahir? Saya tidak habis pikir dengan situasi seperti ini pelaku tersebut masih membela dirinya dengan menyebut kami ini baperan dan lain," tutupnya.
 


Ain Koto Sampaikan Permintaan Maaf

Setelah video tersebut menjadi perhatian publik, Ain Nasriko alias Ain Koto akhirnya memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan permintaan maaf melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @ainkoto, pada Selasa, 22 September 2026.

Dalam pernyataannya, Ain Koto meminta maaf secara langsung kepada Natasya dan seluruh personel R.A.S.Y.A atas tindakan yang dilakukannya saat acara berlangsung.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada hari ini, Selasa, 22 September 2026, ijinkan saya, Ain Nasriko alias Ain Koto, atas nama pribadi, membuat pernyataan resmi dan dalam kesempatan ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Natasya dan R.A.S.Y.A Band atas perbuatan yang saya lakukan di Noise Fest Gigs," ungkap Ain Koto.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Palangka Raya dan Kalimantan Tengah atas kegaduhan yang muncul setelah kejadian tersebut.

"Kepada seluruh masyarakat Palangka Raya, khususnya di Kalimantan Tengah, saya mohon maaf atas segala kegaduhan yang terjadi akibat perbuatan saya itu," lanjutnya.

Ain Koto menyebut aksinya dilakukan secara spontan dan membantah adanya niat untuk merendahkan perempuan maupun melakukan pelecehan.

"Kejadian tersebut, saya lakukan secara spontan tanpa ada kesengajaan untuk menjatuhkan harkat martabat wanita, kesenian maupun masyarakat Kalimantan Tengah. Tidak ada maksud untuk melakukan pelecehan apapun," tuturnya.

"Dalam kesempatan ini, saya menyatakan untuk kedepannya saya tidak akan mengulangi kesalahan saya tersebut. Sekali lagi, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya," tutup Ain Koto.

Natasya Tempuh Jalur Hukum

Permintaan maaf tersebut tidak menghentikan langkah Natasya dan pihak R.A.S.Y.A. Pada Selasa, 22 September 2026, Natasya bersama Wahyudi, gitaris R.A.S.Y.A, melaporkan Ain Koto ke Polda Kalimantan Tengah. Keduanya didampingi kuasa hukum Jeffriko Sean.

Jeffriko menjelaskan bahwa laporan tersebut dibuat oleh Natasya dan Wahyudi dengan Ain Nasriko sebagai pihak yang dilaporkan. Dugaan perbuatan tersebut dilaporkan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), khususnya Pasal 4 dan Pasal 5.

“Pelapornya yang pertama adalah saudari Natasya, yang kedua adalah Wahyudi. Terlapornya itu Ain Nasriko. Dugaannya adalah pelanggarannya Undang-Undang TPKS Nomor 12 Tahun 2022 Pasal 4 dan Pasal 5. Di situ jelas bahwa pelecehan non-verbal terhadap perempuan,” jelas Jeffriko, dikutip dari akun Instagram @r.a.s.y.a_official pada Rabu, 23 September 2026.

Menurut Jeffriko, keputusan menempuh jalur hukum diambil karena pihak korban menilai peristiwa tersebut tidak semestinya dianggap sebagai candaan. Ia juga menyoroti konteks acara yang merupakan kegiatan penggalangan dana bagi korban kebakaran hutan dan lahan.

“Yang kedua, hak asasi korban pun harus kita jaga dan sebagainya. Karena di sisi lain, hari ini yang menjadi korban adalah perempuan. Jelas perempuan itu dilindungi. Dan mereka itu ikut kegiatan itu bayar Rp150.000, bayar untuk ikut kegiatan itu, namun malah yang terjadi adalah beliau dilecehkan,” tutupnya.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA