Panggung Garuda Land DWP (Foto: Ismaya Live)
Panggung Garuda Land DWP (Foto: Ismaya Live)

DWP dan WTF Tembus 5 Besar Festival Musik Terbesar di Asia

Basuki Rachmat • 09 Oktober 2026 11:38
Ringkasnya gini..
  • Djakarta Warehouse Project (#3) dan We The Fest (#5) garapan Ismaya Group sukses masuk jajaran 5 besar festival musik terbesar di Asia versi laporan Seasia Stats.
  • Penyelenggaraan festival musik terbukti memberikan kontribusi nyata bagi perputaran ekonomi, seperti LaLaLa Festival yang mencatat dampak ekonomi hingga Rp306,93 miliar.
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut gelaran Pestapora dan konser The Weeknd pada September 2026 turut menggerakkan ekonomi Jakarta hingga hampir Rp250 miliar.
Jakarta: Industri festival musik di Tanah Air selama beberapa tahun terakhir kian menunjukkan geliat yang positif. Tak sekadar menyuguhkan hiburan panggung, deretan helatan musik skala masif ini terbukti sukses mendatangkan ratusan ribu pengunjung sekaligus memberi kontribusi riil terhadap perputaran ekonomi nasional.

​Baru-baru ini, media digital berbasis data asal Singapura, Seasia Stats, merilis laporan infografis bertajuk Biggest Music Festivals in Asia by Attendance. Data yang dihimpun dari rentang periode 2023 hingga 2024 ini merangkum deretan festival musik terbesar di Asia berdasarkan jumlah akumulasi penonton.

Menariknya, dua Intellectual Property (IP) milik Ismaya Group sukses menembus posisi 10 besar se-Asia. Djakarta Warehouse Project (DWP) berhasil menduduki peringkat ke-3 dengan raihan 95 ribu penonton, sementara We The Fest (WTF) mengamankan posisi ke-5 setelah mencatatkan 70 ribu pengunjung.

Posisi puncak daftar ini ditempati oleh Sunburn Festival di India yang berhasil menggaet hingga 300 ribu penonton, disusul Fuji Rock Festival di Jepang di posisi kedua dengan 105 ribu penonton. Di peringkat keempat, Big Mountain Music Festival asal Thailand berada tepat di bawah DWP dengan torehan 85 ribu penonton. 

Sementara itu, posisi di bawah We The Fest diisi oleh Ultra Korea dengan 65 ribu penonton serta Clockenflap di Hong Kong yang mencatatkan 50 ribu penonton.

 


Data tersebut setidaknya memberikan gambaran mengenai besarnya potensi pasar festival musik Indonesia di tengah persaingan industri live entertainment Asia. Skala penonton yang besar juga menunjukkan bahwa festival musik Tanah Air memiliki daya tarik serta kapasitas penyelenggaraan yang mampu bersaing di tingkat regional.

Namun, geliat festival musik tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak penonton yang datang. Di balik keramaian ribuan hingga ratusan ribu orang, terdapat perputaran ekonomi yang melibatkan banyak sektor, mulai dari musisi, pekerja kreatif, produksi acara, venue, transportasi, hospitality, kuliner, hingga kerja sama dengan berbagai merek.
 


Menggerakkan Ekosistem dan Perputaran Ekonomi Ratusan Miliar


Besarnya dampak tersebut turut terlihat dari penyelenggaraan LaLaLa Festival. Saat menghadiri sesi jumpa pers LaLaLa Festival pada Agustus 2026, Medcom.id mendapat pemaparan mengenai kontribusi ekonomi yang dihasilkan festival tersebut.

Founder LaLaLa Festival, Carmel Puma, mengungkapkan bahwa festival yang digelar selama tiga hari itu mencatat total dampak ekonomi mencapai Rp306,93 miliar.
 
lalala
(Foto: Medcom/Basuki)

Berdasarkan data yang dihimpun pihak LaLaLa Festival, sebanyak 69,69 persen pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal.

Tak hanya dari sisi pengunjung, penyelenggaraan festival juga membuka ruang bagi ratusan pekerja. LaLaLa Festival tercatat melibatkan 840 tenaga kerja yang terdiri dari 50 panitia inti, 352 pelaku seni dan budaya, 30 relawan, serta 408 pekerja harian.
 

Konser dan Festival Musik Gerakkan Ekonomi Jakarta


Fenomena serupa juga terlihat di Jakarta. Gelaran musik berskala besar tidak hanya mendatangkan penonton, tetapi ikut mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor yang menopang industri hiburan.

Hal tersebut turut disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang pada 27 September 2026 mengungkapkan dampak ekonomi dari penyelenggaraan konser The Weeknd dan festival musik Pestapora 2026.

Menurut Pramono, kedua gelaran tersebut yang berlangsung pada September 2026 memberikan kontribusi terhadap perputaran ekonomi Jakarta hingga hampir Rp250 miliar.

"Saya mendapatkan laporan, dalam pelaksanaan Pestapora dan juga The Weeknd selama dua hari ini, ekonomi bergerak di Jakarta akibat itu hampir Rp250 miliar," kata Pramono Anung, dikutip dari Metrotvnews.com, Senin, 28 September 2026.

Pernyataan tersebut semakin mempertegas bahwa pertumbuhan festival dan konser musik di Indonesia memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar jumlah tiket yang terjual atau banyaknya penonton yang hadir.

Dengan semakin banyaknya festival berskala besar dan masuknya sejumlah IP Indonesia ke dalam jajaran festival dengan jumlah penonton terbesar di Asia, industri live entertainment berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif sekaligus membuka semakin banyak ruang bagi musisi, pekerja kreatif, pelaku usaha, hingga berbagai sektor pendukung lainnya.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA