Butuh waktu panjang bagi perjalanan sinema di Indonesia untuk bisa meloloskan para pemerannya ke jenjang yang lebih tinggi, industri film Hollywood, yang dikenal ketat persaingannya.
Baru-baru ini, Ray Sahetapy terlibat dalam film "Captain America: Civil War." Sebelumnya, Joe Taslim juga pernah menunjukkan aksi laga dalam film "Fast and Furious 6."
Lantas apakah memang kualitas aktor dan aktris kita secara keseluruhan memang naik kelas?
"Yang bisa disebut aktor dan aktris bisa dihitung tangan, karena enggak semua punya basic matang. Banyak bintang film, sedikit yang benar-benar aktor. Boleh dia dibilang bintang film dan terkenal, tetapi belum tentu bisa memerankan watak dan karakter apa saja," kata Erna Santoso, aktris senior yang juga ibunda Ardina Rasti, di Jakarta, Senin (28/4/2015).
Erna yang sudah aktif di perfilman sejak 1977, merasa banyak aktor dan aktris muda yang masuk ke industri hanya berbekal fisik rupawan, tetapi tidak diimbangi kualitas akting yang baik.
"Kalau melihat saat ini mungkin harus banyak belajar, karena yang ada sekarang hanya bermodal cakep-cakep. Makanya, saya kalau nonton sinetron, malas. Apalagi, yang kejar tayang," papar bintang film "Cinta Abadi" (1976).
Erna mengkritisi kemampuan akting aktor dan aktris sinetron, yang menurut dia, masih terlalu dangkal.
"Kelihatan kalau cuma menghafal. Akting nangis itu beda yang sekadar menangis atau keluar dari dalam. Begitu juga akting marah-marah, enggak perlu teriak, dari ekspresi sudah kelihatan," jelas Erna.
Artis yang baru saja mendapat nominasi Peran Pembantu Wanita Terbaik dalam ajang St Tropez International Film Festival melalui film "From Seoul to Jakarta," ini mengamati, di antara pemain muda ada beberapa yang sudah matang kualitas aktingnya.
"Baim (Wong) bagus. Lalu, Reza Rahadian bagus, karena dia mau belajar. Dia juga mampu memerankan karakter yang berbeda-beda," tegas Erna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News