Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra (Foto: Instagram @guruh_soekarno_putra)
Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra (Foto: Instagram @guruh_soekarno_putra)

Estetika Bahasa Lirik Guruh Soekarnoputra yang Anggun Puitis dan Abadi

Elang Riki Yanuar • 26 September 2026 16:20
Ringkasnya gini..
  • Wafatnya Guruh Soekarnoputra pada usia 73 tahun di RS MRCCC Siloam Hospitals Jakarta meninggalkan warisan karya lagu dengan bahasa puitis yang tinggi.
  • Guruh dikenal piawai merangkai kata-kata puitis dan istilah arkais seperti puspa dan swara menjadi lirik lagu pop yang sangat elegan.
  • Pemilihan diksi yang halus serta penyampaian pesan yang santun menjadikan lirik lagu ciptaannya abadi dan terus dicintai berbagai generasi.
Jakarta: Dunia seni pertunjukan tanah air diselimuti duka mendalam seiring berpulangnya sang maestro Guruh Soekarnoputra pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB. Putera bungsu Presiden Proklamator RI Bung Karno dan Ibu Fatmawati ini mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.

Momen berpulangnya setelah menjalani perawatan medis intensif menandai berakhirnya perjalanan seorang tokoh besar, yang meninggalkan warisan peradaban bahasa luar biasa berupa untaian lirik lagu pop puitis bernilai estetika tinggi tanpa tandingan dalam panggung musik nasional.

Penggunaan Istilah Indah dan Diksi Puitis yang Elegan

Salah satu keunikan utama dari karya-karya ciptaan Guruh terletak pada kejelian dan keberaniannya memilih kosakata. Guruh kerap menyisipkan kata-kata puitis, serapan bahasa Sanskerta, hingga istilah arkais seperti 'puspa' (bunga), 'swara' (suara), 'maharddhika' (berjiwa besar/berbudi luhur), 'renjana' (rasa rindu/cinta yang mendalam), hingga 'gita' (nyanyian).

Pengolahan kata tersebut membuat lagu-lagunya tidak sekadar hadir sebagai hiburan pop komersial, melainkan menjelma menjadi sastra musik yang anggun, berkelas, dan memperkaya kosa kata pendengarnya.
   

Kesantunan Bertutur dalam Mengungkapkan Rasa Asmara

Di balik melodi pop yang dinamis maupun melankolis, Guruh memiliki gaya bertutur yang sangat halus dan santun dalam menggambarkan perasaan cinta. Karakter penulisan liriknya lebih mengedepankan kekaguman yang terhormat, kejujuran batin, serta kerendahan hati daripada ekspresi hasrat yang vulgar.

Pada lagu "Kala Cinta Menggoda", misalnya, kepasrahan emosi disampaikan dengan susunan kata yang sangat sopan namun begitu membekas di hati:

"Maka izinkanlah aku mencintaimu"

"Atau bolehkanlah aku sekadar sayang padamu"

(Penggalan lirik Kala Cinta Menggoda - Cipt. Guruh Soekarnoputra)

Keberhasilannya memadukan rima, ritme, dan tata bahasa yang rapi tanpa membuat lirik terasa kaku menunjukkan kepekaan linguistik tingkat tinggi dari sang maestro.

Keabadian Bahasa yang Melintasi Batas Generasi

Kejeniusan Guruh dalam merawat dan mengolah bahasa Indonesia melalui musik menjadi alasan utama mengapa lagu-lagunya tak pernah terdengar usang. Diksi puitis yang ia rangkai puluhan tahun lalu terbukti tetap relevan dan nyaman dinyanyikan oleh generasi muda masa kini, baik dalam versi aransemen ulang maupun sebagai lagu latar di berbagai media sosial.

Warisan estetika bahasa yang ditinggalkan Guruh Soekarnoputra menjadi bukti nyata bahwa bahasa Indonesia dapat tampil begitu indah, megah, dan memikat ketika dirangkai oleh tangan seorang seniman sejati. (Dinda Intan Ramadhani)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA