PMR (kiri-kanan) Ajjie Ceti Bahadur Syah (perkusi), Budi Padukone (gitar), Hari Muke Kapur (gendang), Yuri Mahippal (mandolin), Jhonny Iskandar (vokal), Imma Maranaan (bass).(foto:Antara/Teresia May)
PMR (kiri-kanan) Ajjie Ceti Bahadur Syah (perkusi), Budi Padukone (gitar), Hari Muke Kapur (gendang), Yuri Mahippal (mandolin), Jhonny Iskandar (vokal), Imma Maranaan (bass).(foto:Antara/Teresia May)

Wawancara Jhoni Madu Mati Kutu

Orkes Moral PMR Besar Bersama Warkop

Agustinus Shindu Alpito • 26 Mei 2014 20:42
medcom.id, Jakarta: Trio lawak, Dono, Kasino dan Indro yang tergabung dalam Warkop memiliki dampak besar dalam sejarah humor di Indonesia. Mereka bukan hanya memberi angin segar di pentas humor atas panggung, atau layar perak, tetapi turut andil dalam tumbuhnya musik humor sebagai medium canda yang hidup di era 70-an hingga 80-an.
 
Orkes Pancaran Sinar Petromak (Orkes PSP) dan Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) adalah grup musik humor yang dalam perkembangannya tidak lepas dari pengaruh Warkop.
 
OM PMR  kala itu belum memiliki nama resmi adalah sebuah grup senang-senang ala pemuda yang tinggal di kawasan Blok A, Jakarta Selatan. Para pemuda yang didominasi pelajar Sekolah Menengah Atas itu tiap sore berkumpul untuk bernyanyi-nyanyi suka ria dengan lirik semaunya. Aktivitas yang tampak biasa itu lantas berbuah pinangan untuk mengisi acara di radio anak muda, Prambors.

Anak-anak Blok A itu adalah Jhoni Madu Mati Kutu (vokal), Aji Cetih Bahadursah (tamborin), Ima Maranaan (bass), Budi Padukone (rhythm), Yuri Mahipal (mandolin), dan Ian Tai Mahal (gendang).
 
Keterlibatan enam anak-anak muda asal Blok A dengan radio Parmbors itu membuatnya dekat dengan Warkop yang lebih dulu sudah menjadi penyiar di sana. Hal ini lantas berujung pada sebuah ajakan untuk terlibat dalam tur lawak Warkop keliling Indonesia.
 
Karena grup musik senang-senang ini belum memiliki nama resmi, tercetuslah ide dari personel Warkop untuk memberi nama, dengan suka-suka pula.
 
“Warkop itu induk semang PMR. Warkop yang kasih nama PMR. Sebelumnya (kami) enggak punya nama.  Awalnya (almarhum) Dono bilang, ‘kasih nama saja Orkes Moral Kurang Gizi’. Tetapi yang lain enggak setuju.
 
Kami dibilang kayak orang teler. Jadi ada usul namanya Orkes Moral Irama Teler Pengantar Minum Racun, atau disingkat OM ILER PMR. Soalnya waktu itu ada (orkes) Telerama jadi diplesetin Irama Teler. Pengesahan nama itu ditandai dengan beli nasi padang di Prambors. Dan setiap malam Jumat kami siaran sama Warkop di radio,” ujar Jhoni mengisahkan peran Warkop dalam grup yang digawanginya.
 
Penampilan OM PMR dalam tur lawak Warkop juga turut andil dalam kepopuleran orkes ini. OM PMR bukan lagi anak-anak iseng yang mengisi waktu sore dengan bernyanyi, tetapi bertransformasi sebagai ikon musik humor pada zamannya.
 
Kerjasama Warkop dan OM PMR terhenti secara natural ketika trio Dono, Kasino, Indro, disibukkan dengan syuting film komedi dan OM PMR mulai dapat berdiri sendiri dan melanjutkan hidup dari panggung ke panggung layaknya sebuah band tenar.
 
“Kami pisah sama Warkop karena Warkop sibuk main film. Paketannya dulu Warkop ngelawak OM PMR nyanyi. Dimana ada Warkop pasti ada OM PMR nyanyi. Tetapi sampai sekarang hubungan kami tetap baik,” tutup Jhoni.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA