Namun, ia masih mempertimbangkan apakah langkah itu sepadan dan tidak ingin justru memberikan promosi gratis kepada Primetime.
Film thriller yang disutradarai Lance Oppenheim bersama studio A24 itu mengangkat kisah Hansen saat menjadi pembawa acara To Catch a Predator. Sosoknya pun diperankan oleh Robert Pattinson.
Pertimbangkan Langkah Hukum
Hansen mengungkapkan hal tersebut saat menjadi bintang tamu The Dan Abrams Show di SiriusXM baru-baru ini. Ia mengatakan seorang ahli hukum hiburan yang sangat berpengalaman telah menyarankan dirinya untuk mempertimbangkan opsi tersebut.“Ada seseorang yang sangat ahli dalam hal ini dan sudah lama berkecimpung di bidang hukum hiburan. Dia bilang, ‘Kamu bisa melakukan itu dan kemungkinan punya dasar kasus yang cukup kuat. Tapi, berapa banyak waktu yang ingin kamu habiskan untuk mengurusnya?’” ujar Hansen.
Pria kelahiran 1959 itu juga khawatir jika terlalu keras memprotes film tersebut, kontroversi yang muncul justru akan dimanfaatkan sebagai bagian dari promosi.
“Pemikirannya begini, kalau saya terlalu keras memprotes, apakah mereka malah akan menjadikannya promosi dengan mengatakan, ‘Ini film yang tidak ingin Chris Hansen kalian tonton’? Padahal kenyataannya, ini film yang bahkan belum pernah saya tonton. Jadi, memang sulit untuk menentukan sikap,” lanjutnya.
Hansen sempat mempermasalahkan penggunaan namanya, termasuk nama rekan kerja dan anggota keluarganya, dalam film yang menurutnya merupakan karya fiksi.
“Buat saya, ini terasa sangat eksploitatif. Rasanya juga seperti dilakukan secara diam-diam dan tidak jujur. Mereka melakukan semua ini tanpa pernah mengatakan, ‘Inilah yang sedang kami buat,’” kata Hansen.
Sempat Gagal Menonton Film
Persoalan antara Hansen dan pihak Primetime sebelumnya juga mencuat setelah ia membeli ruang iklan di sekitar lokasi pemutaran film. Iklan tersebut digunakan untuk mempromosikan TruBlu, layanan streaming true crime miliknya yang juga menayangkan investigasi terkait predator seksual.Hansen sempat mengatakan akan menonton Primetime setelah mendapat undangan dari tim produksi untuk menghadiri pemutaran khusus. Namun, rencana tersebut batal setelah ia mengaku diminta menandatangani perjanjian yang sangat ketat.
Dalam wawancara dengan Fox News, Hansen mengatakan perjanjian tersebut membuatnya merasa seolah harus menyerahkan hak atas nama, citra, dan mereknya, termasuk kemungkinan hak hukum yang berkaitan dengan film tersebut.
Ia menolak menandatangani dokumen tersebut sehingga tidak diperbolehkan menghadiri pemutaran film.
Namun, dokumen yang dimaksud disebut sebagai non-disclosure agreement (NDA) yang memang biasa diberikan kepada penonton pemutaran awal film yang belum dirilis untuk mencegah spoiler dan melindungi kekayaan intelektual.
Komentari Akting Robert Pattinson
Terlepas dari persoalan hukum, mantan jurnalis itu juga telah memberikan tanggapannya mengenai penampilan Pattinson sebagai dirinya dalam Primetime. Ia menilai aktor tersebut cukup berhasil menirukan gaya dan pembawaannya, meski menurutnya penggambaran dalam film dibuat lebih dramatis.Meski demikian, ia menegaskan ada sejumlah bagian dalam film yang tidak sesuai dengan dirinya. Ia mengatakan karakter yang diperankan Pattinson melakukan dan mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan atau ucapkan.
“Dia mengatakan hal-hal yang tidak pernah saya katakan dan melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan. Itu bukan diri saya. Saya orang yang baik, kecuali kalau berhadapan dengan penjahat dan predator,” ujarnya.
“Saya rasa orang-orang harus ingat bahwa ini adalah karya fiksi yang hanya terinspirasi dari kejadian nyata,” tambah Hansen.
Primetime dijadwalkan tayang di bioskop pada 25 September mendatang. Film ini mengikuti kisah Chris Hansen versi Pattinson ketika berusaha membuat sejarah televisi melalui program NBC To Catch a Predator yang tayang pada 2004 hingga 2007.
Program ini menggunakan kamera tersembunyi untuk mengungkap pria dewasa yang berniat melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur setelah berkenalan lewat internet.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)