Poster film Pelangi di Mars
Poster film Pelangi di Mars

Sutradara Pelangi di Mars Jawab Kritik Pedas Penonton

Agustinus Shindu Alpito • 22 Maret 2026 20:35
Ringkasnya gini..
  • Film Pelangi di Mars dikritik soal AI dan alur cerita yang dinilai lemah.
  • Sutradara Upie Guava bantah, sebut film tetap berbasis emosi manusia.
  • Ia nilai kritik wajar dan jadi bagian penting diskusi industri film Indonesia.
Jakarta: Film animasi Pelangi di Mars kini resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen Lebaran.
 
Namun alih-alih mendapat sambutan penuh pujian, film ini justru langsung menuai kritik tajam dari publik, terutama terkait tudingan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan kekuatan alur cerita.
 
Sejumlah penonton menilai film ini terlalu mengandalkan teknologi, sementara narasinya dianggap belum cukup kuat. Kritik tersebut memicu respons dari sutradara, Upie Guava.

Menanggapi isu AI, Upie membantah anggapan bahwa film ini “dibuat oleh mesin”.
 
“Kami percaya bahwa film tidak akan pernah bisa dibuat sepenuhnya oleh AI. Karena pada akhirnya, film adalah tentang ‘rasa’ manusia, emosi, empati, dan pengalaman hidup, yang tidak bisa digantikan oleh teknologi," tulis Upie melalui akun Instagram pribadinya @upieguava.
 
Ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu dalam proses produksi, bukan pengganti kreativitas manusia.
 


 
“Perlu juga dipahami bahwa AI saat ini hadir dalam berbagai bentuk di hampir semua perangkat teknologi yang kita gunakan, termasuk dalam proses inovasi di industri kreatif.”
 
Dari sisi produksi, Pelangi di Mars merupakan proyek ambisius yang dikembangkan sejak 2020 dan melibatkan ratusan kreator Indonesia. Film ini menggabungkan teknologi XR (extended reality), motion capture, Unreal Engine, hingga pendekatan hybrid antara live-action dan animasi.
 
Meski demikian, kritik juga datang dari sisi cerita yang dinilai kurang matang. Menanggapi hal ini, Upie menilai perbedaan pandangan sebagai sesuatu yang wajar.
 
“Kami mengapresiasi setiap kritik dan masukan yang diberikan kepada film ini. Namun kami juga meyakini bahwa sebuah karya tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang.”
 
“Perbedaan perspektif adalah hal yang wajar, dan justru memperkaya diskusi dalam industri film kita.”
 
Film ini sendiri mengusung genre fiksi ilmiah keluarga, berkisah tentang petualangan anak bernama Pelangi di planet Mars, dengan tema besar hubungan keluarga, persahabatan, dan imajinasi masa depan.
 
Bagi Upie, Pelangi di Mars bukan sekadar film, melainkan bagian dari eksperimen kreatif yang lebih besar.
 
“Film ini bukan hanya hasil akhir, tetapi juga sebuah proses pembelajaran, pembongkaran batas, dan pencarian kemungkinan baru.”
 
Ia juga menegaskan bahwa nilai sebuah film tidak hanya diukur dari hasil akhirnya, tetapi dari dampaknya bagi industri.
 
“Nilai sebuah karya tidak hanya diukur dari bentuk akhirnya, melainkan dari dampaknya—dari perubahan yang ditanamkannya dan dari kontribusinya bagi pertumbuhan ekosistem perfilman Indonesia.”
 
Kontroversi yang mengiringi Pelangi di Mars menunjukkan satu hal: film ini mungkin belum sempurna, tetapi berhasil memantik perdebatan besar—terutama soal batas antara teknologi dan sentuhan manusia dalam industri film.
 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA