Kehadiran materi anyar ini seolah menjadi oase bagi Insurgent Army (sebutan fans setia mereka) yang terakhir kali mendapatkan asupan single "Another Day" pada 2020 silam. Namun, comeback kali ini bukan sekadar urusan rilisan baru, The SIGIT membawa transformasi besar lewat formasi anyar yang menjanjikan eksplorasi musikal lebih luas.
Kini, formasi The Sigit pun mengalami perubahan dengan masuknya Absar Lebeh (gitar), Aghan Sudrajat (bas), dan Raveliza (drum) sebagai personel resmi, menemani Rektivianto Yoewono (vokal, gitar) dan Farri Icksan Wibisana (gitar), dua personel awal The SIGIT yang bertahan.
Alasan The SIGIT Vakum Album Selama Lebih dari Satu Dekade
Dalam sesi bincang-bincang di siniar Shindu's Scoop episode The SIGIT, Rekti dan Farri membedah alasan mengapa mereka membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk kembali menelurkan album."Sebenarnya dari tahun 2013 sampai hari ini, dalam kehidupan pribadi formasi lama, banyak yang terjadi. Kegiatan bermusiknya tidak menjadi hal utama 100%. Manggung masih, tapi membuat karya itu membutuhkan waktu khusus yang tidak terlaksana dengan lancar. Lalu datanglah pandemi, dan akhirnya ada keputusan untuk tidak berkumpul lagi dengan beberapa anggota. Baru di akhir tahun 2024, dengan tambahan anggota baru (Absar, Ravel, dan Aghan) baru terasa terbentuk lagi secara unit band untuk berkreasi," ungkap Rekti.
Farri pun mengamini pernyataan Rekti dengan menekankan pentingnya chemistry atau pendekatan emosional dengan para personel baru The SIGIT.
"Kurang lebih sama seperti Rekti. Ada kisah pandemi, kisah personil, dan bersama Absar, Ravel, serta Aghan ini proses semacam "perkawinan" atau pendekatan secara emosional. Itu tidak mudah. Kita mencari ramuan baru, warna baru, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar," tutur Farri.
Dari Circle Terdekat Menjadi Penerus Legasi The SIGIT
Menariknya, para personel baru The SIGIT bukanlah orang asing di lingkaran band ini. Kehadiran mereka membawa visi dan energi baru yang memperkuat pondasi band.Sang gitaris, Absar Lebeh sudah membantu The SIGIT sebagai additional player sejak era album Detourn (2013). Kedekatannya dengan Rekti lewat hobi skateboard memuluskan jalannya menjadi personel tetap band rock ini.
"Jauh sebelum The SIGIT yang sekarang, saya memang sering ketemu Rekti karena main skateboard. Singkat cerita, The SIGIT butuh additional player saat album Detourn (2013) karena Rekti kesulitan main gitar sambil menyanyi dengan komposisi lagu yang rumit. Dari 2014 saya sudah ikut, jadi saya merasa sudah menjadi bagian dari perjalanan The SIGIT," ungkap Absar.
Sementara itu, Aghan Sudrajat sebelum resmi menjadi personel permanen, ia telah memiliki sejarah panjang sebagai kru The SIGIT selama 11 tahun sebelum akhirnya menggantikan posisi Adit dalam departemen bass.
"Kalau gue, sebelum masuk menggantikan Adit, gue sudah kerja bareng The SIGIT selama 11 tahun (sebagai kru). Mereka sudah seperti keluarga. Pas kesepakatan ini ada, gue cuma pengen kalau memang mau maju dengan personel baru, visi dan kebiasaannya juga harus baru. Sayang kalau dilewatkan, karena kesempatan tidak datang dua kali," ujar Aghan.
Baca Juga :
Acil Armando Isyaratkan Hengkang dari The Sigit
Hal serupa juga dirasakan Ravel yang sebelumnya bermain bersama Aghan di band Monkey to Millionaire. Ia awalnya hanya diminta membantu ketika drummer lama The SIGIT berhalangan tampil.
"Kalau saya berawal dari nge-band bareng Mas Aghan di Monkey to Millionaire. Terus pas workshop SIGIT lagi, Mas Acil (drummer lama) sering absen karena kesibukan kerja. Akhirnya Mas Aghan menghubungi saya untuk membantu. Dari situ ya lanjut, pengen ikut berpartisipasi mempertahankan legasi The SIGIT," tutur Ravel.
Di sisi lain, Rekti menegaskan bahwa keputusan untuk terus melanjutkan perjalanan The SIGIT lahir dari keyakinan bahwa mereka masih memiliki potensi besar untuk berkarya, terutama setelah mendapatkan sokongan bantuan dari Absar, Aghan, dan Ravel sebagai personel baru penerus legasi The SIGIT.
"Kalau saya jujur, musik itu yang utama. Saya tidak punya partner lain selain Farri dalam banyak momen. Untuk berhenti bagi saya pribadi adalah menyia-nyiakan kesempatan. Kami berdua merasa masih punya potensi untuk membuat lagu. Begitu Absar, Aghan, dan Ravel bersedia bergabung, ya sudah, lanjut," tutup Rekti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News