Sejumlah penari reog beratraksi saat digelar Pagelaran Reog Kolosal di Alun-Alun Ponorogo. (Foto: Antara/Siswowidodo)
Sejumlah penari reog beratraksi saat digelar Pagelaran Reog Kolosal di Alun-Alun Ponorogo. (Foto: Antara/Siswowidodo)

Festival Reog Berkolaborasi dengan Musik Kuaetnika

Sunarwoto • 21 Oktober 2014 11:17
medcom.id, Ponorogo: Festival Reog Nasional XXI dalam rangka pergelaran Gerebek Suro tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
 
Festival tahun ini tak hanya mempertontonkan kepiawaian rancak gerak tetarian reog, tapi juga berkolaborasi dengan musik Kuaetnika (Jaduk Ferianto) dan Butet Kertaredjasa. Kolaborasi ini diharapkan kian menyegarkan ruh kesenian khas Ponorogo.
 
"Untuk menjaga eksistensi kesenian Reog Ponorogo agar tak monoton, perlu ada proses kreatif dan inovasi. Kita tak bisa hanya menampilkan kesenian reog. Oleh karena itu, dalam pergelaran seni dan budaya yang mengusung tema Ethnic Art of Java kali ini festival reog mencoba berkolaborasi dengan kelompok musik Kuaetnika dan Butet Kertaredjasa," kata Ketua Panitia FRN XXI Sapto Djatmiko, Selasa (21/10).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kolaborasi ini diharapkan kian menggelorakan pergelaran kesenian reog. Dengan begitu kesenian reog kian diminati khalayak banyak.
 
"Apalagi jika kolaborasinya dengan kelompok musik yang punya warna, tentu akan lebih terasa unik dan kuat etniknya," papar Sapto Djatmiko yang juga kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo ini.
 
Sesuai jadwal, tambah Sapto, pergelaran kesenian reog berkolaborasi dengan Kuaetnika dan Butet Kertaredjasa akan unjuk kebolehan di Gedung Kesenian di Jalan Pramuka, Rabu (22/10) malam. Sementara untuk festival lomba kesenian reog berlangsung di panggung kesenian Alun-Alun Ponorogo, pada 19-25 Oktober 2014.
 
Selain menjaga kelangsungan hidup reog, kolaborasi dengan kelompok musik Kuaetnika dan Butetkertredjasa juga dalam upaya  kian memantapkan kesenian tradisional khas Ponorogo yang sudah go internasional. Di antaranya juga mengeliminasi klaim oleh daerah lain atau negara lain.
 
Seperti diketahui Malaysia beberapa waktu lalu pernah mengklaim reog sebagai miliknya.
 
"Maka tak bisa kesenian reog itu hidup dengan begitu saja. Harus selalu ada proses kreatif dan inovasi agar kesenian reog Ponorogo selalu bisa diterima penyuka kesenian di Tanah Air maupun mancanegara," jelas Sapto.
 
Selain berkolaborasi dengan musik Kuaetnika dan Butet Kertaredjasa, FRN XXI yang berlangsung pada 19-25 Oktober itu juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Di antaranya pameran keris, pameran produk unggulan UMKM, pameran bonsai, pameran wisata, wayang kulit, macapat, larung risalah doa di Telaga Ngebel. Puncaknya pada 1 Suro (Muharram) akan digelar kirap budaya.
 
Dalam FRN XXI ini tercatat ada sekitar 40 group reog. Mereka datang dari berbagai daerah di pelosok Tanah Air, seperti dari Surakarta, Yokyakarta, Jakarta, Jambi, Pontianak, dan Jayapura. Festival ini untuk memperebutkan kejuaraan tropi dari Presiden Joko Widodo. (Sunarwoto)
 
 
 
(ADF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif