Dalam siniar terbaru Shindu's Scoop episode The SIGIT, Absar membagikan kisahnya tentang bagaimana ia menjaga produktivitas di tengah kesibukan dua proyek musik yang berbeda warna tersebut.
Bergabungnya Absar ke dalam tubuh Ali diakuinya terjadi secara organik. Awalnya, ia merupakan additional guitarist untuk The SIGIT, namun kemudian tawaran datang dari Coki dan Daru (Ali) untuk mengisi posisi gitaris permanen Ali.
Absar pun akhirnya didapuk menggantikan Kevin Septanto, gitaris Ali sebelumnya yang memilih untuk fokus mengeksplorasi musik bersama band utamanya, Elephant Kind, di Inggris.
“Saya sih dari dulu emang senang sesuatu hal yang challenging. Semua juga enggak didesain atau dibentuk dari awal seperti ‘Yuk kita bikin ini,’ enggak, organik aja. Kayak sama Ali juga sebelumnya mereka juga udah sempet jalan kan. Sampai akhirnya Kevin, gitaris Ali sebelumnya, dia udah harus jalan juga sama band-nya (Elephant Kind). Terus saya diajakin gitu, jadi semuanya itu jadinya emang harus dijalani," ungkap Absar.
Mengatur waktu antara The SIGIT dan Ali ternyata sempat membuat Absar sakit kepala. Apalagi, sejak merilis album debut Malaka (2023), Ali sukses melebarkan sayap dengan melakukan rangkaian tur internasional ke Eropa, Australia, hingga Jepang.
Absar pun menyadari bahwa kunci utama untuk tetap bertahan di dua band ini adalah kompromi dan keterbukaan dalam komunikasi.
"Awalnya agak pusing, tapi pada akhirnya udah mulai dapet si ritme-nya. Nyusun jadwal Ali ini tuh datangnya emang bisa satu tahun sebelumnya. Jadi komunikasi yang baik antara manajer The SIGIT dan sama Ali juga saya harus maintain gitu," tuturnya.
Tak hanya soal jadwal, Absar juga merasakan tantangan secara teknis. Memainkan rock bersama The SIGIT dan Arabic funk bersama Ali membutuhkan pendekatan yang berbeda. Absar mengaku sempat mengalami momen "aneh" saat mencoba menerapkan gaya teknis dari satu band ke band lainnya.
"Menurut saya dari Ali sama SIGIT itu memang nggak bisa disamain. Jadi ada beberapa hal yang biasanya pas awal-awal saya jalanin ada rasa agak sedikit aneh gitu. Kayak misalnya lagi intens sama SIGIT, dapet masukan tentang teknis, tiba-tiba saya coba terapkan di Ali, ternyata nggak semudah itu," ujar Absar.
Namun, pengalaman tur internasional bersama Ali justru memberikan perspektif bermusik baru yang segar bagi Absar. Ia pun mengaku sering membawa pulang "oleh-oleh" berupa ide-ide menarik untuk didiskusikan bersama para personel di band The SIGIT.
“Tapi pada akhirnya yang saya rasa di poin sekarang ya, rasanya tuh ketika dapet satu input yang positif, itu ternyata bisa dikomunikasikan dan akhirnya mungkin ada beberapa poin yang bisa dikomunikasikan sama anak-anak Ali ataupun The SIGIT. Jadinya ketika udah pulang dari perjalanan Ali itu, ada beberapa input yang menarik yang mau saya diskusikan sama The SIGIT," tutup Absar Lebeh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News