Jakarta: Komika Boris Bokir mengenang kenakalan masa kecilnya yang pernah bolos les meski biaya belajarnya sudah dibayarkan orang tua. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa perilaku anak tidak selalu bisa dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Boris menceritakan pengalaman itu saat membahas film terbarunya, Yang Disebut Nakal. Menurut dia, anak yang mendapat cap nakal belum tentu sepenuhnya mencerminkan kepribadian dan alasan di balik perilakunya.
“Nakalnya dulu paling saya ini, udah dibayarin les tapi enggak datang ke tempat les,” kata Boris Bokir di Jakarta.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perilaku anak perlu dipahami lebih jauh sebelum orang tua memberikan penilaian. Di balik tindakan yang dianggap menyebalkan, bisa jadi ada alasan atau kebutuhan yang belum tersampaikan.
Pesan itu sejalan dengan cerita Yang Disebut Nakal, yang mengangkat kehidupan anak-anak dengan berbagai persoalan perilaku dan hubungan keluarga.
Dalam film garapan sutradara Benni Setiawan tersebut, Boris memerankan Goklas Panjaitan, salah satu pelatih di sebuah kamp pendidikan bagi anak-anak yang dianggap nakal.
Di tempat pembinaan yang terpencil, anak-anak menghadapi berbagai tantangan untuk belajar memahami diri sendiri, membangun empati, serta memperbaiki komunikasi dengan keluarga dan orang-orang di sekitar mereka.
Goklas menjalankan tugasnya bersama Yayat yang diperankan Aming dan Pak Surya yang dimainkan Donny Damara. Ketiganya membimbing para peserta agar mampu mengenali perilaku mereka sekaligus memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
Untuk mendalami karakter sebagai pembina, Boris bersama para pemain lainnya mendapat pendampingan dari mentor profesional yang berpengalaman dalam pelatihan dan pembinaan perilaku.
Pendampingan tersebut membantu para pemain memahami metode, batasan, dan proses pembinaan yang menjadi bagian dari cerita. Dengan begitu, dinamika hubungan antara pembina dan anak-anak di dalam film dapat digambarkan secara lebih tepat.
Produser DLK Pictures, Diana Limbong, mengatakan hubungan orang tua dan anak menjadi salah satu alasan cerita film ini diharapkan dekat dengan kehidupan penonton.
“Kami ingin film ini membuka ruang percakapan tentang hubungan orang tua dan anak. Terkadang, perhatian diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda, tetapi yang dibutuhkan anak mungkin sederhana, yaitu merasa didengar dan dipahami,” ujar Diana.
Eksekutif produser INHYPE Pictures, Ryan Prasetyo, menilai tema yang diangkat film ini berkaitan erat dengan persoalan yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi. Kami ingin Yang Disebut Nakal menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” ujar Ryan.
Sementara itu, Benni Setiawan berupaya menjaga keseimbangan antara komedi dan emosi dalam mengarahkan film tersebut. Setiap karakter digambarkan sebagai individu yang memiliki persoalan dan cara masing-masing dalam menghadapi kehidupan, bukan sekadar sosok baik atau buruk.
“Saya ingin penonton mengenal karakter-karakter ini melalui keseharian mereka. Ada hal yang lucu, ada yang menyebalkan, ada juga yang menyentuh. Justru dari hal-hal kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Benni.
Selain menggabungkan humor dan persoalan keluarga, Yang Disebut Nakal menghadirkan kamp pembinaan di tengah alam sebagai latar utama cerita. Lingkungan tersebut menjadi ruang bagi para karakter untuk menghadapi benturan ego, menjalani proses pendewasaan, dan membangun pemahaman baru tentang diri sendiri maupun orang lain.
Film ini juga menghadirkan pemain lintas generasi. Selain Donny Damara, Boris Bokir, dan Aming, jajaran pemainnya mencakup El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan