Jakarta: Lomba Sihir mengatakan detail keseharian dalam lirik mereka bukan hasil pencarian metafora yang rumit. Benda-benda sederhana itu muncul karena menjadi bagian dari cerita yang sedang mereka bicarakan.
Abu rokok, remah makanan, dan rambut yang terselip di sofa mungkin bukan gambaran yang lazim dianggap puitis. Namun, bagi Lomba Sihir, detail seperti itu dapat menjadi bagian penting dalam membangun cerita sebuah lagu.
Dalam wawancara di program pengarsipan musik Shindu’s Scoop, personel Lomba Sihir menjelaskan pendekatan mereka terhadap penggunaan bahasa sehari-hari dan objek yang dekat dengan kehidupan domestik. Mereka tidak selalu berangkat dari keinginan untuk menciptakan kalimat yang terdengar indah.
Gitaris Rayhan Noor menjelaskan bahwa detail tersebut muncul karena sesuai dengan konteks cerita yang sedang dibicarakan. Sofa, misalnya, merupakan tempat seseorang melakukan banyak aktivitas: makan, menonton, beristirahat, hingga menghabiskan waktu bersama orang lain.
“Ya emang setelah dibayangkan, sofa tuh karena lu makan di situ, nonton di situ, tiduran di situ,” ujar Rayhan.
Bagi Lomba Sihir, detail tersebut dapat menyampaikan gambaran tentang sebuah ruang tanpa harus menjelaskannya secara panjang lebar. Abu rokok dan sisa makanan, misalnya, dapat mengingatkan pendengar bahwa sofa itu sering digunakan dan menjadi tempat orang menghabiskan waktu.
Enrico juga menjelaskan bahwa benda-benda tersebut mungkin terlihat tidak berarti jika dipisahkan dari keseluruhan cerita. Namun, ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat, detail itu dapat membawa ingatan tertentu.
“Kalau lo ngelihat si abu rokok, remah makanan, itu mengingatkan kita akan sesuatu,” ujarnya.
Simak kisah-kisah menarik lain dari Lomba Sihir dalam tayangan Shindu's Scoop di bawah ini:
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan