Sebelumnya, melalui unggahan di akun Instagram milik Sliman Mansour, sang anak mengabarkan bahwa seniman yang merekam lebih dari enam dekade perjuangan pembebasan Palestina itu berada dalam kondisi kritis.
“Ayah saya, Sliman Mansour, saat ini sedang dalam kondisi kritis,” tulis anak Sliman Mansour pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Ia pun meminta doa kepada publik agar ayahnya bisa melewati masa sulit tersebut.
“Kami memohon kepada siapa pun yang mengenal dan menyayangi beliau untuk menyertakan beliau dalam doa dan pikiran Anda di masa-masa sulit ini,” tulis anak Sliman Mansour.
“Doa dan dukungan Anda sangat berarti bagi keluarga kami,” lanjutnya.
Berpulangnya Sang Maestro
Tak lama setelah pengumuman tersebut, pihak keluarga menyampaikan bahwa Sliman Mansour telah meninggal dunia.“Babak terakhir telah usai. Dengan duka mendalam yang tak tergambarkan dengan kata-kata, kami menyampaikan bahwa ayah tercinta kami telah berpulang,” tulis keluarga Sliman Mansour.
Pihak keluarga juga mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian beliau.
“Bagi dunia, beliau meninggalkan kehidupan yang penuh keindahan, kenangan, serta warisan yang akan terus hidup melalui semua orang yang pernah tersentuh olehnya. Namun bagi kami, kami telah kehilangan seorang ayah, sumber kasih sayang, kekuatan, dan tempat kami pulang,” tulis keluarga Sliman Mansour.
Pihak keluarga pun menegaskan bahwa semangat, karya, dan cinta Sliman Mansour akan selalu berada di sisi mereka.
“Semoga beliau beristirahat dalam damai yang abadi, diselimuti oleh cahaya dan keindahan yang telah beliau bagikan dengan begitu tulus kepada dunia,” tulis pihak keluarga.
Penyebab kematian Sliman Mansour belum diumumkan ke publik. Pihak keluarga hanya menyampaikan bahwa informasi detail mengenai pemakaman dan penghormatan terakhir akan diumumkan di kemudian hari.
Baca Juga :
Frank Beard Drummer ZZ Top Meninggal Dunia
Jejak Langkah dan Dedikasi Seni
Sliman Mansour adalah seniman legendaris asal Palestina kelahiran Birzeit tahun 1947. Ia mendedikasikan hidupnya untuk merekam jejak perjuangan, kebudayaan, dan penderitaan bangsanya melalui seni lukis. Lahir tepat sebelum tragedi Nakba, perjalanan hidupnya diwarnai berbagai bentuk intimidasi dari pemerintah Israel, mulai dari ancaman, penganiayaan, hingga penahanan.Meski begitu, dari studionya di Ramallah, Tepi Barat, Mansour tetap teguh menjadikan kanvas sebagai media perlawanan dan penegakan hak asasi manusia. Karya-karyanya mengabadikan nostalgia keindahan Palestina sebelum era pendudukan, sekaligus mendokumentasikan ketahanan warga sipil di tengah kekejaman konflik.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda