Bernadya (Foto: Medcom/Ratu)
Bernadya (Foto: Medcom/Ratu)

Bernadya Mau Musik "Katro" di Album Baru, Produser Kebingungan

Elang Riki Yanuar • 06 Februari 2026 11:15
Ringkasnya gini..
  • Bernadya siap rilis album kedua pertengahan 2026 dengan sentuhan nostalgia 2000-an yang ia sebut “katro”, tapi tak dijadikan label utama.
  • Makna “katro” versi Bernadya adalah progresi chord sederhana ala musik 2000-an, namun sulit diterjemahkan produser karena tafsirnya luas.
  • Album baru Bernadya digarap 85 persen, bernuansa nostalgia dan lebih dewasa, tanpa mengklaim sepenuhnya sebagai musik era 2000-an.
Jakarta: Bernadya siap meluncurkan album studio keduanya pada pertengahan tahun 2026. Kali ini, ia menggandeng sejumlah produser untuk menghidupkan nuansa baru yang diinginkan di album itu. 
 
Para produser kesulitan untuk menerjemahkan kata tersebut dalam aransemen musik. Musisi berusia 21 tahun itu mengartikan “katro” sebagai suasana di era 2000-an.
 
“Jadi, setiap kali aku mau ngomong ke produser, ‘(mau musik) 2000-an atau katro,’ produser, tuh, selalu kesusahan untuk mengartikan apa maksudku. Maksudnya, 2000-an, tuh, kan, sangat luas, ya. 2000-an itu sangat luas dalam segi musik, pop culture in general, lah,” paparnya.

Karena pemahaman orang terhadap era itu beragam, Bernadya dan Boim, CEO Label Musik Juni Records, tak ingin menetapkan nuansa 2000-an sebagai fokus utama album. Mereka hanya akan menambahkan sedikit sentuhan dari masa tersebut. Pelantun “Kita Buat Menyenangkan” turut menjelaskan alasannya.
 
“Karena kita, dia (Boim) dan aku, yang takut. Takut selalu gagal dalam menyampaikannya dan orang enggak bisa nangkap itu gitu. Jadi, 2000-an-nya dalam hal apa? Kalau aku tadi bilangnya ke produser, pokoknya aku rasa, entah kenapa, benang merahnya dari semua musik di tahun 2000-an itu katro,” jelas Bernadya.
 
Lanjutnya, “Katro itu, maksudnya, musiknya itu progresi chord-nya straightforward, terus enggak yang banyak banyak nyekil gitu.”
 
Bernadya ingin menangkap aura nostalgia ala tahun 2000-an di album selanjutnya. Proyek ini juga digambarkan sebagai “versi Bernadya yang lebih dewasa sedikit”. Namun, ia tetap khawatir kalau persepsi orang terhadap era 2000-an akan berbeda dengan visinya.
 
“Jadi, kita enggak pernah mau melabel semua musik pun nanti sebagai musik yang 2000-an gitu. Tapi, (sebagai) musik yang nostalgic sama orang ngerasa itu membawa mereka ke satu masa yang mungkin mereka pernah tinggal di situ gitu,” ceritanya.
 
Bernadya melakukan riset bersama Boim, CEO label musik Juni Records, serta Rendy Pandugo yang tumbuh di era 2000-an. Musisi kelahiran 2004 ini juga mengungkap hal-hal yang membuatnya percaya diri untuk menggarap album bernuansa nostalgia. 
 
“Kalau secara musik, aku, tuh, karena berangkatnya dari ‘Untungnya (Hidup Harus Tetap Berjalan).’ Tadi, aku udah sempat cerita, ‘Untungnya’ itu, orang juga selalu merasa, somehow, ‘Untungnya’ terasa nostalgia gitu, terasa seperti mendengarkan band tahun 2000-an gitu,” tutupnya.
 
Usai menggelar konser Babak Penutup: Untungnya, Untungnya pada bulan Juni tahun lalu, Bernadya serta tim label musik langsung merekam dua lagu pertama beberapa hari setelahnya.
Konser tersebut juga sudah disepakati sebagai era penutup album Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Di saat yang sama, Bernadya sudah menyetor beberapa materi lagu untuk album berikutnya. 
 
Di akhir kata, co-founder Juni Records itu mengonfirmasi bahwa album terbaru Bernadya sudah 85 persen selesai digarap, mulai dari materi visual, teknis penggabungan instrumen dan vokal (mixing), hingga rekaman suara mentah.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 

 

 

 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA