Agar Regenerasi Keroncong Mengalir sampai Jauh

Elang Riki Yanuar 26 Maret 2018 07:00 WIB
indonesia musikmusik keroncong
Agar Regenerasi Keroncong Mengalir sampai Jauh
Waldjinah menerima AMI Awards 2017 dari Direktur GNP, Djakawinata Susilo di kediamannya di Kota Solo (Foto: ANTARA Maulana Surya)
Jakarta: "Keroncong jangan sampai mati." Kalimat itu selalu Gesang ucapkan setiap kali bertemu Djakawinata Susilo, Direktur Gema Nada Pertiwi (GNP). Bagi Djaka, ucapan Gesang itu bukan sekadar harapan, tapi juga sebuah titah dari sang maestro. Selepas Gesang meninggal pada 2010, Djaka masih mengemban tugas itu sampai sekarang.

Tugas Djaka memang tidaklah mudah. Harus diakui, keroncong bukan musik populer di Tanah Air. Musik yang lahir ratusan tahun silam ini identik dengan orang-orang tua. Ia tak sering dilirik anak-anak muda.

Regenerasi musisi keroncong juga tidak melimpah seperti musik lain seperti pop atau rock. Proses penggantian generasi di musik keroncong berjalan lambat. Jika meminjam lirik Bengawan Solo milik Gesang, regenerasi di musik keroncong tak mengalir sampai jauh. Ia seperti tersumbat.


Waldjinah, maestro keroncong yang masih bertahan hingga kini menyebut ada beberapa hal yang membuat regenerasi musik keroncong berjalan lambat. Salah satunya adalah jarang label yang mau menerima musik keroncong. Menurut Ari, anak Waldjinah yang juga terjun di dunia musik keroncong, satu-satunya label yang mau menerima musik keroncong adalah Gema Nada Pertiwi.


Presiden Jokowi menghadiri pertunjukan 'Keroncong Pesona Indonesia Persembahan Untuk Waldjinah' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (1/4/2016) (Foto: Dok. MI)

Padahal, pembibitan musik keroncong di daerah tak kalah semarak. Tapi ketika hendak masuk ke rel industri, mereka mengalami hambatan. Alhasil, banyak bibit-bibit musisi keroncong mati sebelum berkembang. Fakta ini diamini oleh Djaka.

"Kami membagi menjadi dua: sebagai seni pertunjukan dan sebagai karya rekam. Sebagai seni pertunjukan, musik keroncong di daerah masih sangat hidup, sebagai hiburan rakyat, festival-festival sangat hidup dan berjalan. Regenerasinya pun tetap berjalan. Misalnya seperti Solo Keroncong Festival. Tapi ketika menuju karya rekam, ini menjadi kendala. Anak-anak mudanya belum mendapat kesempatan seperti senior-seniornya dulu," kata Djakawinata Susilo saat berbincang dengan Medcom.id di kantornya di kawasan Jakarta Pusat.

Djaka melihat penutupan sejumlah toko kaset membuat banyak label enggan merilis karya-karya keroncong. Saat ini memang sudah banyak pemutar musik digital dalam berbagai platform. Namun, Djaka menganggap penggemar keroncong belum sepenuhnya menggeser pola konsumsi mereka.

"Ini sebenarnya berkaitan dengan perilaku konsumennya sendiri. Sekarang toko CD sudah jarang sehingga kami juga terbatas menjualnya. Musisi muda habis rekaman mau dijual ke mana? Distribusinya agak sulit. Bisa saja taruh di Youtube atau di mana (toko musik digital seperti iTunes dan Spotify), tapi penggemar keroncong belum banyak di sana. Konsumen keroncong ini bukan tipikal yang aktif mencari. Kalau ada acara saja, baru mereka mau beli. Penikmat keroncong lebih pasif."

Baca juga: Pasar Kosong Generasi Bluetooth

"Kalau anak muda kan, misalnya suka (musik) apa, mau ke mana juga dia cari. Oke, sekarang zamannya jualan online. Tapi berapa persen sih penggemar keroncong yang mau belanja online?. Kami sih tetap menyediakan (penjualan online), tapi sedikit sekali penggemar keroncong yang beli online. Mereka terbiasa lihat barangnya dulu. Mungkin karena generasinya kan memang usianya 40 ke atas. Butuh waktu mendidik mereka ke digital," paparnya.


Djakawinata Susilo, bos GNP (Foto: dok. pribadi)

Sejak didirikan awal 1970-an hingga kini, GNP masih bertahan sebagai label di Ibu Kota yang mau menampung karya-karya keroncong. Gema Nada Pertiwi (GNP) merupakan label yang didirikan ayah Djaka, Hendarmin Susilo yang memang penggemar berat musik keroncong. Permintaan sang ayah pula yang membuat Djaka masih membuka pintu lebar-lebar terhadap musisi keroncong.

Selain musik keroncong, GNP menampung lagu daerah dan lagu anak-anak. Atas restu dan saran dari ayahnya, Djaka melakukan semacam subsidi silang. Tujuannya satu: jangan sampai musik keroncong mati di bumi pertiwi.   

"Pesan dari Pak Hendarmin, cari uang di musik lain untuk menghidupi musik yang lain. Silakan cari genre lain tapi keroncong harus jalan. Keroncong memang lini kami yang paling spesial dan tidak boleh hilang. AMI Awards yang punya kami dari keroncong semua. Komitmen kami agar keroncong tetap terus ada dan tidak hilang," tuturnya.  

Strategi Agar Tak Redup

Meski menghadapi banyak kendala, Djaka tak berputus asa. Dia pantang membiarkan musik keroncong redup. "Setiap tahun harus ada minimal satu album keroncong. Itu harus," ucapnya.

Yang menjaga semangat Djaka terus menghidupkan keroncong datang dari sejumlah musisi senior seperti Waldjinah, Sundari Soekotjo, Mus Mulyadi hingga Tuti Maryati. Berkat mereka, Djaka merasa tak mengemban permintaan Gesang dulu sebagai beban.  

"Ibu Waldjinah di rumahnya menerima murid latihan anak-anak muda untuk belajar keroncong. Mbak Tuti juga sering anak-anak muda. Begitu juga Mbak Sundari. Pak Gesang sampai usia tuanya masih terus aktif di keroncong. Perjuangan senior-senior ini luar biasa," ucapnya.

Mempertahankan Identitas Indonesia lewat Keroncong

Djaka pun intens membahas regenerasi musisi keroncong dengan para senior. Salah satu strategi yang dibuat ialah membuat album kompilasi yang menampilkan musisi keroncong senior dengan musisi muda.

"Kami sudah sering bicara soal ini berkali-kali. Yang senior-senior ini mengangkat yang junior-junior. Wujudnya bisa album kompilasi. Jadi nanti mereka berduet dengan artis-artis muda. Sedang dikonsepkan," ungkapnya.  

Melibatkan generasi yang lebih muda memang diyakini Djaka sebagai cara ampuh meremajakan pendengar keroncong. Dia pun menyambut baik kehadiran musisi muda seperti Sruti Respati, Intan Soekotjo atau Lantun Orchestra yang mencoba jalur independen.



Mengawinkan keroncong dengan musik lain juga menjadi bagian strategi Djaka terus memperpanjang usia keroncong. Strategi itu misalnya dia wujudkan dalam bentuk kerjasama dengan Balawan, gitaris jazz kenamaan Tanah Air.

"Balawan itu istrinya kan penyanyi keroncong juga. Waktu itu dia kontak kami bilang mau bikin album keroncong. Tentu keroncong dengan interpretasi dia. Akhirnya kami kerjasama. Kami sengaja mengambil irisan musik lain. Supaya penggemar musik lain juga bisa masuk ke keroncong," katanya.  

Baca juga: Keroncong Campur Jazz, Idealisme dan Industri

Dengan cara itu, Djaka optimistis kiprah musik keroncong akan terus berjalan. Permintaan Gesang agar tidak membiarkan keroncong mati tentu bukan tugas Djaka dan para penikmat musik keroncong semata, tapi juga untuk kita semua. Sebuah tugas meneruskan 'warisan abadi' yang ditinggalkan Gesang.

Sekali ku hidup
Sekali kumati
Aku dibesarkan
Di bumi pertiwi

Akan kutinggalkan
Warisan abadi
Semasa hidupku
Sebelum aku mati

Lambaian tanganmu
Panggilan abadi
Semasa hidupku
Sebelum aku mati


(Gesang - Sebelum Aku Mati)



 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id