Kegiatan yang menjadi bagian dari agenda rutin ini diawali dengan doa bersama untuk para korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang hampir sebagian besar korbannya adalah perempuan.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Yenny Narny, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Hasril Chaniago, penulis buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Ruhana Kuddus: Tokoh Perempuan yang Mendahului Zaman, serta Pemimpin Umum Project Multatuli, Evi Mariani.
Diskusi dimoderatori oleh Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Lisda Hendrajoni, dengan pengantar dari Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Hadir pula Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Hermawi Taslim.
Kegiatan diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kartini dengan tujuan menyelami nilai-nilai perjuangan dan tekad perempuan melalui sosok Roehana Koeddoes. Panitia berharap diskusi dapat mendorong semangat perempuan yang berdaya dan merdeka.
Evi Mariani menilai, sosok Roehana sebagai figur yang menginspirasi. Ia menyoroti bagaimana Roehana tetap berkomitmen berbagi pengetahuan meski menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
“Menarik sekali. Akses pendidikan perempuan saat itu sulit, tetapi dengan privilege yang dia punya, Roehana tidak lupa membagi. Semangat mengajarnya tinggi. Bahkan ketika menghadapi fitnah dan harus keluar dari lembaga yang dibangun, dia kembali mendirikan yang baru,” ujar Evi, usai kegiatan.
Baca Juga :
5 Fakta Roehana Koeddoes, Wartawati Pertama Hingga Diberi Gelar Pahlawan Nasional di Era Jokowi
Evi juga menilai, Roehana memiliki semangat kewirausahaan sosial yang kuat.
“Dia bisa menghasilkan pendapatan besar sebagai perempuan di masa itu. Menjadi agen mesin jahit mungkin terdengar sederhana, tapi itu menunjukkan kemandirian dan kemampuan mengajak orang lain untuk berkembang bersama,” katanya.
Menurut dia, Roehana bukan hanya seorang jurnalis, tetapi juga guru dan entrepreneur yang berupaya menerangi banyak orang melalui karya dan tindakannya.
“Dia memastikan ‘cahaya’ itu benar-benar menerangi banyak orang,” kata Evi.
Roehana Koeddoes, lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia dikenal sebagai wartawati pertama di Indonesia.
Ia mendirikan sekolah khusus perempuan pada 1911 dengan berbagai program, mulai dari literasi bahasa Arab hingga pendidikan moral.
Selain itu, Roehana juga berperan sebagai pelopor surat kabar perempuan Soenting Melajoe. Sepanjang kariernya, ia aktif menulis artikel yang mendorong perempuan memperjuangkan kesetaraan serta melawan kolonialisme Belanda.
Atas jasa-jasanya, Roehana Koeddoes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2019.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News