Abelina D Fitria alias dr Incognito (Foto: instagram)
Abelina D Fitria alias dr Incognito (Foto: instagram)

Konten Kreator dr. Incognito Ingatkan Dampak Kesehatan dan Lingkungan Karhutla

Elang Riki Yanuar • 30 Oktober 2026 18:35
Ringkasnya gini..
  • dr. Incognito memperingatkan paparan asap karhutla mengandung karbon monoksida yang dapat memicu bronkitis, pneumonia, hingga penyakit paru kronis.
  • dr. Incognito mengimbau masyarakat melindungi diri dari polusi karhutla dengan memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menjaga pola hidup sehat.
  • Selain mengancam kesehatan, karhutla meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor. dr. Incognito mendorong reboisasi untuk memulihkan hutan.
Jakarta: Konten kreator dan selebgram dr. Incognito mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh bahaya paparan asap dari Kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Perempuan bernama lengkap dr. Abelina Dini Fitria, Dpl. AAAM, MM, MARS tersebut menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla tidak berhenti pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Paparan polutan dari kebakaran yang terjadi berulang kali dapat memicu gangguan pernapasan yang lebih berat.

"ISPA berulang bisa lama-lama jadi bronkitis dan pneumonia. Sekarang ini banyak karbon monoksida (CO) dari kebakaran membuat kadar oksigen di paru berkurang," ujarnya.

Menurut dr. Incognito, salah satu zat berbahaya yang dihasilkan dari kebakaran hutan adalah karbon monoksida (CO). Gas tersebut dapat mengganggu proses distribusi oksigen dalam tubuh. Dia mengingatkan, karbon monoksida merupakan gas beracun yang juga dapat menyebabkan kematian ketika seseorang tertidur di dalam mobil dengan kondisi tertentu.

Risiko kesehatan semakin besar apabila masyarakat terus-menerus terpapar polusi dari karhutla. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kasus penyakit paru-paru beserta berbagai komplikasinya, khususnya pada orang dewasa.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik seseorang. Gangguan kesehatan yang muncul akibat paparan polusi juga dapat menurunkan produktivitas masyarakat. Jika semakin banyak orang mengalami masalah kesehatan, beban pelayanan medis pun berpotensi meningkat, terutama ketika kapasitas sistem kesehatan masih terbatas.

Menghadapi kondisi tersebut, dr. Incognito menilai masyarakat perlu melakukan berbagai langkah perlindungan untuk mengurangi risiko paparan polusi. Meski pilihan mitigasi secara individu tidak sepenuhnya dapat menghilangkan bahaya karhutla, kebiasaan menjaga kesehatan tetap perlu dilakukan secara konsisten.

Dia menyarankan masyarakat menggunakan masker dan kacamata ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Mengurangi kegiatan di luar rumah atau menerapkan kebiasaan tetap berada di dalam ruangan juga menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan selama kualitas udara memburuk.

Kebersihan lingkungan tempat tinggal turut menjadi perhatian. dr. Incognito mengimbau masyarakat rutin membersihkan debu yang masuk ke dalam rumah, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Penggunaan air purifier juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Selain mengurangi paparan polusi, masyarakat disarankan memperbaiki pola hidup. dr. Incognito mengingatkan pentingnya berhenti merokok dan menggunakan vape, memperbanyak konsumsi sayur serta buah yang kaya antioksidan, dan mengurangi makanan cepat saji atau junk food. 

"Aktivitas olahraga tetap dianjurkan, tetapi sebaiknya dilakukan di dalam ruangan ketika kondisi udara di luar tidak sehat," ujarnya.

Di sisi lain, dr. Incognito juga menyoroti hubungan antara karhutla dan perubahan kondisi lingkungan. Dia menilai kombinasi gas karbon monoksida dari kebakaran dan gas metana turut berkontribusi terhadap efek rumah kaca yang berkaitan dengan peningkatan suhu panas.
Lahan yang kehilangan pepohonan menjadi lebih rentan terhadap bencana, terutama ketika kemudian dialihfungsikan menjadi perkebunan monokultur atau kawasan permukiman. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

"Tinggal menunggu waktunya, kalau mau preview kan sudah banyak banjir bandang, longsor akibat hutan yang hilang entah itu diganti perkebunan monokultur atau diganti dengan pemukiman," jelasnya.

Melihat berbagai dampak tersebut, dr. Incognito berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api dan penanganan korban terdampak. Program reboisasi juga dinilai perlu menjadi prioritas untuk memulihkan kawasan hutan yang rusak. 

"Pemulihan ekosistem diharapkan dapat mengurangi risiko bencana susulan sekaligus melindungi keanekaragaman hayati," tutupnya.








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA