Seluloid dibuat dari berbagai bahan kimia sehingga dalam penyimpanannya dibutuhkan cara khusus. Hal ini dilakukan untuk mencegah pita seluloid rusak, seperti lengket, berjamur, dan lapisan permukaan yang mengelupas. Di Indonesia, pengarsipan film dilakukan oleh Sinematek Indonesia, sebuah lembaga swasta non-profit yang berdiri dibawah Yayasan PPHUI (Pusat Perfilman H. Usmar Ismail). Lembaga ini kemudian merawat semua film yang pernah tayang di Indonesia, termasuk film dokumenter, film fiksi, hingga film pendek. Sejauh ini Sinematek Indonesia memiliki 1.000 lebih arsip film dalam bentuk pita seluloid.
“Ada standar-nya (perawatan film). Kita masih pakai cara tradisional, jika kita mengikuti standar perawatan film di Prancis atau di Belanda, kita butuh support alat yang membutuhkan biaya besar dan kita tidak bisa. Jadi lebih ke tradisional,” ujar Adisurya Abdy, Ketua Sinematek Indonesia.
Menurut Adisurya, persoalan yang dihadapi Sinematek Indonesia kini adalah soal biaya perawatan film. Karena Sinematek Indonesia bersifat independen, lembaga ini harus membiayai diri sendiri dalam melakukan operasionalnya. “Anggarannya 25-30 juta per-bulan dengan pegawai 16 orang. Bisa dibayangkan? Tidak mungkin cukup. Bagaimana itu bisa berjalan? Kita menerima bantuan perawatan film dari pemilik film, dari pemerintah yang tidak tetap, dan dari pihak2 lain yang memiliki apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan intelektual dari perfilman Indonesia. Sinematek bukan usaha nirlaba. Dia tidak boleh menyewakan dan tidak boleh menjual. Dia hanya boleh menerima donasi. Itulah hidupnya sinematek,” papar Adisurya.
Secara matematis Untuk membersihkan satu judul film yang tediri dari beberapa gulungan pita seluloid setidaknya dibutuhkan cairan pembersih yang harganya diatas Rp.50 ribu. Idealnya film dibersihkan setiap bulan. Sedangkan Sinematek Indonesia memiliki koleksi 1.000 lebih judul film dengan materi pita seluloid. Artinya dibutuhkan lebih dari Rp50 juta untuk merawat film seluloid, sedangkan anggaran tetap yang dimiliki Sinematek Indonesia berkisar Rp30 juta per-bulan termasuk untuk menggaji 16 orang karyawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News