Judul album vinyl tersebut diambil dari salah satu lagu SAS yang sebelumnya terdapat dalam album Vol. 2 yang dirilis Indra Record pada 1976. Rilisan tersebut menjadi pencapaian penting bagi SAS karena tercatat sebagai kompilasi resmi pertama karya mereka yang hadir dalam format vinyl dengan menggunakan rekaman asli.
Penggunaan rekaman asli membuat Bad Shock menawarkan pengalaman berbeda bagi penggemar musik rock klasik. Album tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan kembali karakter musik SAS kepada pendengar generasi baru.
Dalam sebuah siaran radio yang dipandunya, Cotter sempat memutar sembilan lagu koleksi SAS dan AKA. Momen itu menjadi bagian dari perayaan atas kehadiran rilisan piringan hitam SAS di New York.
SAS sendiri memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik rock Indonesia. Grup yang berasal dari Surabaya tersebut terbentuk pada 1975 dan digawangi Soenatha Tanjung pada gitar dan vokal, Arthur Kaunang pada bass dan keyboard, serta mendiang Syech Abidin pada drum dan vokal.
Sebelum membentuk SAS, ketiga personel tersebut tergabung dalam AKA atau Anak Kali Asin bersama Ucok Harahap. Setelah berpisah, mereka kemudian membentuk trio SAS dengan membawa pengaruh musik rock dunia pada masa itu.
Emerson Lake & Palmer, Deep Purple, Pink Floyd, dan Grand Funk menjadi sejumlah nama yang memengaruhi musikalitas SAS. Pengaruh tersebut kemudian berpadu dengan karakter dan energi musik rock Indonesia pada era 1970-an.
"Tahun 1975, SAS merilis debut album dengan hit 'Baby Rock', sebagai sumbu ledak kelahirannya di panggung dan rekaman musik rock Indonesia", tutur Denny MR, jurnalis dan kritikus musik Indonesia.
Popularitas SAS juga belum sepenuhnya hilang meski telah melewati beberapa dekade. Lagu seperti "Baby Rock", "Space Ride", "Bad Shock", dan "Tatto Girl" masih dicari oleh penggemar musik lintas generasi, termasuk kalangan milenial dan Gen Z.
Ketertarikan tersebut terlihat dari aktivitas para kolektor yang memburu kaset dan piringan hitam dari lebih dari 15 album SAS melalui berbagai toko dan reseller. Video lirik "Baby Rock" juga telah ditonton ratusan ribu kali di YouTube.

Bagi Psychic Reader, kesempatan merilis musik SAS menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan musik Indonesia kepada pendengar global. Cotter Phinney menilai masih banyak karya musik Indonesia yang belum mendapatkan perhatian internasional.
"Dibandingkan musik dari negara lain, entah mengapa musik Indonesia seolah terabaikan, padahal banyak karya musik yang bagus", ujar Cotter Phinney.
"SAS adalah band yang sangat bagus dan mereka seharusnya mendapatkan lebih banyak pengakuan. Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk memproduksi rekaman SAS pertama di luar Indonesia, tepatnya di New York, dan saya harap ini akan membuka pintu bagi audiens global", tambah Cotter yang juga dikenal sebagai gitaris dan vokalis dari post punk band asal Brooklyn, Medium.
Bagi Arthur Kaunang, perilisan Bad Shock di New York memiliki makna khusus karena bertepatan dengan peringatan 50 tahun SAS. Dia melihat momen tersebut sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat musik rock era 1970-an.
"Bagi saya, SAS reborn ini adalah suatu gebrakan kebangkitan musik Rock '70an. Saya tidak pernah bermimpi kalau musik SAS masih bisa hadir dan disukai hingga kini. Apalagi, album ini direlease di New York, dan bertepatan dengan anniversary SAS ke 50 tahun. Ini Mukjizat Tuhan yang besar bagi kami bertiga", ucap Arthur Kaunang.
Seluruh proses kurasi hingga digitalisasi analog dan distribusi album dilakukan di New York. Tim produksi juga tengah menyiapkan jalur distribusi agar "Bad Shock" dapat menjangkau pasar Indonesia.
"Seluruh kurasi, digitalisasi-analog dan distribusi dilakukan di New York. Kami sedang memproses distribusi untuk pasar di Indonesia", ujar Naratama, pengarah kreatif New York yang menjadi co-produser album ini.
Naratama berharap perjalanan "Bad Shock" tidak berhenti pada SAS. Menurutnya, keberhasilan rilisan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi musisi Indonesia lain untuk memperkenalkan karya mereka ke pasar Amerika dan audiens internasional.