Sisir Tanah merupakan proyek musik solo yang digagas Bagus Dwi Danto sejak 2010. Nama Sisir Tanah memiliki arti garu, atau alat pertanian yang digunakan untuk mengolah tanah agar menjadi subur.
Diksi-diksi yang tergores dalam lagu band Sisir Tanah lebih bernada sosial dan bersifat kritis. Misalnya, lagu berjudul Konservasi Konflik. Di dalam lagu ini Danto menceritakan berbagai peristiwa sosial yang ada di sekitar masyarakat Indonesia, seperti korupsi, pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, serta buruh yang meninggal dibunuh, Marsinah. Selain masalah sosial itu, diksi-diksi yang disuratkan dalam lagu tersebut memang cukup panjang.
"Lagu ini (Konservasi Konflik) saya ciptakan di Yogya pada tahun 2010. Teksnya memang panjang, tapi ajeg," kata Danto ditemui Metrotvnews.com usai peluncuran album di LIP Yogyakarta.
Biasanya, Danto membawakan lagu-lagunya ketika manggung hanya seorang diri dengan sebuah gitar. Namun, dalam album yang digarap dengan bantuan produser Laras, sebuah Yayasan Kajian Musik, disajikan dengan beda.
10 lagu Sisir Tanah tak hanya diiringi gitar, tetapi juga dengan berbagai alat musik lainnya. "Album ini seperti buah perjalanan saya dalam bermusik. Jika diumpamakan ladang hidup, saya sudah menghasilkan buahnya. Kata 'woh' itu kan artinya buah," ujar Danto.
Selain lagu berjudul Konservasi Konflik, sembilan lagu lain yang ada di dalam album itu diantaranya Lagu Hidup, Obituari Air Mata, Lagu Wajib, Kita Mungkin, Lagu Bahagia, Lagu Pejalan, Lagu Romantis, Lagu Lelah, dan Lagu Baik.
Ia berharap lagu-lagu karyanya bisa dipahami dan dicerna dengan mudah oleh berbagai kalangan. Tak hanya itu, Danto juga berharap albumnya ketika didengar bisa menimbulkan semangat dan berani dalam melawan ketidakadilan.
"Tak hanya orang lain, tapi diriku sendiri juga," ucapnya.
Dalam penggarapan album, Danto bersama produsernya membutuhkan waktu untuk berproses dari Desember 2016 hingga Maret 2017. Sebelum album tersebut diluncurkan, Danto lebih dulu keliling ke 17 kota di Indonesia.
Beberapa kota yang disinggahi diantaranya Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, Sukabumi, Bandung, Purwokerto, Semarang, Salatiga, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, dan berakhir di Yogyakarta. Di tiap kota, Sisir Tanah membawakan setidaknya tujuh lagu.
"Di Yogyakarta ini menjadi yang terakhir sekaligus peluncuran album," ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah lagu di album Sisir Tanah bakal dimasukkan dalam album kompilasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain Sisir Tanah, beberapa band yang lagunya akan masuk dalam album kompilasi KPK diantaranya Navicula dan Symphoni.
Sejumlah musisi juga tampak hadir dalam peluncuran album Sisir Tanah, antara lain Fajar Merah, putra aktivis yang hilang di era orde baru Wiji Thukul, Ananda Badudu (eks personel Banda Neira), serta Marzuki 'Kill The DJ', personel Jogja Hiphop Foundation.
Tak hanya hadir, Fajar Merah dan Ananda Badudu juga iku membawakan sejumlah lagi saat pembukaan acara. Fajar Merah membawakan lagu diantaranya Suara-suara serta Bunga dan Tembok. Sementara, Ananda Badudu membawakan lagu berjudul Bersama-sama Waktu, Seusai Gulita, dan Esok Jumpa.
"Semoga Danto dan Sisir Tanah sukses dengan album barunya," ujar Ananda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News