Bernadya (Foto: dok. JUNI Records)
Bernadya (Foto: dok. JUNI Records)

Bernadya Rilis Album Semoga Hanya di Mimpi, Lahir dari Ketakutan yang Lama Dipendam

Basuki Rachmat • 24 Juni 2026 22:50
Ringkasnya gini..
  • Bernadya merilis album Semoga Hanya di Mimpi yang terinspirasi dari ketakutannya terhadap kebahagiaan dan ketenangan hidup.
  • Album kedua Bernadya menghadirkan warna pop Indonesia era 2000-an dengan sentuhan organik dan lirik yang personal.
  • Bernadya menggandeng Baskara Putra, Petra Sihombing, Rendy Pandugo, hingga Perunggu dalam proses kreatif album barunya.
Jakarta: Penyanyi dan penulis lagu Bernadya resmi merilis album penuh keduanya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi pada Rabu, 24 Juni 2026. Lewat album ini, solois asal Surabaya tersebut menuangkan berbagai kegelisahan dan ketakutan yang selama ini menghantuinya, terutama mengenai rasa bahagia dan ketenangan dalam hidup.
 
Bagi sebagian orang, rasa takut biasanya diungkapkan lewat cerita kepada orang terdekat, ditulis dalam jurnal, atau bahkan dipendam sendiri. Namun, Bernadya memilih cara berbeda. Ia menjadikan ketakutan-ketakutan tersebut sebagai fondasi utama dalam album terbarunya.
 
Dirilis oleh JUNI Records ke platform-platform musik digital pada 24 Juni 2026 dengan format kaset dan CD segera menyusul, ini adalah karya solo terbaru pertama Bernadya sejak  Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, album penuh perdananya yang sukses meroketkan namanya dan meraih tiga piala AMI Awards 2024.

“Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang, pemikiran yang aneh memang, tapi bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya. Aku pertama kali menemukan kalimat Semoga Hanya di Mimpi karena baca artikel tentang cherophobia, ketakutan akan kebahagiaan karena takut di balik kebahagiaan itu ada sesuatu yang buruk,” ungkap Bernadya dalam keterangan resmi yang diterima oleh Medcom.id pada Rabu, 24 Juni 2026.
Berbeda dengan album sebelumnya yang lahir dari berbagai peristiwa besar dalam hidupnya, album kali ini justru tercipta saat kehidupannya berjalan normal dan relatif tenang.
 
“Kali ini albumku lahir saat tidak ada momen yang begitu besar atau spesial dalam hidupku. Jadi semua berjalan normal dan baik-baik saja, hidupku seperti menjalankan rutinitas normal. Tapi justru di saat seharusnya bisa menikmati ketenangan dan bahagia dengan apa yang kudapat dan kucapai dari usahaku, entah kenapa rasanya selalu waswas karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar dan enggak aku inginkan," lanjutnya.
 
Ketakutan tersebut bahkan sempat memengaruhi proses kreatif Bernadya saat menulis lirik.
 
“Sempat berpikir untuk menulis ulang beberapa lirik di lagu ‘Laut yang Tenang’ karena takut hal-hal buruk yang kusebutkan di lagunya jadi doa, tapi rasanya lirik yang keluar pertama itulah yang benar-benar ingin kutuangkan,” tutur Bernadya.

Libatkan Sejumlah Musisi dan Produser Ternama Tanah Air

Dalam proses produksinya, Semoga Hanya di Mimpi melibatkan sejumlah nama baru yang untuk pertama kalinya bekerja sama dengan Bernadya.
 
Enrico Octaviano, produser sekaligus drummer Lomba Sihir, menggarap lagu "Sebelum Jadi Panjang" dan "Laut yang Tenang", yang juga melibatkan kontribusi penulisan dari Baskara Putra. 
 
Sementara itu, Dennis Ferdinand yang dikenal lewat kiprahnya bersama Perunggu turut mengerjakan "Peluk Aku Sekarang!", sedangkan Vega Antares membantu proses kreatif "Menyenangkan Mengenalmu".
Di sisi lain, dua kolaborator lama Bernadya kembali terlibat dalam album ini. Rendy Pandugo menangani lagu "Lawan Waktu dan Jarak", "Rabun Jauh", "Tolong Bilang Ini Mimpi", serta "Belum Sempat Kenal". Adapun Petra Sihombing menggarap "Wanita Tak Punya Malu" dan "Kita Buat Menyenangkan."
 
Menurut Bernadya, bekerja dengan banyak produser baru menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses kreatif.
 
“Ini pertama kalinya bekerja dengan banyak produser baru dan harus menulis lagu dari nol. Aku harus menyesuaikan gaya penulisanku dengan cara kerja mereka, dan mereka juga harus menyesuaikan dengan caraku menulis dan bekerja,” katanya.
 
Ia juga mengaku terkesan dengan cara kerja Perunggu yang dinilainya sangat cepat dan spontan.
 
“Kalau dengan Mas Petra dan Mas Rendy, aku sudah mengerti cara kerja mereka dan bahwa proses kreatif kadang tak bisa dipaksakan. Tapi dengan Perunggu, entah apa karena mereka dulu orang kantoran, cara menulisnya kayak enggak ada jeda. Mereka selalu punya ide, dan lagunya selesai dalam dua jam," sambungnya.

Terinspirasi Musik Indonesia Era 2000-an

Dari sisi musikalitas, Semoga Hanya di Mimpi menghadirkan nuansa yang berbeda dibandingkan karya-karya Bernadya sebelumnya. Album ini banyak terinspirasi oleh musik pop Indonesia era awal 2000-an dengan dominasi instrumen organik yang dipadukan sentuhan elektronik secara halus.
 
“Aku penasaran dengan era itu, apalagi ada sedikit nuansa musik 2000-an di lagu ‘Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’ dan banyak yang suka. Selama bikin Semoga Hanya di Mimpi, aku juga sering dengar album 18 dari Audy," tutur Bernadya.
 
Meski menawarkan warna musikal yang baru, album ini tetap mempertahankan identitas khas Bernadya lewat vokal lembut dan lirik-lirik yang tajam dalam menangkap berbagai perasaan yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
 
Berdasarkan apa yang pernah diraih Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, bukan tak mungkin jika Semoga Hanya di Mimpi akan menemukan kesuksesan serupa di kehidupan nyata dan bukan di mimpi saja. 
 
Tapi untuk saat ini, Bernadya akan cukup puas jika album terbarunya ini bisa menjadi teman yang menyenangkan bagi siapa pun yang mendengarkan.
 
“Harapanku adalah semoga album ini sampai ke telinga-telinga yang tepat dan baik untuk siapa pun yang mendengarnya. Semoga semua hal menyedihkan dan menakutkan yang kamu dengar di lagu-lagunya hanya ada di mimpi. Selamat menikmati," tutup Bernadya.
 
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan karya terbaru dari Bernadya, Album Semoga Hanya Di Mimpi kini telah bisa kalian dengarkan di berbagai platform musik digital.
 

 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA