Joko Anwar di Playfest 2019 (Foto: Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)
Joko Anwar di Playfest 2019 (Foto: Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Cerita Joko Anwar Sebelum jadi Sutradara

Hiburan joko anwar
Dhaifurrakhman Abas • 26 Agustus 2019 08:51
Jakarta: Joko Anwar mungkin saat ini tenar sebagai seorang produser film yang sukses. Namun sebelum semua itu tercapai, ada perjuangan panjang yang dia lalui.
 
"Waktu itu pingin sekolah film. Tapi keluarga aku tidak bisa effort memasukan ke sekolah film," kata Joko dalam segmen Experience Ideas Silent Talk Playfest 2019 di Parkir Selatan, Gelora Bung Karno, Minggu 25 Agustus 2019.
 
Meski tak mendapat dukungan dari orang dekat, Joko tak patah semangat. Dia mencoba memulai karir dengan bergabung dalam komunitas film sambil berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Mechanical and Aerospace Engineering.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi masuk ITB ambil jurusan yang kedengaran paling keren. Mechanical and Aerospace Engineering. Temanku bilang itu nanti bikin pesawat di bandara pakai wearpack kayak film Top Gun. Tapi, ternyata, ya, boro-boro," kenang dia.
 
Karena merasa tak sesuai dengan jurusan tersebut, Joko kemudian memutuskan untuk segera menyelesaikan masa studinya. Setelah lulus, dia langsung beranjak ke tujuan awal, meraih cita di dunia perfilman.
 
"Lulus kuliah, aku lamar di PA (Production Assistant). Tidak ada karena tidak punya background seni dan perfilman," ujarnya.
 
Penolakan demi penolakan dia terima saat melamar kerja. Namun hal itu tak membuat Joko lantas berhenti meraih cita-citanya. Dia masih kekeuh dan optimistis bisa ikut ambil bagian di dunia perfilman.
 
Saat itu, ada satu pekerjaan yang terlintas di benak Joko agar bisa bersentuhan langsung dengan tokoh-tokoh di dunia perfilman nasional. Pekerjaan yang dimaksud adalah menjadi seorang jurnalis.
 
"Lulus kuliah, aku masuk the Jakarta Post dan ingin menulis desk soal film. Tapi pas di jurnalis tidak bisa pilih desk. Aku awalnya di militer, lalu desk metro. Setiap hari harus ke Polda Metro Jaya buat nanya pak polisi, hari ini siapa yang dirampok," beber Joko diikuti tawa penonton.
 
Joko lantas memberanikan diri berbicara dengan salah satu pimpinan redaksi agar diberikan desk menulis film. Setelah izin dia dapatkan, Joko mulai menulis di kolom terkait kritik terhadap film yang saat itu ditayangkan.
 
"Aku pikir, dengan begitu, akan semakin dekat dengan para tokoh. Ternyata malah dibenci karena film mereka dikritik," beber dia.
 
Singkat cerita, Joko kemudian mencoba menggarap sebuah film pendek bersama rekan-rekannya. Film itu kemudian meraih penghargaan dalam festival di salah satu stasiun televisi nasional. Dari pengalaman itu, karir Joko di dunia perfilman dimulai.
 
"Akhirnya aku dan film maker bikin film pendek bersama teman dan masuk dalam festival film independent SCTV dan dapat juara dua. Dari situ ditolong oleh beberpa yang sangat membantu," tandasnya.
 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif