Lewat akun Threads miliknya, aktris kelahiran 1993 itu meluruskan niatnya menciptakan karya. Ia mendorong pembaca agar mencerna pesan universal tentang proses pemulihan, bukan sibuk menuding figur tertentu.
“Please. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku ga enak bacanya," tulisnya.
Perempuan berdarah Indonesia-Belgia itu mengungkapkan ketidaknyamanannya melihat dugaan-dugaan yang belum terbukti. Aurelie menekankan bahwa inti karyanya adalah sebuah perjalanan emosional. Tujuannya untuk menyampaikan kisah personal dengan transparansi, bukan menyasar individu.
"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," lanjutnya.
Bintang film Story of Kale itu memisahkan antara kebebasan berpendapat dan perilaku berprasangka. Ia memohon agar tebakan sembarangan tidak berubah menjadi hujatan.
“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, please jangan," pintanya.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan motivasi utamanya adalah menyebarkan kesadaran. Harapannya, kisahnya bisa menjadi sarana refleksi dan kekuatan bagi yang mengalami hal serupa.
“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat dibully. Aku nulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama," pungkasnya.
Gelombang asumsi ini bermula saat netizen mengaitkan karakter "Bobby" dengan Roby Tremonti. Namun, perbincangan meluas dan ikut menyudutkan nama-nama lain seperti Nikita Willy, Eza Gionino, Tommy Kurniawan, Kimberly Ryder, serta Miller Khan.
Melihat situasi kian rumit, Aurelie merasa perlu turun tangan memberikan penjelasan. Tindakan ini diambil agar pesan mendalam dari bukunya tidak tersamarkan oleh spekulasi. Upayanya diharapkan dapat mengembalikan fokus publik pada nilai-nilai inspiratif yang ingin ia tularkan.
(Maulia Chasanah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News