ilustrasi: (foto:ist)
ilustrasi: (foto:ist)

Hindari Pencabulan, Tutupi Bagian yang 'Mengundang' !

Triyanisya • 08 Agustus 2014 09:55
medcom.id, Jakarta: Perempuan rentan menjadi korban pencabulan saat berada di angkutan umum. Kasus terbaru pelecehan seksual terjadi di bus Koantas Bima jurusan Lebak Bulus-Kampung Rambutan Rabu (6/8/2014).
 
Modus yang dilakukan pelaku adalah berdiri di belakang korban dan menggesek-gesekkan kemaluannya ke bokong korban berinisial MWU. Perempuan berusia 30 tahun itu baru menyadari dirinya menjadi korban pencabulan saat mengetahui ada cairan menempel di bagian belakang celananya. Ia pun segera memaksa pelaku yang kemudian diketahui bernama Rudi Kuswanto itu turun dan membawanya ke kantor polisi.
 
Konsultan seks dokter Kayika mengingatkan bahwa wanita memang patut waspada dan antisipatif menghindari diri dari aksi pelecehan seksual di angkutan umum. Sebab di dalam sarana transportasi, kita akan berdekatan dengan orang dengan berbagai macam karakter.  

"Kondisi menempel-nempel dengan orang-orang bisa menjadi salah satu sumber rangsangan. Apalagi jika orang tersebut punya kecenderungan penyimpangan seksual. Misalnya jika ia suka menggesek-gesekkan alat kelaminnya kepada orang lain untuk mendapatkan kepuasan seksual," ujar dr. Kayika saat berbincang dengan Metrotvnews.com melalui sambungan telepon, Kamis (07/08/2014).
 
Ia juga melanjutkan, stimulasi rangsangan tentu bisa datang dari mana saja.  "Stimulasi rangsangan itu kan bisa dari mana saja, dengan melihat saja bisa, dari gesekan, dari menghayal, semua bisa saja, tergantung dari masing-masing orang. Di medis  memang ada orang-orang yang bisa mendapat kepuasan dengan memperlihatkan kemaluannya di depan orang banyak. Semua itu tergantung latar belakang si orang ini, lingkungannya bagaimana, budayanya bagaimana," lanjutnya lagi.
 
Menurut dr.Kayika, saat ini tidak hanya pria yang bisa melakukan hal tersebut, wanita juga bisa. Dr. Kayika menyebut untuk menyembuhkan orang-orang yang senang mencari kepuasan seksual di tempat ramai bisa melalui terapi.
 
"Yang bersangkutan harus disadarkan bahwa hal-hal tersebut tidak pantas, harus dilakukan terapi perbaikan perilaku, mereka harus menyadari bahwa apa yang dilakukannya melanggar apa yang ditaati masyarakat sekitarnya, dan tentu mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat. Khususnya pengguna transportasi umum," lanjutnya lagi.
 
Namun, untuk membuat jera pelaku pelecehan seksual tentu tidak mudah. Pasalnya terkadang mereka tidak merasa malu dengan apa yang dilakukannya, paling tidak, pada saat mereka melakukannya. Bagi mereka yang terpenting adalah mereka bisa mengeluarkan ekspresi seksual mereka dengan cara yang mereka mau.
 
"Orang yang berperilaku seperti itu tentu berbeda-beda, mereka merasa jera atau tidak tentu relatif, kalau bicara tentang seksual itu sangat mendasar. Karena mereka hanya ingin memuaskan kebutuhan seksualnya. Semua berdasarkan kondisi lingkungan di sekitarnya, apakah hal-hal seperti itu bisa diterima atau tidak. Bisa jadi menurut mereka itu hanyalah pelanggaran semata, tidak membawa dampak bahaya bagi orang-orang yang menjadi korbannya," lanjutnya.
 
Dokter Kayika juga menyebut sulit untuk mengetahui ciri-ciri fisik para pelaku eksibisionis. "Kalau dari fisik, sangat sulit mengidentifikasikannya, tapi kalau dari perilaku, bisa lihat apakah dia suka menempel-nempel dan menggesek-gesekkan kemaluannya, atau menunjukannya di depan orang, hanya itu saja," ujarnya.
 
Dokter Kayika tidak menampik bahwa pelaku ekshibiosnis kemungkinan memiliki kelainan jiwa.  "Pelaku penyimpangan seksual seperti itu kadang-kadang ada kaitannya dengan gangguan kejiwaan, karena orang normal/waras tidak mungkin melakukan hal seperti itu, malah akan menghindari," ujarnya.
 
Dokter Kayika pun memberikan tips aman untuk menaiki angkutan umum khususnya bus, di mana seringkali menjadi tempat terjadinya pelecehan seksual terhadap wanita.
 
1. Jangan terlalu menempel dengan orang lain.
2. Halangi bagian-bagian tertentu dengan tas atau apapun, jangan sampai  terkena langsung oleh orang lain, khususnya lawan jenis.
3. Hindari pakaian yang terbuka atau yang bisa merangsang lawan jenis jika menaiki angkutan umum. Pakailah pakaian yang pantas.
4. Jika ada perilaku yang menjurus ke arah mencurigakan, segera jauhi,  hindari. Tegur bila sudah tidak bisa menghindar lagi untuk    menarik perhatian orang banyak agar pelaku berhenti melakukannya.
 
"Sebisa mungkin hindari terlalu menempel dengan orang lain, atau tutupi bagian badan tertentu dengan tas atau lainnya. Tegur bila perlu, jangan sampai kalau sudah kena malah dibiarkan saja, kita harus bisa menjaga diri kita masing-masing," paparnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA