Format live session dipilih bukan sekadar sebagai versi lain dari rekaman studio. Sejak proses pembuatannya, album keempat Reality Club memang dirancang dengan karakter yang lebih dekat dengan sebuah live band. Proses rekamannya pun dilakukan secara langsung.
Gitaris sekaligus vokalis Reality Club, Faiz Novascotia Saripudin, mengatakan format tersebut ingin mereka pertahankan dalam sebuah presentasi yang lebih terkonsep.
“Kami ingin menunjukkan seluruh album ini, album keempat konsepnya memang sedikit lebih live band, bahkan rekamannya juga live. Jadi kita ingin menjaga format itu, tapi dalam presentasi yang dipersiapkan dengan baik. Jadi kenapa itulah kita bikin semacam live session dan kenapa sekarang? Karena mungkin pas juga setelah 10 tahun, dan pas juga setelah 1 tahun setelah rilis album ini.”
Secara aransemen, Reality Club tidak melakukan banyak perubahan terhadap versi studio. Namun, kehadiran visual, gestur, ruang, serta interaksi antarpersonel memberikan pengalaman berbeda ketika lagu-lagu tersebut dimainkan secara langsung.
Bagi Era Patigo, format pertunjukan menjadi bagian penting untuk memperluas pesan yang ingin disampaikan melalui album keempat.
“Gue merasa untuk album keempat ini, of course kami percaya diri dengan materinya, secara audio. Tapi kami merasa album ini perlu didukung juga dengan kehadiran visual dan live performance. Kami ingin menghadirkan energi membawakan lagu-lagu dalam album ini secara langsung dan pendengar dapat merasakan itu.”
Mempertahankan Unsur Rawness
Alih-alih mengejar penampilan yang sepenuhnya rapi, Reality Club justru memilih mempertahankan sejumlah momen spontan selama proses pengambilan gambar.
Salah satunya terjadi ketika gitar Faiz terjatuh. Mereka sempat mempertimbangkan untuk menggunakan pengambilan gambar lain yang tidak memiliki kejadian tersebut. Namun, akhirnya momen itu dipertahankan karena dianggap merepresentasikan energi dan kekacauan yang memang bisa muncul dalam pertunjukan langsung.
“Ada juga scene di mana gue salah menaruh gitar terus jatuh. Awalnya kami kayak diskusi gitu, ini di-keep apa kita pakai take yang lain, yang itu nggak jatuh. Kayaknya lucu deh kalau itu nunjukin the raw energy and the chaos sometimes in live performance gitu,” jelas Faiz.
Pendekatan serupa diterapkan dalam sesi wawancara yang disisipkan di antara penampilan. Setelah proses syuting, para personel mendapatkan pertanyaan secara spontan dari sutradara tanpa sebelumnya menerima daftar pertanyaan.
Cara tersebut digunakan untuk menangkap respons yang lebih natural mengenai hubungan mereka dengan album keempat serta perjalanan yang telah mereka lalui selama satu tahun terakhir.
“Menurut saya, dari live session dan wawancara, kami hanya ingin menangkap diri kami dalam bentuk yang paling mentah, sebenarnya. Kalau saya mengingatnya, koreksi kalau saya salah, sepertinya ini salah satu kali pertama kami membuat live session sendiri seperti ini. Biasanya kami melakukan live session di media atau di tempat lain, tetapi ini kami buat sendiri, dan ini bukan seperti live session sebuah konser, melainkan benar-benar dibuat khusus untuk tujuan live session.”
Who Knows Where Life Will Take You? | Live Session direkam dalam satu hari di sebuah ruang bergaya minimalis di kawasan Gading Serpong. Produksi teknis melibatkan tim REALITY CHECK serta tiga sutradara, yakni Nugie Rian, Abdul Defashah, dan Kariim Risyad.
Bagi Reality Club, proses tersebut akhirnya tidak hanya menghasilkan dokumentasi perjalanan album keempat. Pengalaman memainkan kembali materi tersebut dalam format berbeda juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk menemukan hal-hal baru dari musik yang telah mereka buat.
“Setiap kali kita live session, rekaman, segala macam, akan selalu ada sesuatu yang baru. Pengalaman dan pelajaran yang belum pernah kami rasakan,” tutup Era Patigo.