Erros Djarot  (Foto: Kolam Ikan Creative Communication)
Erros Djarot (Foto: Kolam Ikan Creative Communication)

Erros Djarot: Sebelum Saya Dikubur, Saya Akan Berkarya Terus

Basuki Rachmat • 26 April 2026 13:54
Ringkasnya gini..
  • Erros Djarot hidupkan nostalgia lewat konser “Badai Pasti Berlalu” di Balai Sarbini.
  • Konser karya Erros Djarot hadirkan lintas generasi, dari Once Mekel hingga Ardhito Pramono.
  • Erros Djarot puji konser, tapi beri catatan: aransemen kurang “ndugal”.
Jakarta: Pencipta lagu sekaligus maestro musik Indonesia, Erros Djarot, sukses menghadirkan gelombang nostalgia lewat konser Badai Pasti Berlalu Live in Concert yang digelar di Balai Sarbini, Jakarta, pada Sabtu malam, 25 April 2026. Pertunjukan ini menjadi penanda perjalanan 52 tahun dedikasi Erros di industri musik Tanah Air.
 
Sejumlah karya legendaris seperti “Badai Pasti Berlalu”, “Semusim”, “Merepih Alam”, hingga “Pelangi” kembali dihidupkan dalam balutan aransemen megah tanpa kehilangan ruh orisinalnya. Konser yang digagas bersama Kolam Ikan Creative Communication ini menghadirkan deretan musisi lintas generasi, mulai dari Once Mekel, Titi DJ, Vina Panduwinata, Rio Febrian, Ardhito Pramono, Monita Tahalea, hingga Dearly Dave.
 
Usai konser berlangsung, Medcom.id pun berkesempatan untuk berbincang santai langsung dengan komposer berusia 75 tahun tersebut di balik panggung. Erros pun mengungkapkan bahwa ide konser bermula dari tawaran pihak promotor.
 
"Anak-anak itu (Iwan & Ade dari Kolam Ikan Creative Communication) mau minta lagu-lagu saya bisa nggak dibuat menjadi sebuah konser. Saya bilang ya silakan saja. Mereka bertanya 'Persyaratannya apa?'. 'Nggak ada, persyaratannya jangan jelek aja, hanya itu saja'. Dan ternyata ya baguslah ya," ungkap Erros Djarot.
 

Terkait Musisi Kolaborator dan Teknis pada Konser

Erros Djarot menegaskan bahwa dirinya memberikan kebebasan penuh kepada pihak Kolam Ikan Creative Communication, baik dalam pemilihan sejumlah musisi kolaborator yang terlibat maupun konsep pertunjukan.

"Saya serahkan semua kepada mereka menentukan artis-artisnya. Kecuali ada satu orang yang ditanyakan kepada saya, ya saya jawab. Untuk masalah lagu juga yang saya ubah cuma satu aja di bagian intro. Semua ini karya anak-anak itulah (promotor), dan memang saya berikan kebebasan," terangnya.
 
Erros juga mengaku bahwa dirinya tidak banyak campur tangan dalam proses kurasi setlist maupun aransemen untuk konsernya tersebut. Baginya, memberikan kebebasan interpretasi kepada musisi lain adalah bentuk penghormatan tertinggi sesama seniman.
 
"Saya datang latihan juga cuma satu kali dan saya tidak intervensi apa-apa ke mereka, saya cuma dengerin aja. Karena saya juga seorang pencipta lagu ya, kalau diintervensi itu nggak enak. Jadi biar itu interpretasi mereka. Masa seniman tidak memberi kebebasan ke seniman yang lain," tutur Erros Djarot.
 
"Saya cuman mendoakan dan mengamin-amini saja. Kalau saya ditanya baru saya jawab, terserah kalian yang menentukan," lanjutnya.
 
Respons Erros Djarot Setelah Karya-Karyanya Dipentaskan Kembali: "Kurang Ndugal!"
Lagu-lagu dalam konser ini dibalut dengan aransemen baru hasil tangan dingin Demas Narawangsa dan Yankjay dalam format full live band orchestra. Meski memuji kerapihan musik malam itu, Erros memberikan catatan menarik bagi para juniornya agar lebih berani bereksplorasi.
 
"Saya bilang sama konduktornya kan, 'Kamu tuh terlalu sopan, harus lebih ndugal' Ndugal itu kayak lebih bandel gitu lah ya. Sebab musiknya tuh sangat-sangat rapi. Kalau menurut saya sih ya bagus, cuman lebih bagus lagi nanti dari pengalamannya itu harus lebih bandel dan berani lagi ya. Karena ini sangat sopan banget, kayak rapi banget gitu ya, pake jas hahaha. Tapi menurut saya sih bagus, udah bagus," tutur Erros Djarot antusias.
 
"Secara standar sih udah oke ya, cuma memang perlu pengalaman lagi sehingga menghidupkan panggung itu lebih oke," lanjutnya.
 

Tak Berkutat di Badai Pasti Berlalu

Bagi banyak orang, album Badai Pasti Berlalu adalah puncak kariernya dalam bermusik di Tanah Air. Namun bagi Erros Djarot, ia merasa dirinya kini enggan terjebak dalam romantisme masa lalu.
 
"Saya nggak tahu. Tapi kalau ada tawaran, buat saya kalau terlalu asik di situ (album Badai Pasti Berlalu) nggak move on. Kalau saya sih berjalan saja, tapi kalau kamu tanya musik mana dari ciptaan saya yang saya suka, saya bakal jawab: 'yang akan datang'," ungkap Erros Djarot.
 
Menutup perbincangan, Erros Djarot pun menegaskan komitmennya untuk tidak akan pernah berhenti melahirkan karya selama dirinya belum dipanggil oleh sang maha kuasa.
"Insyaallah sebelum saya dikubur pasti saya akan berkarya terus," tutup Erros Djarot.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA