Meisya Siregar dan anaknya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach (Foto: Instagram/meisya__siregar)
Meisya Siregar dan anaknya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach (Foto: Instagram/meisya__siregar)

Kronologi Detik-Detik Anak Meisya Siregar Terseret Ombak di Bali

Rafi Alvirtyantoro • 22 Juli 2026 15:07
Ringkasnya gini..
  • Anak Meisya Siregar terseret ombak besar di Bali akibat pengawasan yang sempat lengah.
  • Bambang berhasil diselamatkan oleh tim lifeguard serta bantuan warga sekitar pantai.
  • Meisya mengingatkan seluruh orang tua untuk selalu waspada saat anak bermain di laut.
Jakarta: Aktris Meisya Siregar menceritakan kronologi anaknya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, yang terseret ombak pantai di Bali.
 
Meisya Siregar mengatakan bahwa anaknya sudah terbiasa berada di pantai dan bermain ombak.
 
"Sejak dari bayi, hampir setiap liburan kami selalu mengajak bermain di laut. Ombak, pasir, dan pantai sudah menjadi bagian dari masa kecilnya," kata Meisya Siregar, dikutip dari akun Instagram @meisya__siregar, pada Rabu, 22 Juli 2026.

"Seiring bertambahnya usia, Bambang tumbuh menjadi anak yang sangat pemberani," lanjutnya.

Terbiasa di Pantai hingga Sempat Lengah

Menurut Meisya, ombak dan pantai tidak pernah terpisahkan dari keluarganya. Ia bersama sang suami, Bebi Romeo, selalu memastikan keberadaan anaknya selama berada di area pantai.
 
"Setiap hari selama liburan di Bali, tidak pernah ada hari tanpa ke pantai. Bermain ombak, surfing, berlari, tertawa, dan selama itu pula kami selalu memastikan ia berada dalam pengawasan kami," ucap Meisya.
 
Namun, rasa terbiasa tersebut sempat membuat Meisya dan Bebi lengah, sehingga sang anak luput dari pengawasan mereka.
 
"Kami duduk agak jauh dari bibir pantai, membiarkan Bambang bermain bersama sahabatnya, tanpa benar-benar mengawasi setiap detiknya," ujar Meisya.

Detik-Detik Bambang Terseret Ombak

Situasi yang semula tampak aman mendadak berubah menegangkan saat ombak besar datang dan menyapu Bambang.
 
"Awalnya semua terlihat biasa. Anak-anak bermain, tertawa, menikmati ombak, sampai tiba-tiba satu ombak besar datang dan Bambang menghilang," ungkap Meisya.
 
"Detik itu rasanya dunia berhenti. Ternyata Bambang terseret ombak," lanjutnya.
 
Beruntung, ada seseorang di sekitar lokasi yang menyadari kejadian tersebut hingga Bambang berhasil diselamatkan oleh lifeguard.
 
"Namun alhamdulillah, ada seseorang yang kami kenal ternyata menemani mereka bermain, dan seorang lifeguard berhasil menyelamatkan Bambang," ujar Meisya.
 
"Dan bahkan kami tidak sempat mengetahui siapa yang pertama kali menolongnya," tambahnya.

Sempat Trauma dan Keinginan Kembali ke Pantai

Akibat insiden tersebut, Bambang sempat mengalami trauma. Ia mengaku ingin segera pulang ke Jakarta dan tidak mau lagi pergi ke pantai.
 
"Hati kami hancur mendengarnya," tutur Meisya.
 
Meski demikian, Bambang secara mengejutkan justru meminta untuk kembali ke pantai pada keesokan harinya, walau rasa cemas masih menyelimuti Meisya.
 
"Setelah sarapan keesokan harinya, sorenya ia kembali berkata, 'Bun, aku mau ke pantai lagi.' Sementara kami mungkin tidak akan pernah bisa melihat pantai dengan cara yang sama," kenang Meisya.

Penyesalan dan Pesan Penting bagi Orang Tua

Insiden ini menjadi salah satu penyesalan terbesar Meisya Siregar sebagai orang tua.
 
"Karena hanya dengan beberapa menit merasa aman, kami hampir kehilangan anak yang paling kami cintai," ucap Meisya.
 
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah menjaga anak-anaknya, serta sosok penolong misterius yang menyelamatkan Bambang.
 
"Terima kasih buat Babac dan juga Hamidah yang sempat menemani anak-anak kami bermain di pantai, sehingga semuanya terekam dengan baik. Semoga Allah membalas kebaikannya," ucap Meisya.
 
"Dan juga untuk orang yang menolong Bambang yang tidak kami kenal, semoga Allah akan memberikan banyak pahala yang berlipat-lipat," lanjutnya.
 
Di akhir penyampaiannya, Meisya mengingatkan para orang tua agar tidak pernah lengah sedikit pun saat mengawasi anak bermain di laut.
 
"Untuk semua orang tua yang sudah menonton video ini, jangan pernah lengah meskipun pantai itu sudah berkali-kali kita datangi. Laut tidak pernah bisa diprediksi," ujar Meisya.
 
"Satu detik saja bisa mengubah semuanya. Peluk anak-anak kita lebih erat hari ini, karena kami hampir kehilangan kesempatan itu. Maafin Bunda sama Papa ya, Nak," pungkasnya.
 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA