Festival tersebut digagas Hirdaya Sharma seorang presenter dan content creator yang berbasis di Melbourne, Australia. Pria kelahiran Nepal, 3 Agustus 2000, itu ingin menjadikan musik sebagai medium untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Bagi Hirdaya Sharma, Bhajan memiliki daya tarik yang lebih luas daripada sekadar musik keagamaan. Tradisi tersebut mengedepankan kegiatan bernyanyi bersama yang dapat menciptakan rasa kebersamaan di antara para pesertanya.
"Bhajan lebih dari sekadar lagu keagamaan. Bhajan menyatukan orang-orang melalui musik, pengabdian, dan rasa kebersamaan," kata Sharma.
Bhajan dalam tradisi Hindu biasanya dibawakan secara bersama-sama dengan iringan berbagai instrumen, seperti harmonium, tabla, dholak, dan manjira. Konsep tersebut kemudian ingin dikembangkan Sharma agar lebih dekat dengan selera dan kebiasaan generasi muda.
Baca Juga :
Viral Tantangan Baca Alquran Hadiah Miras, MC Booth Newport di The Sounds Project Buka Suara
Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah menghadirkan aransemen musik yang lebih modern tanpa menghilangkan makna spiritual. Konten digital, instrumen kontemporer, irama yang lebih segar, hingga subtitel multibahasa juga dinilai dapat membuat Bhajan lebih mudah diterima audiens masa kini.
"Memodernisasi Bhajan bukan berarti menghilangkan nilai spiritualnya. Pesannya tetap bisa mempertahankan tradisi, sementara penyajiannya menjadi lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman," ujarnya.
Pilihan Bali sebagai lokasi festival juga tidak terlepas dari pandangan Sharma terhadap Indonesia sebagai salah satu ruang penting dalam pertukaran budaya. Ia melihat Indonesia memiliki potensi besar untuk mempertemukan komunitas dan seniman dari berbagai negara.
"Indonesia, Nepal, dan Australia memiliki latar budaya yang berbeda, tetapi musik memberikan ruang yang sama bagi kita semua. Melalui Bhajan, para seniman dan komunitas dari ketiga negara dapat saling belajar dan memperkaya satu sama lain," kata Sharma.
Dalam persiapannya, Sharma bersama tim tengah membangun komunikasi dengan Jaktive.official sebagai agency pendukung penyelenggaraan festival. Penjajakan kerja sama dengan pemerintah daerah juga dilakukan, termasuk dengan Pemerintah Provinsi Bali.
Selain menghadirkan pertunjukan musik, festival ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya. Sharma menilai anak muda tidak harus meninggalkan tradisi ketika mengikuti perkembangan teknologi dan budaya modern.
"Kami mengajak seluruh generasi muda Indonesia untuk bersama-sama menyukseskan festival ini. Ini adalah kesempatan untuk mempererat persaudaraan lintas negara melalui musik, budaya, dan nilai-nilai spiritual," ujar Hirdaya Sharma.
Menurut Sharma, kreator konten juga memiliki peran dalam menjaga agar budaya tetap relevan di tengah perubahan zaman. Teknologi, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi tanpa harus mengubah nilai dasar yang terkandung di dalamnya.
"Generasi muda tidak seharusnya dipaksa memilih antara tradisi dan kehidupan modern. Mereka dapat tetap menghormati akar budaya sambil memanfaatkan teknologi dan kreativitas untuk menjaga budaya tetap hidup," ujarnya.
Melalui festival Hirdaya Sharma Bhajan, ia ingin membangun pengalaman yang tidak berhenti pada pertunjukan musik. Interaksi antara seniman, komunitas, dan penonton diharapkan dapat menciptakan pemahaman baru mengenai budaya dan spiritualitas.
"Visi saya adalah membuat Bhajan lebih mudah diakses oleh generasi baru. Ketika orang-orang bernyanyi bersama, mereka dapat membangun komunitas yang lebih kuat sekaligus memperdalam pemahaman lintas budaya," katanya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda