Mereka pun datang ke Indonesia lewat rangkaian kegiatan lokakarya dan diskusi selama empat hari. Upaya mempertahankan identitas Palestina lewat kesenian ini turut menarik perhatian Dafne Louzioti, seorang praktisi bela diri capoeira angola asal Yunani.
Pertemuan Pertama dengan Dabke
Melalui wawancara eksklusif bersama Medcom.id, Sabtu (23/5), Dafne mengenang pertemuan pertamanya dengan Tari Dabke di Palestina. Kala itu, ia sedang merasa jenuh dengan aliran seni yang diikuti.“Bertahun-tahun yang lalu, saya mengunjungi Ramallah dan berkesempatan bekerja sama dengan beberapa di antara mereka serta mengikuti kelas (Tari Dabke) sebentar; saat itu saya sedang sangat bingung dalam perjalanan kesenian saya. Sebenarnya, saya terlalu terpaku pada gaya kontemporer,” ceritanya.
Dabke dan Pencarian Identitas Diri
Perempuan berdarah Yunani ini menjelaskan bagaimana Tari Dabke menjadi sesuatu yang signifikan baginya, apalagi sebagai seseorang dari luar budaya Arab. Ia mengaku, ada sesuatu yang terasa hidup kembali dalam dirinya.“El-Funoun mengingatkan saya mengapa kita menari. Titik… Itu seperti melihat kehadiran mutlak dan perwujudan cara mereka menari, tarian mereka. Hal itu mencerminkan atau mengingatkan saya pada sesuatu yang juga tertanam sangat dalam di dalam diri saya,” jelas Dafne kepada Medcom.id.
Dafne Louzioti tumbuh dengan menari tarian rakyat Yunani dan balet sebelum mendalami bela diri capoeira angola asal Brasil. Ia pun berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah mengenalkan Dabke dan menghubungkannya kembali dengan akar budayanya.
“Jadi, mereka menghidupkan kembali sesuatu yang telah saya lupakan dan untuk itu saya sangat berterima kasih seumur hidup saya,” ujar Dafne.
“Dan saya mengatakannya dengan sukacita karena apa yang mereka ingatkan kepada saya telah memberi saya semangat sejak saat itu. Itulah alasannya,” sambungnya.
Dabke Sebagai Bentuk Resistensi
Di kesempatan yang sama, Dafne turut mengungkap alasan mengapa Tari Tradisional Dabke bisa menjadi bentuk perjuangan. Menurutnya, kehadirannya sebagai identitas budaya Palestina sudah cukup untuk mengukuhkan eksistensinya.Terutama dengan pihak-pihak seperti kelompok El-Funoun yang menyebarkan budaya ini di seluruh penjuru dunia membantu menjaga keberlangsungan identitas budaya Palestina.
“Hanya dengan keberadaannya saja. Itu adalah perlawanan. Fakta bahwa ada orang-orang yang menjalaninya dan memahami asal-usulnya, baik mereka orang Palestina maupun bukan, hal itu merupakan perlawanan karena tetap ada meskipun ada kekuatan yang berusaha menghapusnya. Jadi, seberapa politis lagi hal itu bisa?” pungkasnya.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News