Imlek 2016

Jejak Keberagaman di Kelenteng Talang Cirebon

Sobih AW Adnan • 11 Februari 2016 17:38
medcom.id, Cirebon: Sepelemparan batu dari bagunan tua British-American Tobacco (BAT) terdapat kelenteng yang tampak 'menyala' dengan warnanya yang dominan merah. Rumah ibadah umat Konghucu ini usianya malah jauh lebih tua dibanding tetangga kiri dan kanannya.
 
Uniknya kelenteng di Jl Talang, Kampung Keprabon, Cirebon, ini juga merupakan tempat umat Islam melaksanakan sholat lima waktu. Praktek ini berlangsung hingga lima abad, yaitu mulai masa-masa berdirinya pada 1514 hingga 1940-an.
 
"Pada masa itu kelenteng juga merupakan rumah singgah bagi perantau asal Tiongkok. Nah, di antara perantau itu kan ada yang muslim, makanya dibuatkan mushollah di dalam kelenteng," papar kata budayawan dan pengamat arsitektur Tionghoa, Jeremy Huang kepada Metrotvnews.com.

Kelenteng Talang didirikan Sam Po Toa Lang, salah seorang awak kapal pimpinan Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming. Pada 1650, Kelenteng Talang berpindah kepemilikan kepada Tan Sam Cay yang merupakan pemeluk Islam. Sebagai seorang muslim, namanya adalah Muhammad Syafi’i dan diberi gelar Tumenggung Aria Dwipa Wiracula oleh Sultan Cirebon.
 
Fungsi kebersamaan ini terus berlangsung selama era kolonial Belanda ketika Kelenteng Talang dikelola Mayor Tan Tjien Kie. Setelah sempat menjadi sarana kegiatan beribadah dua penganut agama, sejak 1940 Kelenteng Talang difungsikan hanya untuk tempat ibadah utama umat Konghuchu di Cirebon.
 
Namun jejak keberagaman yang pernah tinggal di dalam kelenteng ini, hingga kini masih bisa disaksikan buktiknya. Yaitu bagian ruang tengah dekat altar suci yang mirip dengan mihrab masjid.
 
Sebagai salah satu warisan budaya yang mengandung semangat keberagaman, maka Kelenteng Talang layak dilestarikan keberadaannya.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA